Diskusi Setahun SBY-Budiono di PP Muhammadiyah

JAKARTA: sejumlah tokoh nasional dan aktivis pergerakan rakyat melakukan pertemuan dan diskusi di kantor PP Muhammadiyah untuk membahas perkembangan setahun pemerintahan SBY-Budiono dan persoalan nasional saat ini.

Diskusi menghadirkan dua pembicara tokoh, yaitu mantan menko perekonomian Rizal Ramli dan rohaniawan Franz Magnis Suseno, serta sejumlah pemimpin organisasi pergerakan mahasiswa seperti GMNI, IMM, dan PMKRI.

Rizal Ramli menjelaskan kesan paranoid pemerintahan SBY ketika merespon berbagai persoalan bangsa. “Presiden Yudhoyono ini seperti takut dengan bayang-bayangnya sendiri. Padahal Rakyat Indonesia hanya ingin perubahan,” katanya.

Rizal lalu menjelaskan ketertinggalan Indonesia dibanding negara-negara tetangga dalam persoalan perekonomian. Dia mencontohkan, Malaysia yang lebih lambat 15 tahun dari kita dalam membangun jalan tol, kini mereka punya 6 ribu kilometer. “Indonesia? Saat ini baru 600 kilometer,” katanya.

Rizal menegaskan salah satu penyebab semua ini adalah kemampuan pejabat sekarang ini kebanyakan “mediocre” dan suka menjilat.

“Hanya orang yang ahli menjilatlah lah yang dapat bertahan dan bersaing dalam sistem seperti ini,” ujar doktor luluasan Boston University ini.

Disamping itu, Rizal juga mengarahkan kritiknya pada persoalan demokrasi di Indonesia yang, menurut dia, sudah dibajak asing. Dia menganggap demokrasi yang dipraktekkan di Indonesia adalah demokrasi kriminal, yaitu tipe demokrasi yang melahirkan pemimpin kriminal dan doyan menindas rakyatnya.

Rizal pun mengajukan gagasan, bahwa partai politik semestinya dibiayai oleh negara, agar dapat meminimalisir peran capital dan bisnis dalam kehidupan politik, sehingga bisa melahirkan tipe pemimpin yang idealis.

Sementara itu, Rohaniawan Franz Magnis Suseno yang didaulat menjadi pembicara kedua, lansung menghunjamkan kritiknya pada persoalan kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Romo Magnis Suseno menganggap praktik KKN sekarang ini lebih gawat dibandingkan dengan era Soeharto, namun ia merasa ngeri dengan ucapan orang-orang yang rindu kembali ke jaman Soeharto.

“Korupsi itu akhirnya mengkorupsi mental kita semua. Jika sudah tidak ada lagi kepemimpinan yang jujur, bagaimana bangsa kita bisa maju?” tanya Romo Magnis kepada seluruh peserta diskusi.

Pembicara dari gerakan mahasiswa, yaitu Ton Abdillah, yang juga merupakan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menegaskan kesimpulannya soal diskusi ini, bahwa alasan untuk penggulingan SBY-Boediono sudah lebih dari cukup.

“Semua kebobrokan rezim telanjang di depan mata. Mulai dari kecurangan Pemilu, korupsi IT (Informasi dan Teknologi) KPU, persoalan DPT (Daftar Pemilih Tetap), Centurygate. Itu semua menjadi alasan moral,” ungkapnya.

Kericuhan Bersifat Provokasi

Sayangnya, acara pertemuan tokoh dan aktivis ini sempat terinterupsi oleh kegaduhan yang tidak perlu. Mutiara Ika Pratiwi, dari Pusat Perjuangan Mahasiswa Untuk Pembebasan Nasional, tiba-tiba merampas microphone dari pembicara dan langsung berorasi menuntut seorang pembicara keluar dari ruangan.

Ika dan kawan-kawannya menganggap Rizal Ramli sebagai bagian dari elit politik, sehingga tidak pantas diberi kesempatan hadir dalam pertemuan.

“Kami hanya menyampaikan pesan. Rakyat sudah tidak percaya dengan elit. Rizal Ramli dan semuanya itu adalah antek-antek elit yang seharusnya tidak diangkat menjadi pemimpin di sini,” ujarnya.

Namun, tudingan itu segera dibantah oleh Ton Abdillah, ketua IMM dan sekaligus tuan tumah pertemuan ini, bahwa pihaknya menginginkan persatuan luas seluruh kalangan progressif untuk menyelamatkan Indonesia dari kehancuran, termasuk dengan ekonom progressif seperti Rizal Ramli.

Ton juga menegaskan bahwa tokoh-tokoh senior yang datang diundang hanya untuk mengisi panggung diskusi, bukan untuk memimpin gerakan. Sebagian peserta diskusi menuding kericuhan ini sebagai bagian dari aksi penyusupan dari kelompok yang kontra dengan rencana persatuan oposisi.

“Anasir bahwa gerakan disusupi itu mungkin saja. Dan ini menjadi pelajaran agar cara kita berkomunikasi antar organ gerakan harus disampaikan dengan baik. Tidak harus menimbulkakan opini bahwa terjadi perpecahan,” lanjutnya.

Senada dengan Ton, Guzma, Ketua Umum PMKRI, berkomentar, “Bagi PMKRI yang layak memimpin perjuangan adalah orang-orang yang berfikiran maju dan progressif, bukan soal umur atau elit dan bukan elit. ”

Panitia kemudian mengeluarkan paksa segelintir aktivis ini keluar ruangan. Namun, ketika mereka sudah di luar ruangan, mereka menggelar poster layaknya melakukan demonstrasi.

Meskipun sempat ricuh dan diserang secara tidak ilmiah oleh segelintir orang, Rizal Ramli menganggap hal itu sebagai persoalan biasa. “Itu biasa. Sama seperti zaman saya mahasiswa dulu, Penyusupan seperti itu kan biasa. Dulu juga waktu Orde Baru begitu,” ujar mantan aktivis 78 yang pernah dipenjara dua tahun oleh rejim Soeharto ini. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut