Cerpen: Roti untuk Mira

Berakhir keresahan Indri. Setelah berminggu-minggu uring-uringan, melamar kerja ke sana-kemari, ia kini diterima bekerja di pabrik perusahaan roti. Senang dan riang mengisi dada dan hatinya. Ia tak perlu lagi menumpuk banyak alasan kepada Mira, anak perempuan satu-satunya yang berumur empat tahun, ketika diminta dibelikan gula-gula dan jepit rambut. Ia kini bisa lega, bisa tersenyum bangga.

Hari pertama bekerja, Indri merasa mestilah tekun dan berhati-hati. Sebab, terjadi sedikit kesalahan, pihak perusahaan tak tanggung-tanggung memecat pekerja yang melakukan kesalahan itu. Memang, dari cerita samar yang ia dengar dari pekerja-pekerja yang telah dahulu bekerja, perusahaan roti tempat ia kini bekerja, memberlakukan sistem ketat kepada setiap pekerja. Setiap pekerja akan dibayar menurut kualitas standar hasil proses pembuatan roti. Di samping tetap memberlakukan sistem dahulu: pekerja dibayar perhari. Artinya, tak ada jaminan untuk kondisi obyektif yang dihadapi pekerja, seperti haid dan melahirkan.

Tetapi, Indri tak terlalu dikecam kekhawatiran semacam itu. Bagaimanapun ia mantan juara masak banyak jenis masakan tingkat kecamatan di kampungnya, sebelum dibawa suami ke kota, mencari penghidupan yang layak. Ia punya resep dari ibunya, yang sangat berkhasiat menjadikan setiap masakan menjadi enak dan nikmat di lidah: jalani setiap proses pembuatan masakan seperti kita menyanyikan lagu kesayangan kita. Biarkan ia mengalir, bersama lagu yang mengalun tenang dalam rongga dada kita.

Tetapi, di tempat kerjanya sekarang, ia hanya ditempatkan pada kerja pembakaran, dibantu perempuan separuh baya yang kini nampak beruban (entah oleh usia atau pengaruh suhu oven besar). Padahal, ia merasa cukup mampu baginya untuk berada di wilayah kerja mengaduk bahan-bahan. Tak apa, ini hanya masalah waktu, suatu hari ia pasti akan berada dan bekerja di sana. Itu pikirnya.

Hari pertama ia bekerja dengan fokus yang ekstra: belajar mengatur suhu oven, mengingat cetakan mana dan tingkat oven ke berapa roti telah matang sempurna. Kadang ia nyaris melakukan kesalahan, namun perempuan yang membantunya terus menuntunnya dengan sabar. Pernah ia hampir jatuh dari tangga besi, dan menimpa oven besar, ketika hendak mengangkut cetakan di tingkat atas oven. Dan perempuan yang perlahan ia anggap ibu sendiri, hanya mampu berkacak pinggang, dengan wajah sedikit melotot, kepala menggeleng perlahan, namun tetap dengan raut muka yang maklum.

Menjelang sore, pekerja-pekerja terlihat bergegas hendak pulang. Ia dengan ekstra cepat merapikan roti-roti ke gudang roti, yang berdiri rak-rak roti dari besi, yang menyerupai rangka-rangka yang bersusun bertingkat-tingkat.

Ia memandangi lama hasil kerjanya dengan senyum yang menyembul. Bongkahan roti dengan aneka bentuk, berderet di atas nampan persegi panjang. Sungguh-sungguh menggoda selera dan rasa. Yah, seperti itulah roti-roti itu akan terbungkus dalam plastik bening, dengan bertuliskan: ROTI GODARASA.

Dan tibatiba ia teringat Mira. Anaknya itu senang pula makan roti, apalagi rasa coklat. Dan, entah kenapa, rasa ingin membawa pulang beberapa bongkah, turut pula menggodanya.

Dalam perjalanan pulang, ia terus sumringah membayangkan tingkah riang anaknya nanti ketika menerima beberapa bongkahan roti yang kini mendekam aman dalam tas jinjing hitamnya.

*****

Kini semangat bekerja Indri didorong oleh satu hal: membawa pulang beberapa bongkah roti untuk Mira. Setiap hari ia melakukan itu, tanpa pernah merasa khawatir tertangkap basah oleh pekerja lain. Bahkan, ia mulai berani membawa pulang beberapa bungkus roti yang sudah dalam bungkusan, yang di simpan dalam gudang tersendiri. Jika sebelumnya, ia hanya berani membawa pulang roti yang belum dibungkus, belum pula dioles berbagai macam rasa di atasnya, kini ia benar-benar melakukan langkah maju itu. Ia pertama mengambil roti bundar dengan garis-garis dari lelehan cokelat, keesokan dan keesokan selanjutnya, ia mulai berani mengambil roti dengan taburan selai kacang, wijen putih, taburan aneka macam buah, sampai yang berisi abon ayam kampung. Ia terkadang heran juga dengan harga yang terpampang di atas palstik. Sungguh terlalu mahal dan tak sebanding dengan upah kerja yang ia dapatkan.

Tapi, rasa protes kecil yang perlahan hadir dalam benaknya ia tekan dalam-dalam. Yang penting, bagaimana ia bisa bekerja, mendapatkan uang, dan membawa beberapa bongkah roti untuk Mira. Itu semacam penebusan dosa untuk anaknya yang tak bisa ia temani dalam waktu yang lama.

Memang, kondisi menyakitkan itu baru ia rasakan ketika suaminya tak pernah lagi pulang, ketika satu bulan lalu bekerja sebagai tukang bangunan pada pengerjaan sebuah rumah sakit kelas elit. Yang datang padanya hanya kabar kabur. Ada yang bilang, suaminya telah merantau ke Malaysia bersama temannya, mengendarai kapal barang. Ada pula yang mengatakan ia masih berada di kota ini, tapi telah bersenang-senang dengan perempuan lebih muda darinya, yang bekerja sebagai buruh tekstil, hidup bersama-sama. Sejak berminggu-minggu ia mencari dan tak menemukan jawaban pasti, ditambah keterdesakan ekonomi sebab uang belanja terakhir pemberian suaminya telah pula menyusut, ia pun memutuskan mencari kerja, dan menghidupi anak semata wayangnya, Mira.

Dan, kenyataan akan mampunya ia seorang diri menghidupi diri dan anaknya, cukup membakar semangat kerjanya. Pada akhirnya, ia melupakan dengan sungguh-sungguh suaminya. Ia mulai sebuah kehidupan baru: bekerja dan membawakan selalu beberapa bongkah roti untuk Mira.

Sampai suatu hari, karena ketololan dan sikap tak hati-hati, ia dicegat sebuah teriakan dari belakang punggungnya, ketika ia hendak memasukkan beberapa bongkah roti ke dalam tasnya. Ia dikepung rasa takut dan cemas yang ganas dan buas. Laki-laki berseragam Satpam menatapnya garang. Ia mematung, mengharap rasa iba jatuh pada kepala laki-laki itu.

“Kamu mau curi roti, ya? Perempuan tak tahu malu…” laki-laki itu maju selangkah dan beralih pandang pada sebungkus roti yang sedang dalam genggamannya.

Indri terus terang tak bisa mengelak. Ia hanya mengangguk tak berdaya.

“Aku lapor kamu, ya? Kurang ajar. Perempuan tak tahu…”

“Jangan, Pak. Jangan lapor. Saya mohon, jangan lapor, pak.”

“Tapi, kamu telah mencuri di depan hidung saya. Kamu harus…”

“Saya mohon, pak. Saya mengaku bersalah. Tapi, jangan lapor. Saya akan melakukan apa saja untuk bapak. Asal jangan lapor…”

Entah kenapa tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Laki-laki itu terdiam sejenak, masih dengan tatapan yang garang. Tapi, kini tatapan itu beralih menjalari segenap tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Menyadari ditatap seperti itu, ia kian dicekam ketakutan yang dalam. Bulu kuduknya berdiri, pori-porinya terasa dingin, jantungnya berdebar hebat.

Laki-laki itu kemudian tersenyum licik. Oh, jangan, jangan. Bukan itu maksud saya. Bukan. Kamu tak boleh menyentuh saya. Kalimat itu terus berteriak dalam kepalanya sendiri, namun tak kunjung terucap pada bibir.

Laki-laki itu bilang bahwa ia perempuan yang masih cantik. Dadanya masih mengembang indah. Wajahnya masih bersih dan kencang. Dan perlahan laki-laki itu memampatkan tubuhnya kian dekat padanya. Dengan kasar laki-laki itu menyabot tangannya, dan menggerayanginya. Sebelah tangan membekap keras pada mulutnya.

Dengan perasaan yang hancur sambil terus memegang roti bertabur cokelat, ia menjalani kesakitan itu seorang diri.

****

Sejak peristiwa itu, Indri menjadi murung dan tak semangat bekerja. Meski ia masih terus membawa pulang beberapa bongkah roti, atas jaminan laki-laki yang bertugas sebagai Satpam di perusahaan yang sama tempat ia bekerja. Tapi, perlahan kemurungan itu tak lama ia rasakan. Demi sebongkah roti untuk Mira. Laki-laki itu sudah mulai sering mencegatnya dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Bahkan, pernah ia tak bernagkat kerja sebab dilanda sakit flu yang biadab, laki-laki itu membawa sekeranjang roti untuknya ke kamar kontrakannya. Ia tak tahu, dari mana laki-laki itu mendapatkan alamat tempat tinggalnya.

Setelah sembuh dan masuk kerja seperti sedia kala, ia bersama pekerja-pekerja lainnya, dituntut untuk lembur, menghasilkan roti lebih banyak, karena pesanan roti dari instansi-instansi pemerintahan dan swasta semakin banyak. Beberapa minggu ke depan, kota ini akan dilanda demam seminar dan rapat, menyambut momen politik: pemilihan umum kepala daerah. Banyak seminar yang mengangkat tema tentang itu. Banyak pula kampanye-kampanye ruangan. Pokoknya, mereka harus bekerja untuk menghasilkan produksi roti yang ditargetkan. Titik.

Dan berbulan-bulan sudah ia bekerja di perusahaan itu. Kini Indri dipercayakan untuk bekerja di wilayah dapur, mengaduk dan meramu bahan. Ini berkat ketekunannya memberikan masukan kepada orang-orang di bagian dapur, tentang rasa yang seharusnya berbeda.

Tapi, itu tak lama. Perusahaan tempat ia bekerja merencanakan untuk memberlakukan pengefisienan pendapatan. Alasannya, persaingan produk roti semakin ketat. Ada banyak perusahaan roti dengan corak industri rumah tangga kecil yang semakin variatif dalam menyajikan bentuk dan rasa. Bagi, Indri, dan juga sebagian besar pekerja lainnya, berpendapat kalau itu alasan tak masuk akal. Alasan sebenarnya adalah perusahaan telah membeli sebuah mesin produksi roti yang lebih efektif dan cepat.

Indri tentu berharap, bukan dirinya yang termasuk dalam daftar pekerja yang diberhentikan. Namun, harapan itu tinggal harapan. Indri masuk dalam lima puluh tiga orang yang terkena pemberhentian kerja dari seratus dua puluh satu jumlah total pekerja.

Indri sakit hati. Perasaannya teriris bagai disayat silet yang tajam. Ia pingsan. Ia hancur…

****

Indri berdiri mematung di depan kaca etalase. Di balik kaca berderet berbagai macam bentuk roti. Ia bisa membaca dengan jelas sebuah plang tembaga sederhana, terpajang di sebuah sudut ruangan: ROTI GODARASA.

Sungguh, betapa jauh ia kini dengan roti di dalam sana. Menatap ke dalam, ia seperti melihat seorang anak kandungnya sendiri, yang dihasilkannya sendiri, diambil dari tangannya, dari pelukannya. Ia tak ubah seperti alien yang dikirim dari planet seberang, untuk bekerja dan bekerja, namun bukan untuk menikmati. Ia semakin gila memikirkan itu.

Kegilaan itu semakin merangsek masuk ke dalam kepalanya: ia harus mendapatkan beberapa untuk Mira, hari ini.

Perlahan ia maju. Selangkah, selangkah, selangkah. Sampai ia di depan kaca etalase. Di sana ia berhadapan dengan sebuah wajah semurung wajahnya. Indri diam. Bayangan di sana juga diam. Ia bertanya ke bayangan di dalam sana, apakah ada cara untuk mengambil roti itu barang beberapa bongkah untuk Mira, hari ini?

Dan bayangan di dalam sana tiba-tiba tersenyum kecil padanya. Ia bisa menyaksikan gerik di depannya. Dan ia seperti dituntun oleh bayangan itu untuk meraih segenggam batu di pinggir jalan, dan bayangan di dalam sana berteriak padanya, “aku butuh roti, hari ini”.

Pranggg…berhamburan kepingan kaca pecah ke segenap arah. Memecah udara pagi dan riuh rendah percakapan di sekitar etalase.

Indri terkejut oleh apa yang telah ia lakukan. Ia mencari-cari seseorang yang beberapa detik lalu berdiri di depannya. Tak ia menemukan, sampai ia sadar, bahwa itu tak lain adalah wujud dirinya yang paling jujur.

Ia hanya tertawa terbahak-bahak, seolah-olah puas dengan apa yang telah ia lakukan. Sampai tak sadar, borgol telah mengerat keras tangannya.

****

Mira merenung bertopang dagu, menunggu ibunya pulang. Sudah begini malam ibunya belum pula pulang. Ia pertama rindu roti yang akan dibawa ibunya, namun perlahan ia benar-benar rindu pada ibunya. Ya, pada ibunya yang baik dan sabar.

Dan sebelum malam menjadi larut, ketukan lembut di pintu mengirim sumringah pada bibir mungilnya. Perlahan pintu membuka, dan sebongkah roti menyeruak dari belakang pintu.

Mira berdiri dan kemudian mematung, menyaksikan seorang laki-laki berpakaian seragam Satpam membawa beberapa bongkah roti di tangannya.

Makassar, 2013

Dedy Ahmad Hermansyah (Bisa dihubungi di: www.facebook.com/dediarium)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut