Dicari Sosok Negarawan..

Sejak satu dekade terakhir, orang Indonesia semakin menyadari bahwa negaranya sedang mengalami keterpurukan luar biasa. Salah satu penyebab keterpurukan itu adalah lemahnya kemimpinan nasional.

Sebagian orang berpendapat, lemahnya kepemimpinan nasional membuat bangsa kita terjebak pada problem internal; debat kusir berkepanjangan pada hal-hal sepele atau perbedaan kepentingan jangka pendek.

Lihatlah Presiden sibuk bersolek untuk pencitraan pribadinya. Sementara para menteri, yang sebagian besar berasal dari parpol, sangat sibuk mengubah program kementerian agar sejalan dengan kepentingan parpolnya. Belum lagi perilaku koruptif yang menggejala dan mewabah di hampir semua lorong birokrasi kita.

Banyak orang lalu menyimpulkan—seperti banyak menjadi ulasan diskusi dan artikel di berbagai media massa, bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami krisis negarawan. Di sini, negarawan telah dibedakan dengan pejabat pemerintah atau pemimpin politik. Tidak semua orang yang bekas pejabat pemerintah (Presiden, Wapres & Menteri) atau pemimpin partai politik bisa disebut sebagai negarawan.

Ahmad Syafii Maarif, dalam sebuah artikel di Gatra Nomor 26 Beredar Kamis, 7 Mei 2009, Indonesia Memerlukan Negarawan, mendefenisikan negarawan sebagai ‘sosok pemimpin yang bersedia larut untuk membela kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan, berhadapan dengan kepentingan-kepentingan lain yang lebih kecil’.

Lalu, ada pula yang menyebut defenisi negarawan sebagai individu yang berpikir tentang manifestasi generasi ke depan, bukan pemilihan umum ke depan.

Dari sekian banyak defenisi mengenai negarawan, tetapi hampir semua pemikir ataupun pendefenisi sepakat bahwa para pemimpin Republik Pertama, seperti Soekarno, Hatta, Amir Sjarifuddin, Hatta, dan Sjahrir, adalah negarawan. Para pemimpin itu bukan saja rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, tetapi juga mencurahkan segala fikirannya untuk kemajuan bangsa.

Kita akan menemukan gagasan para pemimpin, yang terkadang-kadang berbeda pendapat dan berselisih faham, tetapi tidak pernah mengorbankan kepentingan bangsa yang sangat besar. Tingkah dan laku mereka pun layak dipuji: hidup sederhana seperti rakyat kebanyakan dan tidak menggunakan kekuasaan selain untuk kepentingan rakyat banyak.

Tetapi apa boleh buat, jaman sudah berubah. Sosok negarawan seperti sudah sulit ditemukan di saat sekarang. Para pejabat pemerintah sibuk menggunakan kekuasaannya untuk memperluas cakupan bisnis dan kekayaan pribadinya. Sedangkan para pemimpin politik sibuk memikirkan pemilihan dan kelangsungan kekuasannya. Sementara partai politik tidak bisa menjadi sekolah kader untuk melahirkan pemimpin politik berkualitas.

Ada orang yang menyimpulkan: “Indonesia surplus politisi, tapi defisit negarawan”. Merespon krisis kepemimpinan ini, ada sebagian orang dan politisi yang berusaha menengok ke jaman Orde Baru. Menurut mereka, kepemimpinan jaman orde baru jauh lebih karena sangat tegas dan kuat.

Ide-ide agar lembaga parlemen dinihilkan kekuasaannya, lalu lembaga eksekutif diperkuat, pun bermunculan. Ide ini banyak dilontarkan oleh eksponen orde baru dan sebagian kelompok tentara.

Kami sepakat bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis kepemimpinan nasional; kita butuh sebuah pemimpin nasional yang sanggup membawa bangsa ini lebih berdaulat dan bermartabat. Tetapi, untuk mencari pemimpin semacam itu, adalah tidak tepat jika mengacu kepada orde baru sebagai contoh. Juga tidak tepat untuk mengembalikan pola kemimpinan orde baru yang otoriter dan sentralistik.

Setiap jaman akan melahirkan pemimpinnya sendiri. Tidak terkecuali di jaman sekarang ini. Masih banyak orang-orang Indonesia yang punya dedikasi dan rela berkorban demi bangsa dan negaranya. Sekalipun orang-orang semacam itu sangat sulit untuk ditemukan.

Sebagai missal: ada beberapa pemimpin politik di tingkat lokal yang sanggup melakukan gebrakan dan melahirkan kebijakan pro-rakyat. ada juga pemimpin-pemimpin dari akar rumput, yakni para pemimpin pergerakan yang secara organik masih menjadi bagian gerakan rakyat (bukan bekas aktivis yang terpisah secara organic dengan gerakan dan menjadi pengikut kekuasaan saat ini).

Selain itu, sudah saatnya Parpol dikembalikan ke asal-muasalnya dalam sejarah republik; sebagai alat perjuangan dan sekolah kader. Kita berharap bahwa partai politik bisa mencetak kader dan calon pemimpin di masa depan. Hal itu hanya bisa dimungkinkan jika sistem kepartaian dirombak dan organisasi politik dibiarkan tumbuh subur.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut