Cerpen: Surat untuk Idaman

Anakku..
Ceritaku ini kumulai sejak tahun 1952, sejak aku sekolah di Sekolah Rakyat, Kabanjahe.

Mungkin inilah tulisan pertamaku. Yang sengaja aku buat untuk kenang-kenangan kepada keluargaku kelak. Siapa tahu, ya siapa yang bisa tahu persis jumlah umurku ini? Aku bisa baca tulis, dan tentu harus kupergunakan sebaik-baiknya. Saat mulutku tak mampu lagi meneruskan cerita turun temurun ini, aku harap tulisan sederhana ini bisa menggantikan tugas mulutku, dan cerita ini harus pula sampai kepada generasi yang aku lahirkan.

Namaku Tjuram. Lahir disebuah desa kecil bernama Kandibata, sekarang menjadi daerah ibukota Tanah Karo, Kabanjahe. Aku lahir bulan september tahun 1945, tanggal berapa aku kurang tahu persis. Orang tuaku tak pernah mengingatnya. Demi kepentingan admisnitratif sekolah, orangtuaku menuliskan tanggal 1 September 1945. Bapaku waktu itu baru saja bisa membaca. Dan ditahun 1947, beliau meninggal dunia. Aku lahir beberapa hari sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dan kabar proklamasi itu belum sampai ke Tanah Karo.

Keluargaku adalah keluarga pergerakkan. Tak ada satu orangpun diantara kami yang tidak berorganisasi. Bapaku sudah mengenal organisasi ditahun 1920-an, dan ikut memikul senjata melawan Belanda, saat partainya mengambil tindakan perlawanan bersenjata ditahun 1926. Pemberontakan itu dapat ditumpas, dan Bapaku dibuang ke Binjai untuk menjadi pekerja perkebunan Belanda. Dia mengalami masa hukuman tiga tahun, dan setelah masa hukumannya habis, beliau kembali ke Kandibata bersama kami. Saat dia kembali, aku masih belum lahir.

Banyak cerita kepahlawanan yang kudengar sejak kecil. Cerita itu secara turun-temurun dikisahkan kepada kami, dan generasiku juga mengenalnya secara baik. Pa Garamata adalah yang paling kukenal. Matanya selalu merah menyala, penuh amarah, dan selalu kurang tidur karena terlibat pertempuran demi pertempuran melawan Belanda. Begitulah cerita yang kudengar.

Di Kandibata ini adalah benteng pertahanan pasukannya yang paling depan, dari lintasan Kandibata – Kacaribu. Ditanah kelahiran dan ditempat aku dibesarkan ini, banyak darah pejuang Karo yang tertumpah demi melawan niat Belanda, niat keserakahannya yang ingin memperluas perkebunan kolonial.

Sunggal, Binjai dan Langkat telah jatuh ketangan Belanda, setelah Perang Sunggal dimenangkan oleh Kolonial. Ya, perang ini memang dimenangkan oleh Belanda, tapi perang ini juga yang membawa nilai-nilai solidaritas, persaudaraan antara kami, rakyat Karo dengan rakyat Aceh, dan rakyat Melayu.

Aku hafal betul cerita kepahlawanan Pasukan Simbisa, pasukan yang dipimpin Pa Garamata. Pasukan berpedang, tombak, parang, dan piso kecil ini dikenal sadis terhadap musuh, pantang mundur, dan tak henti-henti mengorganisir rakyat Karo, lelaki maupun wanita, untuk mengangkat Sumpah setia melawan Belanda. Karena sumpah setia itu, pasukan Simbisa bertambah banyak. Namun sangat sulit bagi mereka menang melawan serdadu Marsose Belanda yang berjumlah ratusan ribu dengan persenjataan lengkap. Pasukan Simbisa di Kandibata akhirnya mampu bertahan setelah mendapat bantuan dari Pasukan Gayo dari Kesultanan Aceh. Dan siapa pun bisa meramalkan, bahwa senjata mesin pastilah bisa mengalahkan senjata tradisionil.

Cerita turun temurun ini juga yang kusadari membentuk kepribadianku. Abangku telah lebih dahulu berorganisasi. Dia lima tahun diatasku. Sejak berusia 15 tahun, dia telah bergabung dengan Pemuda Rakyat (PR). Dan aku tentu saja masih pelajar tingkat akhir di Sekolah Rakyat Kabanjahe. Aku sering melihat baris-berbaris, dan diantara barisan tersebut terdapat abangku. Mereka berseragam, mungkin seragam organisasinya. Mereka membawa panji-panji organisasi, berjalan tegap menuju Jambur (seperti Pendopo dalam Jawa). Dan banyak sekali orang-orang yang aku lihat, mereka meneriakkan kata-kata yang belum aku ketahui artinya. Saat itu aku berumur 10 tahun, dan disini aku menemani Bi Malem berjualan jagung bakar, dan baru aku tahu sekarang, acara itu adalah acara konferensi Partai, dan abangku mungkin telah menjadi anggota Partai seperti Bapaku. Lalu acara-acara serupa juga aku lihat dua tahun kemudian, dan itu adalah acara kampanye partai untuk pemilihan umum.

Pemandangan itu aku jadikan kenang-kenangan yang luar biasa, dan kebanggaanku menjadi-jadi saat kuketahui diri ini berasal dari keluarga pejuang. Dan aku adalah generasi baru, generasi yang bisa baca tulis, generasi yang diharapkan Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno sebagai generasi pengisi kemerdekaan.

Aku mengenal nama Bung Karno saat melewati rumah pembuangannya di Berastagi, saat aku bersama kawan-kawan Sekolah Rakyat sedang berjalan-jalan di Berastagi, rencana hendak menuju kampung Cingkes, lalu berputar arah menuju bukit Gundaling, ingin menghabiskan sore melihat perkampungan dari atas. Waktu itu umurku sudah 11 tahun, dan dari keterangan abangku, Bung Karno hanya sebentar saja di Berastagi, lalu pindah ke Parapat, sebuah kota kecil dipinggiran Danau Toba yang menjadi bagian Keresidenan Tapanuli.

Sekarang usiaku 13 tahun. Saat ini aku juga aktif berorganisasi. Aku adalah pelajar, aktif di Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) cabang Tanah Karo. Diusia lima belas tahun, posisiku menjadi penting di IPPI. Aku menjabat sebagai wakil ketua cabang. Dua tahun kemudian, aku diutus menjadi peserta Kongres ke VII yang dibuka oleh Presiden Soekarno di Jakarta. Aku mendapat beasiswa melanjut ke perguruan tinggi di Uni Sovyet, dan tentunya aku senang sekali.

Saat itu aku sudah menaruh hati pada seorang penari, Bru Sembiring, yang juga anggota Lekra. Aku memang berniat melamarnya, dan sudah pernah ku utarakan niat itu kepadanya. Kami memang menaruh perasaan yang sama. Dia sangat cantik, dan bagiku tidak ada alasan untuk tidak menyukainya.

Sepulangnya aku dari ibukota, dan sepulang sekolah, aku jumpai dia dirumahnya, tak jauh dari rumahku. Beginilah ceritanya. Aku katakan kepadanya:

“Masihkah kam[1] menungguku, jika aku merantau kenegeri orang barang lima tahun?”

“Aku sudah mendengar ceritanya dari teman ndu.[2] Kapan kam berangkat?”

“Tahun depan, setelah kelulusan. Mengapa belum kam jawab pertanyaanku?”

“Kalau memang kam jodohku, pasti ada jalan dan kesabaran buat menunggu kam kembali.” Jawabnya.

“Terimakasih. Aku akan jaga kepercayaan ndu ini.”

Kabanjahe 1965

Aku lulus. Dan saatnya tinggal menunggu undangan beasiswa dan tiket keberangkatan ke Jakarta. Rasa takut menghampiriku. Akan bagaimana nantinya Bru Sembiring saat aku tinggalkan? Apakah dia tidak terlalu tua untuk menungguku? Apa kata orang jika dia belum juga menikah? Aku tak yakin dia sanggup melewatinya. Sementara abangku sudah lima tahun menikah, dan sudah dua orang anak ada padanya.

Dan hanya tinggal abangku, hanya dia waliku nanti diperkawinan. Masyarakat kampung ini tahu kalau aku menjalin perasaan dengan Bru Sembiring. Abangku pasti juga mengetahuinya. Aku berniat hendak membicarakannya hari ini kepada abang, dan hendak bertukar pikiran.

“Lebih baik nikahi dia sekarang, itu akan membuatnya tenang dan menghindari prasangka buruk orang-orang,” saran abang.

Selama dua hari aku pertimbangkan, baik buruknya, dan aku putuskan juga, aku akan menikahinya jika dia setuju menikah dalam waktu dekat ini. Jika dia tidak bersedia, maka akan aku jauhi dia, dan memutuskan hubungan ini, dan aku akan fokus pada studiku diluar negeri.

“Ya, aku setuju. Betapa senang hati ini mendapat lamaran dari kam. Bicaralah kepada Bapa ras [3]Nande, aku tunggu dirumah nanti malam,” kata Bru Sembiring.

Begitulah ceritanya, sampai aku lamar dia dihadapan orang tuanya, dan abangku turut juga hadir sebagai wali, dan kami membicarakan acara peradatannya. Dan menikahlah kami secara Islam dan juga upacara adat, di Jambur Kandibata.

Kini aku dan Bru Sembiring tidak lagi sepasang kekasih, tapi juga suami istri, dan juga teman seperjuangan. Bru sembiring semakin meninggi aktifitasnya di Lekra, di bagian seni tari. Bersama teman-teman Lekra-nya, dia sering menampilkan pertunjukan-pertunjukan tarian daerah di Jambur-jambur, maupun diacara-acara pemerintahan.

Kami berdua juga bersama-sama ke Juma (ladang), untuk mengurusi tanaman jeruk, ladang yang secara turun temurun berpindah kepada kami, mungkin juga akan berpindah ke anak cucu kami kelak.

Empat bulan kemudian, istriku sudah mengandung. Saat itu alamat pos untuk surat menyurat masih ku alamatkan dirumah abangku. Pagi itu juga abangku memberikan surat kepadaku, dia menemuiku diwarung kopi tempat biasa aku membaca koran, di Kabanjahe. Surat dari seorang sahabat di Jawa. Aku buka, dan aku baca isinya.

“Kepada kawanku tercinta, Tjuram. Hari ini, saat aku menulis surat ini kepadamu, adalah hari terkutuk buatku. Aku dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat melalui sebuah surat, bahwa aku turut terlibat dalam Gerakan 30 September. Aku tak tahu harus kepada siapa membela diri. Penyangkalan atas tuduhan itu sudah aku berikan kepada pimpinan sekolah, tapi tidak mendapat balasan. Aku berniat pergi ke Jakarta untuk menemui kawan ketua umum, untuk mendapat keterangan darinya. Tapi niat itu sia-sia. Segera aku mendapat larangan untuk bepergian meninggalkan kota Semarang. Aku ditahan, dan sudah sampai pula surat penahanan ini dirumahku. Sementara ini aku berstatus wajib lapor. Aku kirimkan surat ini kepadamu dan kepada kawan-kawan lainnya yang aku tahu persis alamatnya dengan tujuan agar kalian bisa bersikap. Dan sejujurnya aku membutuhkan solidaritas kalian atas kondisi yang menimpaku saat ini. Ketidakadilan harus dilawan. Demikian surat singkatku ini, dan semoga kau senantiasa sehat dan bersemangat. Aku harap surat ini bisa sampai ditanganmu. Aku harap, kau cukup kenal dengan tulisan ini, meski aku memakai nama samaran. Ini demi keselamatan kita.”

“Dua minggu yang lalu, ada kejadian hebat di Jakarta. Pertentangan Dewan Jendral dan Dewan Revolusi yang dikomandoi Letkol Untung telah mencapai puncaknya, dan klimaksnya adalah terbunuhnya 6 Jendral dan 1 orang perwira menengah, di malam 1 Oktober. Pihak militer menuduh partai kita sebagai otak dari tindakan Letkol Untung. Lupakan beasiswamu, dan segera pergi dari sini. Dimana-mana, kita sudah diserang dan dipukul. Kita kehilangan arahan. Dan belum ada perintah untuk merespon keadaan ini.” Kata Abangku.

“Lalu istriku?” tanyaku.

“Istrimu masih beruntung. Dia lahir dari seorang Ayah yang Masyumi. Suruh dia bersembunyi dirumah mertuamu, dan dia akan aman. Militer mungkin hanya akan menghabisi Partai dan pengikut-pengikutnya. Dan kau, kau adalah kader partai, tingkatkan kewaspadaanmu, dan bersembunyilah. Bicaralah kepada istrimu dengan sangat sederhana, agar ia mengerti dan memakluminya.”

“Baiklah. Jaga juga keselamatan kamu, abangku.”

Buru-buru aku pulang ke Kandibata. Kudapati istriku sedang membaca surat.

“Apa yang sedang kam baca?”

“Surat dari Kodim, tak jelas siapa yang mengantarnya, aku temui surat ini dibawah pintu, saat aku baru pulang dari ladang. Kam dipanggil Kodim untuk diperiksa.”

“Sialan, secepat itu?”

“Apa yang terjadi?” tanya istriku.

“Sekarang kam pergi kerumah Bapa ndu, dan jangan pernah keluar dari rumah itu. Ambil barang-barang berharga dari rumah ini, dan sekarang juga kita tinggalkan rumah ini.” Kataku.

“Kam mau kemana?” tanya istriku.

“Aku janji, akan kembali lagi bersama kam setelah situasi ini aman.”

Istriku menurutinya. Dia pergi setelah memelukku dan menangis. Tapi tak lama tangisan ini berlangsung. Aku segera menyuruhnya cepat pergi. Aku amati dia dari jauh untuk memastikan keselamatannya. Dia menaiki bendi, dan pergi menuju Kabanjahe.

Aku sendiri masih bingung hendak pergi kemana. Aku keluar dari pintu belakang rumah, dan aku dapati pemandangan gunung Sinabung yang tinggi berselimut kabut. Tidak mungkin aku kesana. Apa yang hendak aku makan disitu?

Aku kembali kedapur, dan duduk sambil memanaskan air ditungku. Pintu rumah digedor, dan aku hampiri perlahan sambil mengintip. Aku akan ingat pesan abang agar mempertinggi kewaspadaan. Yang aku lihat adalah Pa Tengah, saudara kandung Bapa ku. Aku buka pintu.

“Abang ndu ditangkap tentara saat hendak pulang kerumah. Pergilah kau sekarang. Cari tempat yang paling aman. Aku tak bisa lama-lama. Jaga dirimu nak.”

Aku menangis. Abangku telah tertangkap. Dia tidak hanya abangku, tapi juga pimpinanku. Saran dan nasehatnya juga harus berarti instruksi buatku sebagai bawahannya dipartai. Aku kembali menatap pemandangan pintu belakang rumah. Gunung Sinabung lagi yang kulihat. Baiklah, hanya tempat itu yang paling aman,

Aku menunggu hari gelap. Tidak ada yang boleh tahu kepergianku. Tetanggapun tak seorang pun boleh tahu. Kandibata belum lagi mengenal listrik sebagai penerangan. Lampu-lampu hanya aku lihat di Kabanjahe, tapi tidak disini. Aku tak tahu persisnya sekarang pukul berapa. Tapi hari sudah sangat gelap, dan dingin sudah terasa menusuk tulang. Aku ambil jaket hitam tebal, dan aku bawa bekal secukupnya, beras dan kentang, juga korek api sebanyak mungkin.

Ditanganku hanya ada senter kecil, kudapat dari pedagang alat elektrik di pasar Berastagi. Aku pakai sepatu boot, sepatu yang biasa aku pakai ke ladang. Sepatu ini akan melindungiku dari gigitan ular berbisa. Aku berjalan menyisiri hutan yang lebat, hutan yang lembab. Ketakutan pada hewan berbisa sudah terkalahkan, dan aku sudah berjanji pada istriku, untuk kembali dalam keadaan sehat tanpa kurang sedikitpun.

Sudah enam jam aku berjalan. Kabut semakin tebal, dan jarak pandangku hanya tinggal setengah meter saja. Rasa haus dan lapar menyerangku. Tapi aku tak tahu hendak dimana aku meletakkan tubuh yang telah lelah ini. Aku duduk dibawah pohon besar, dan bersandar pada batangnya. Baru kusadari aku sudah berjalan mendaki keatas gunung. Baru ini aku tempuh perjalanan kesini. Astaga, mengapa jalan ini begitu mudah? Apakah sudah ada yang membuat jalan menuju puncak gunung?

Aku melihat kebawah ada beberapa cahaya penerang disana, mungkin saja berasal dari perkampunganku, mungkin dari Kandibata atau Kacaribu. Akhirnya aku baringkan tubuh, dan sekarang mataku menatap keatas. Astaga, aku melihat cahaya, seperti obor, dan cahaya itu bergerak keatas. Aku harus waspada, tentu ada orang disana. Mungkin saja mereka tak melihatku. Aku tertidur.

Dinginnya pagi membangunkanku. Dingin sekali, dan jaket tebal ini juga mampu ditembus dingin. Aku lihat kembali, tempat ini terlalu terbuka. Aku harus naik lagi, mencari tempat tertutup dan akan kuperiksa keamanannya, aman dari manusia dan juga aman dari binatang buas.

Aku bertemu sebuah tenda, tapi tak menemukan orang-orang disekelilingnya. Tenda siapakah ini? Aku memperhatikannya dari jarak yang lumayan jauh. Aku dekati, dan telah aku timbang masak-masak, tidak mungkin tentara berada disini. Apalagi, tenda itu bukan tenda tentara. Aku semakin mendekati lagi, dan aku lihat ada seorang pria, mungkin lebih tua dariku 10 tahun, sedang tertidur. Aku perhatikan lagi dari dekat. Ya, kau Bapa Ginting.

Aku beranikan untuk duduk disampingnya, dan kini aku berada didalam tendanya. Dia terbangun, dan terkejut melihat kehadiranku.

“Kam itu Tjuram?”

“Ya, Pa,” jawabku.

Bapa Ginting langsung mengintip keluar melalui lubang-lubang kecil yang terdapat pada kain tenda.

“Tidak ada siapa-siapa Pa, hanya aku seorang.”

Kami berdua terlibat percakapan, dan saling bertanya alasan masing-masing hingga sampai disini. Rupanya kami sama-sama mendapat pesan untuk menyelamatkan diri. Darinya aku ketahui banyak juga yang lari hingga ke Gayo (Aceh), ke Dairi, ke Tanah Pakpak, dan ada juga yang menyusuri hutan belantara untuk tiba di Pancur Batu dan Medan. Dan mungkin saat ini masih hanya kami berdua yang memilih tempat yang paling dekat, namun paling aman.

“Kita bisa bergantian kembali kerumah masing-masing untuk melihat istri dan jika mungkin, untuk membawa kawan-kawan yang bisa kita selamatkan disini.”

“Baik Pa.” jawabku menyepakatinya.

Begitulah akhirnya, selama beberapa bulan kami disini, memakan apa saja yang bisa kami makan, dari buah-buahan hingga berburu Monyet dan Ayam hutan, dan juga burung-burung. Pendeknya apa saja yang terlihat akan kami makan.

Hingga genaplah 4 bulan aku dan Bapa Ginting berada ditengah hutan, Gunung Sinabung. Sekarang aku mengutarakan niatku untuk turun gunung, dan dia menyetujuinya. “Ingat pesanku, bawalah kawan-kawan yang bisa kau selamatkan.” Katanya.

Aku berjalan menuruni badan gunung ini. Perjalanan menurun ini memakan waktu kurang lebih 4 jam. Dan sudah terlihat dari kejauhan pintu belakang rumahku. Pelan-pelan aku masuk, dan belum ada yang berubah didalamnya. Tidak ada yang berserakan. Aku mengambil baju putih dan kopiah haji didalam lemari pakaian. Aku pakai semuanya demi penyamaran. Kumis dan janggut sudah tak terawat dan tumbuh sesukanya. Sebelumnya, setiap tiga hari sekali pasti aku cukur. Sekarang jika aku berjalan dimalam hari, orang-orang akan mengiraku sebagai Masyumi, apalagi aku hendak pergi menuju rumah seorang Masyumi, mertuaku sendiri.

Aku masuk kedalam rumah mertuaku yang tak terkunci, dan aku disambut oleh istriku yang sedang duduk diruang tamu. Lalu Bapa mertua keluar kamar.

“Kau kah itu Tjuram?”

“Ya Pa.” jawabku.

Lalu dengan pelan dia berbicara dihadapanku, juga istriku.

“Sudah pernah aku minta kau untuk meninggalkan aktifitasmu di partai itu. Beginilah jadinya kalau tidak menurut pada nasehat orang tua. Kau juga anakku, menari bisa dimana saja, asal jangan di Lekra. Berapa kali sudah aku katakan kepadamu. Untung saja kau anak kandungku.”

Aku diam saja, tak berani berdebat dengannya. Sudah kupikir-pikir dalam hati, memang tak penting berdebat dengannya. Aku hanya butuh perlindungannya dalam beberapa hari ini. Biarlah aku dengarkan saja petuah-petuahnya. Besok pagi aku akan jumpai beberapa kawan. Dan aku banyak mendapat informasi dari istriku, ternyata kawan-kawanku banyak bersembunyi di desa Guru Kinayan, sebuah desa yang sangat tertutup. Baguslah, mereka mungkin aman.

Aku berencana pergi ke Kabanjahe pagi ini, tetap dalam pakaian penyamaran. Aku hendak mencari tahu keberadaan abangku. Aku tiba di dekat warung kopi biasa tempat aku membaca koran. Keadaannya sepi. Tapi warung tetap buka seperti biasa. Aku beranikan masuk. Aku jumpai pemilik kopi dan bertanya perihal abangku kepadanya.

Menurut keterangan darinya, dan menurut informasi yang beredar, dan juga dari berita-berita koran, beberapa pimpinan partai yang ditangkap akan segera dieksekusi di Lau Gerbong. Dan tentu termasuk abangku didalam daftar eksekusi. Aku tak tahu pasti apa dia sudah meninggal atau belum. Tapi aku sudah merasa berpisah dengannya, untuk selamanya.

Aku segera keluar dari warung, dan dua orang berpakaian militer menangkapku. Rupanya, namaku sudah beredar dimasing-masing papan pengumuman dikantor-kantor kelurahan, dan kantor-kantor kepala desa. Dan seorang dari tentara itu adalah teman sekolahku di SR. dan seorang lagi, mungkin tentara dari Jawa. Dari nama yang tertera diseragamnya bisa kutebak dia bukan orang Karo. Lalu aku berkata dengan bahasa Karo kepada tentara yang juga kawanku di SR. aku gunakan bahasa Karo agar seorang lagi tidak mengetahui percakapan kami. Beginilah percakapanku dengannya:

“Mengapa aku harus kau tangkap? Tak pandaikah kau bersetia kawan?” tanyaku.

“Tidak hanya aku yang tahu kau sedang berada disini, jadi lebih baik aku yang menangkap kam dari pada tentara lain. Inilah caraku bersetia kawan. Harap kam juga bisa bersetia kawan kepadaku,” Jawabnya.

Tentu aku tak punya pilihan selain percaya pada kesetiakawanannya. Memang dari keterangannya, dia hanya menyatakan bahwa aku adalah pengurus di IPPI Tanah Karo, tapi aku tak mempunyai persinggungan langsung dengan PKI. Dan aku hanya diam saja saat diperiksa dikantor militer. Setelah pemeriksaan, aku ditahan tanpa sidang, dan tanpa putusan pengadilan, dan entah berapa lama. Dan mungkin kisah hidupku akan berakhir disini. Untuk melanjutkan cerita ini, aku tak tahu lagi harus bicara tentang apa. Dan aku sudahi cerita ini.

Didalam penjara ini aku bertemu dengan beberapa kawan. Dipenjara ketidakadilan ini, aku masih harus bersyukur masih diberikan pena dan kertas. Dan istriku juga diperbolehkan mengantarkan makanan. Dan perut istriku sudah terlihat membesar.

Dari kertas dan pena itu aku menulis. Dan tulisan itu sudah aku rampungkan. Sudah beberapa kali aku baca, dan sudah aku tuliskan secara jujur. Aku berikan beberapa lembar tulisan ini kepada istriku.

“Jika aku mati sebelum bisa kusaksikan kau melahirkan anak kita, aku harap tulisan ini bisa kau bacakan kepada anak kita agar dia mengenal siapa Ayahnya. Dan sudah beberapa hari ini aku pikirkan, jika dia lahir, berikanlah nama “Idaman” kepadanya. Karena dia sangat aku idam-idamkan.

Istriku menangis.

“Apa kau akan dibunuh?” tanyanya dengan suara tertahan, dan terisak tangis.

“Siapa yang akan tahu. Nyawaku tergantung maunya mereka. Baru aku rasakan kekalahan itu tiada indahnya. Berdoalah kau agar aku masih bisa berkumpul lagi dengan kam dan anak kita. Kelak akan aku jadikan kekalahan ini sebagai pelajaran berharga.”

“Dan kam, istriku, teruslah belajar, jangan berhenti. Kehidupan ini lahir dari golonganmu, juga peradaban ini. Ibu yang baik dan bijak, akan melahirkan peradaban yang baik pula.” Mataku basah, dan meneteslah air mata.

Jam besuk sudah habis. Istriku diminta pulang, dan aku masih tertunduk sedih.

Randy Syahrizal, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sumatera Utara.


[1] Kam dalam bahasa Karo berarti Kamu

[2] Teman ndu berarti teman mu (kamu)

[3] Ras dalam bahasa Karo berarti Bersama, bisa juga berarti Dan atau Ikut.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • sedih dan pilu terasa di hati saya setelah selesai membaca cerpen ini…
    kisah yang bagus sekali menurut saya…

  • Biarpun x melaluinye,tpi trsentuh juga hati.moga kisah ini bisa di-jdikan teladan tuk generasi sekarang.