Dongeng tentang Kesaktian Literasi

Aktivitas Literasi begitu merebak di Indonesia akhir-akhir ini. Berbagai komunitas literasi tumbuh baik bercorak mandiri ataupun menjadi bagian dan didukung pemerintah; baik itu dalam skala lokal, nasional atau bahkan internasional seperti Goodreads. Bahkan ada sebuah komunitas literasi yang  beraktivitas di taman-taman publik di Bandung dianggap liar dan dibubarkan dengan kekerasan oleh Aparat karena bergerak di malam hari.

Semua ini menunjukkan betapa gairah literasi di tengah keluhan:  kecilnya minat baca, mahalnya buku  dan gempuran budaya visual justru tidak surut dan makin menemukan pahlawan-pahlawannya yang terus tumbuh. Semua ini tentu menggembirakan dan bila dikelola dengan baik bersinergi dengan pemerintah bisa jadi aktivitas literasi Indonesia akan menjadi kekuatan yang besar dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Aktivitas literasi sejatinya tumbuh bersama dengan gerakan menuntut kemerdekaan: aksi-aksi, vergadering sampai diplomasi dan perjuangan bersenjata.  Munculnya selebaran, koran, penerbitan, studi club hingga wadah pendidikan rakyat  di masa kolonial dikelola oleh kaum pergerakan untuk menjadi bagian yang menguatkan dan meluaskan gagasan pentingnya kemerdekaan nasional. Di sini, Raden Ajeng Kartini turut serta dengan membangun wadah pendidikan untuk kaum perempuan.  Hindia Belanda bukanlah Tanah Air Beta tapi Indonesia.

Dalam kerangka ini, aktivitas literasi tak perlu menunggu ijin dari penguasa kolonial. Pejuang literasi bergerak secara mandiri dan mengorganisasikan rakyat agar terus menjadi bagian dari pergerakan kemerdekaan. Akibatnya penguasa kolonial mulai kewalahan dan membangun wadah literasi tandingan yaitu balai pustaka. Di luar Balai Pustaka,  dituduh sebagai “Bacaan Liar” yang mengesankan urakan dan tak terpelajar. Semakin lama gerakan literasi melawan kolonialisme perlu membangun wadah yang lebih terorganisasikan, berskala nasional dan sistematis. Karena itu  Pendidikan Taman Siswa yang didirikan pejuang kawakan Suwardi Suryaningrat di Yogyakarta didukung dengan bersemangat oleh kaum pergerakan. “Mereka berkumpul untuk menjadikan Tamansiswa sebagai ‘Negara Merdeka’ dalam ‘Negara Kolonial’ ” Begitulah kesaksian  Moch Tauchid, salah satu pemimpin Taman Siswa, dalam esainya: Renungan Taman Siswa, dalam buku Taman Siswa 30 Tahun, 1922 – 1952.   Karena Taman Siswa membangun dan menjalankan sendiri  filsafat pendidikannya, oleh pemerintah kolonialpun dianggap sebagai sekolah liar. Tak urung Taman Siswa pun melakukan perlawanan terhadap aturan pemerintah mengenai sekolah liar yang juga didukung luas kaum pergerakan.

Kita lihat, di sini aktivitas literasi  menjadi gerakan  nasional mencerdaskan bangsa. Dalam hal tertentu,  dapat menjadi tulang punggung gerakan yang dapat menyatukan berbagai kelompok pergerakan untuk melawan penjajahan sebagaimana dalam kasus menghadapi peraturan pemerintah mengenai sekolah liar. Padahal kita mengerti jumlah pejuang literasi sebelum proklamasi kemerdekaan tentu tak sebanyak sekarang. Sebagai gambaran, sebelum kemerdekaan hanya ada 4 buah sekolah tinggi dengan mahasiswa kurang lebih 1246.

Saat ini seiring dengan kemajuan jaman terutama dalam teknologi informasi dan transportasi,   gerakan literasi Indonesia mempunyai peluang lebih besar untuk tak sekadar mencerdaskan kehidupan bangsa tapi juga menjadi tulang punggung gerakan kebudayaan nasional dalam arti lain membangun gerakan revolusi mental. Watak kegiatannya yang murah, dengan kumpulan orang yang bisa menyesuaikan, sehingga bisa menjangkau desa-desa terjauh dan terpencil atau juga lorong-lorong sempit kota,  aktivitas literasi yang tenang namun di bawah bimbingan organisasi yang mumpuni bisa menggeliat dan menggelorakan jiwa sehingga menjadi alat yang sakti untuk menggerakkan ke kemajuan di segala bidang kehidupan: politik, ekonomi dan kebudayaan sebagaimana putaran senjata Cakra Wisnu meremukkan angkara murka.

Ini mungkin tampak seperti dongeng kesaktian literasi yang bisa dipercaya bisa juga tidak.  Tetapi begitulah:  awal pengenalan aksara  di Jawa yang memungkinkan dunia pengetahuan terbuka luas pun  membutuhkan korban dua orang yang setia pada amanah guru. Itulah cerita rakyat yang mengiringi kehadiran aksara Jawa pada abad ke-1 M dengan datangnya Sang Guru Aji Saka.

Lalu, senjata paling sakti dalam pertempuran Baratayudha Mpu Sedah dan Panuluh untuk kemenangan Pandawa pun berwujud Pustaka yaitu Pustaka Akalima Asada yang di tangan Sunan Kalijaga menjadi alat yang sakti dalam berdakwah  dengan menamakan Serat Jamus Kalimasada yang diasosiasikan pada Kalimat Syahadat.

Kita pun mendengar betapa pentingnya literasi sebab ada yang berkata: “Padamulanya adalah kata…” Karena itu ayo, jangan tinggalkan gerakan literasi tetapi perkuatlah sebab kita juga mendengar wahyu pertama yang turun dari Allah kepada Muhammad: “Bacalah!”

AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut