Demonstrasi Mengecam Kedatangan SBY Di NTT Kembali Ricuh

Meski aksi menentang kunjungan SBY sempat direpresi kemarin (8/2), seratusan massa Front Rakyat Anti-Imperialisme Neoliberal (FRAIN) kembali menggelar aksinya hari ini. Aksi ini dilakukan di tengah-tengah bayangan represi dan intimidasi, tetapi massa terlihat tetap bersemangat dan militan.

Aksi ini dimulai di depan Universitas Undana Lama Kupang, lalu bergerak menuju kantor Gubernur NTT, tempat SBY sedang berada. Sejumlah pimpinan dan perwakilan organisasi dalam FRAIN menyampaikan orasi politik secara bergantian.

Kelompok massa lain yang juga turut menggelar aksi, yaitu Aliansi Masyarakat Peduli Demokrasi dan Kesejahteraan, berupaya mendekat dan bergabung dengan massa FRAN tetapi dihalangi oleh pihak kepolisian.

Sekitar pukul 10.00 WIT, di depan pasar Naikoten, massa kembali berhenti dan menyampaikan orasi politik. Di tengah-tengah masyarakat luas, Ketua PRD NTT James Foat menyampaikan orasi yang mengecam pemerintahan SBY sebagai rejim pengobral sumber daya alam dan pembawa malapetaka bagi rakyat.

Uniknya, jika kemarin anak-anak SD dimobilisasi oleh penguasa setempat untuk menyambut SBY di pinggir jalan, maka dalam aksi ini para pelajar belia ini berusaha menggabungkan diri dengan aksi protes secara sukarela.

Namun, dengan menggunakan alasan belum cukup umur, pihak kepolisian melarang keras anak-anak SD tersebut untuk bergabung dengan aksi massa. Para siswa SD ini mengabaikan larangan polisi ini, sehingga untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan pihak humas FRAIN meminta anak-anak tersebut untuk keluar dari barisan.

Setibanya di depan Bundaran Tirosa, ratusan massa FRAIN ini segera berhadapan dengan barikade rapat pasukan kepolisian. Untuk mengatur ritme aksi agar tetap terkendali, korlap memerintahkan massa untuk duduk dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Menurut Ketua PRD NTT James Faot, massa FRAIN siap untuk menghadapi resiko apapun seandainya kepolisian memblokir usaha mereka untuk menembus penjagaan menuju kantor Gubernur.

“Kemarin, polisi telah berjanji untuk bersikap persuasif terhadap aksi kami, tetapi kenyataannya mereka memukul kita saat duduk. Sekarang, jika mereka berusaha untuk memukul kita, maka kita akan melakukan perlawanan,” tegasnya.

Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 11.00 WIT, massa dari army of cross bergabung dengan barisan massa FRAIN. Sejam kemudian, massa mulai berdiri kembali dan bersiap-siap untuk bergerak menuju ke Eltari.

Karena usaha ini segera dihadang oleh kepolisian, maka bentrokan kecil pun tidak dapat dihindarkan. Akan tetapi, bentrokan kecil ini tidak menyebabkan beberapa orang luka seperti yang terjadi kemarin.

Setelah itu, massa kembali berdiri teratur dan korlap mengarahkan massa untuk bergerak menuju kantor PMKRI, sekaligus mempersiapkan aksi hari ke-tiga, besok pagi.

Kekecewaan Rakyat NTT

Provinsi NTT, yang masuk deretan provinsi termiskin di Indonesia, sudah lama diabaikan oleh pemerintahan pusat di Jakarta. Sebagian masyarakatnya memilih untuk merantau atau menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Pada tanggal 2 Februari lalu, enam hari menjelang perjalanannya ke NTT, Presiden SBY berujar bahwa NTT merupakan provinsi yang tidak dikaruniai sumber daya alam dan sumber daya ekonomi yang tinggi.

Akan tetapi, pernyataan SBY ini sangatlah absurd dan bertolak belakang dengan realitas. Sebaliknya, karena berbagai potensi kekayaan alamnya, terutama tambang, NTT kini seolah seperti gula yang diperebutkan berbagai investor.

Tidak jarang investasi gila-gilaan itu menghancurkan lingkungan hidup, hutan lindung, dan juga mata pencaharian masyarakat.

Ketua KPW PRD NTT, James Faot, mengatakan bahwa apa yang tidak dimiliki oleh rakyat NTT adalah hak untuk mengelola sendiri kekayaan alamnya. “NTT sangat butuh pembangunan industri olahan hasil pertanian.”

Disamping itu, untuk menopang aktivitas perekonomian rakyat dari berbagai daerah dan kepulauan, NTT sangat memerlukan dukungan infrastruktur. “Pemerintah mestinya memberbanyak alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur di NTT, seperti jalan, pelabuhan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain,” kata James Faot.

Yohannes, seorang warga Kupang yang ditemui Berdikari Online, mengaku pesimis bahwa kunjungan SBY ini akan membawa keseriusan pemerintah pusat untuk membangun NTT.

Sebaliknya, bapak Yohannes yang sambil mengunyah buah sirih ini mengatakan bahwa kedatangan SBY justru menyedot banyak sekali anggaran, terutama akibat prosesi penyambutan yang terlalu mewah.

“SBY datang ni buat Rugi anggaran sa…kita kasi keluar APBN daerah 4 miliar memang untuk dia datang, padahal ketong su miskin. Beta son bisa berjualan jagung di Eltari beberapa hari ini, padahal ini pendapatan tetap beta,” katanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut