Nicolas Maduro, Dari Sopir Bus Hingga Sopir Revolusi

Banyak yang mengatakan, setelah Hugo Chavez sudah tiada, revolusi Bolivarian Venezuela akan kekosongan figur. Maklum, kata mereka, revolusi Bolivarian terlalu tersentral di figur Comandante Chavez.

Namun, kekhawatiran itu tidak beralasan. Segera setelah Chavez meninggal, barisan revolusi tidak berlama-lama untuk memunculkan satu figur, yakni Nicolas Maduro. Bahkan, barisan revolusi sudah aklamasi mengusung Maduro sebagai kandidat Presiden untuk Pilpres tanggal 14 April mendatang.

Selain disokong oleh partai bentukan Chavez, Partai Sosialis Venezuela (PSUV), Maduro juga sudah resmi didukung oleh Partai Komunis Venezuela (PSUV), REDES, Tupamaro, MEP, PPT, dan Podemos. Mereka bernaung dibawah sebuah payung lebar Kutub Patriotik Besar (GPP).

Namun, siapakah Nicolas Maduro ini?

Nicolas Maduro lahir tahun 1962 di Cacaracas. Ia lahir di tengah-tengah keluarga revolusioner. Ayahnya adalah aktivis buruh dan salah satu pendiri partai Sosial-Demokrati Acción Democrática (AD).

Pada tahun 1952, ayahnya terlibat dalam mengorganisir pemogokan minyak yang gagal melawan kediktatoran. Gara-gara itu, ayahnya—termasuk keluarganya—harus melarikan diri dan bersembunyi.

Pada tahun 1967, Maduro diajak ayahnya mengikuti pertemuan Movimiento Electoral del Pueblo, sebuah organisasi politik pecahan AD, yang berhasil membawa dukungan populer kepada kandidat Presiden Luis Beltrán Figueroa. Sayang, Luis Figueroa kalah tipis oleh Rafael Caldera.

Namun, pengalaman itu penting bagi Maduro. Selama kampanye, Maduro menerobos pemukiman kumuh (barrio) dan melihat dari jarak dekat kemiskinan rakyat Venezuela. Ia melihat rumah-rumah kardus, yang sangat umum ditemui di Venezuela.

Yang menarik, sekalipun ayahnya punya kecenderungan Sosial-Demokrat, Maduro justru mengarah ke pemikiran revolusioner. Di kelas 4 SD, ketika gurunya menjelek-jelekkan Kuba, Maduro tampil membela revolusi Kuba. Gara-gara itu, ia diskor selama tiga hari dan diharuskan bekerja di perpustakaan. Namun, siapa sangka, di perpustakaan itulah kegelisahan intelektualnya ditumpahkan. Ia membaca buku-buku revolusioner.

Pada usia 12 tahun, ia bergabung dengan Partai Revolusioner Venezuela (PRV-Ruptura). Partai ini didirikan oleh Douglas Bravo, mantan komandan gerilyawan dan bekas aktivis Partai Komunis Venezuela (PCV). Di gerakan ini, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Maduro terlibat dalam pengorganisiran klub film, serikat buruh, dan angkan bersenjata klandestein.

Namun, siapa sangka, semasa di SMA, Maduro punya ketertarikan luar biasa terhadap musik. Ia tercatat sebagai basis dari grup band bernama Enigma. Meski begitu, Maduro menolak menjerumuskan diri sepenuhnya dalam pergaulan anak muda jaman itu, yang identik dengan narkoba dan perang geng.

Di sekolahnya Maduro terbilang pintar. “Nicolas sangat analitis dan cerdas,” kata bekas teman sekolahnya, Alberto Vivas. Maduro juga aktif berolahraga. Dia—seperti juga Chavez—adalah pemain bisbol yang handal.

Begitu dewasa, Maduro makin aktif dalam gerakan revolusioner. Ia mempelajari marxisme klasik dan menghidangkannya dalam konteks masyarakat Venezuela. Ia ambil bagian dalam gerakan revolusioner Organización de Revolucionarios, yang kemudian muncul ke rakyat dengan nama Liga Socialista. Organisasi ini merupakan pecahan dari Movimiento de Izquierda Revolucionaria (MIR). Pendiri organisasi ini, Jorge Antonio Rodríguez, dibunuh oleh intelijen militer pada tahun 1976.

Tahun 1991, Maduro memilih bekerja di Metro-Caracas. Sejak tahun 1980an, Caracas sudah mengenal rapid transit system, atau sering disebut “Metro Caracas”. Sistem ini digerakkan oleh dua model transportasi utama: Subway dan Metrobus. Kedua-duanya pernah dijalani oleh Nicolas Maduro. Maduro adalah pendiri Serikat Pekerja Subway pertama di Caracas. Sekarang, serikat pekerja subway adalah pendukung UNT (gabungan serikat buruh yang mendukung revolusi Bolivarian).

Maduro mulai mengenal Chavez melalui TV. Saat itu, setelah memimpin pemberontakan militer yang gagal, Chavez muncul di Televisi dan mengucapkan kata-katanya yang banyak dikenang “por ahora” (untuk sekarang). Setahun kemudian, ia bersama kawan-kawannya aktivis buruh mengunjungi Chavez di penjara.

Saat itu, Chavez memberi Maduro nama samaran “Verde”. Ia juga menjalankan tugas-tugas konspiratif dari Chavez. Begitu Chavez keluar penjara tahun 1994, ia membantu Chavez membangun Pergerakan Bolivarian Revolusioner (MBR-200).

Pada tahun 1994, Maduro sudah menjadi biro nasional MBR-200. Ia menyertai kampanye MBR-200 dalam jajak-pendapat untuk mengetahui apakah rakyat menyetujui Chavez sebagai presiden.

Pada tahun 1997, seusai melakukan jajak pendapat dan berkampanye ke seluruh negeri, para aktivis MBR-200 sepakat membentuk mesin electoral: Pergerakan Republik Kelima (MVR). Maduro aktif berjuang bersama MVR dalam memenangkan Chavez dalam pemilu 1998.

Ketika Chavez berkuasa dan mengkampanyekan Majelis Konstituante, Maduro terlibat di dalamnya. Ia menjadi anggota Majelis Nasional. Dengan begitu, ia berkontribusi dalam melahirkan Konstitusi Bolivarian (1999). Setahun kemudian, ia menjadi anggota Majelis Nasional. Pada tahun 2006, ia dipercaya menjadi presiden Majelis Nasional.

Pada Agustus 2006, Presiden Hugo Chavez menunjuk Maduro sebagai Menteri Luar Negeri Republik Bolivarian Venezuela. Sejak itu, namanya pun melejit sebagai diplomat ulung di forum-forum regional maupun internasional.

Nicolas Maduro menikah dengan seorang pengacara bernama Cilia Flores, yang lebih tua 9 tahun dari dirinya. Cilia ini dikenal sebagai Chavismo dan menjadi pengacara pembela Chavez saat dipenjara. Cilia juga merupakan tokoh penting di Partai Sosialis Venezuela (PSUV).

Maduro adalah produk Revolusi Bolivarian. Ia menggeser pandangannya dari marxis ortodoks menjadi heterodox sesuai ide-ide revolusi Bolivarian. Dan, jika Maduro terpilih sebagai Presiden pada pemilu mendatang, maka ia mengikuti jejak Lulu Da Silva sebagai aktivis buruh yang menjadi Presiden.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut