Dana Aspirasi Diminta Dialihkan Untuk Anggaran Kesehatan

Salah satu program pemerintah Aceh di bidang kesehatan saat ini, yaitu program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), mendapat respon sangat positif dari masyarakat luas, terutama sekali rakyat miskin.

Akan tetapi, karena persoalan ketidakcukupan anggaran, maka program JKA untuk tahun 2011 ini akan kurang maksimal. Pasalnya, anggaran yang tersedia untuk sekarang ini hanya Rp350 milyar, sedangkan kebutuhan anggarannya mencapai Rp450 milyar.

“Jika tidak ada penambahan sebesar Rp100 milyar, maka program JKA untuk tahun 2011 hanya akan sampai bulan September,” ujar dr. Muhammady Yani, yang juga merupakan Kepala Dinas Kesehatan Aceh.

Mencari solusi anggaran

Pakar hukum dari Unsyiah, Dr Taqwadin, menegaskan bahwa pemerintah seharusnya tidak perlu panik dengan persoalan kekurangan anggaran ini, sebab masih banyak langkah-langkah lain yang bisa ditempuh untuk menutupi kekurangan anggaran.

Seharusnya, menurut Dr Taqwadin, pemerintah bisa mengambil atau memangkas pos anggaran yang belum mendesak atau kurang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Ia mencontohkan dua program, yaitu program Tunjangan Prestasi Kerja (TPK) pegawai sebesar Rp 225 milyar dan program tunjangan aspirasi anggota DPRA.

“Setiap anggota DPRA mendapatkan tunjangan dana aspirasi sebesar Rp5 milyar, jika diakumulasikan secara keseluruhan maka jumlahnya bisa mencapai Rp345 milyar. Kenapa dana aspirasi tidak bisa dialihkan untuk menutupi kekurangan JKA,” katanya.

Sementara itu, Sekjend DPP Partai Rakyat Aceh Thamren Ananda menyatakan bahwa program JKA sangat berguna bagi masyarakat, terutama dalam mengangkat derajat pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin.

“Jika program ini dihentikan, maka masyarakat tentu akan merasa sangat kecewa. Sehingga pemerintah memang perlu mencari alternatif dana,” kata Thamrin Ananda saat ditemui di kantor partainya.

Thamrin juga lebih setuju jika dana aspirasi bagi anggota DPRA bisa dialihkan untuk menutupi kekurangan dana JKA. “Jika DPRA tidak menyetujui pengalihan anggaran itu kepada JKA, maka mereka terbukti telah melakukan sabotase terhadap usaha untuk memperbaiki derajat kesehatan rakyat,” tegasnya.

JKA sangat bermanfaat

Setiap harinya, di Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh, sedikitnya 800 orang menggunakan program ini setiap harinya. Rasa antusias masyarakat juga terlihat dari pengguna program JKA di Puskesmas-Puskesmas.

Jika sebelumnya orang miskin malas ke rumah sakit untuk berobat, maka setelah program JKA ini diberlakukan, orang miskin sangat antusias untuk mendatangi rumah sakit dan mememeriksakan kesehatannya.

Seorang pedagang kaki-lima di pasar Aceh, Nyak din, yang juga menjadi peserta dalam program JKA ini, mengatakan; “selama na JKA kamoe that membantu, sebab ngen pendapatan kamoe pah-pah san, hanya sep bloe breuh si are, jadi ngen na JKA kamoe hana payah pike le pat meucok peng nyeu aneuk kamoe sakit.” (Selama ada JKA kami sangat membantu, sebab dengan pendapatan kami pas-pasan, hanya cukup beli beras satu bambu, jadi dengan ada JKA tidak perlu lagi berpikir mau ambil uang dimana kalau anak kami sakit).

Nyak Din sangat berharap agar program itu tetap dilanjutkan dan diperluas jumlah peserta yang bisa diterlibat dalam program ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • sary mia poespieta

    solusi yng di smpaikan ol bp.taqwadin benar.TPK dan DPRA tu tdk prlu krna tu hnya mnambah uang saku mreka sja smntra kta smwa mngetahui kinarja pemerntah sprti apa,kinrja yng jlek sudh mnjdi rahasia umum yng diktahui olh rkyat.memng sebaiknya anggarn itu di pkai untk hal2 yng lbh bermnfaat lgi, yng lbh mnyentuh dan yng dpat membantu masyarakat.krna smpai ssat ini tdk terfitung bnyaknya saudara kta yng mendrita krna tdk mndapatkan kesehatan yng layak.