Nasionalisme Kita Tercerabut Dari Akar Sejarahnya

Kemiskinan.jpg

Sejak Orde Baru hingga sekarang ini, kaum nasionalis seolah-olah tabu dikaitkan dengan prinsip ‘kiri’, apalagi marxisme. Padahal, secara historis, gagasan nasionalisme Indonesia, terutama yang didengungkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, sangat dekat dengan prinsip ‘kiri’.

Hal tersebut diungkapkan oleh Retor AW Kaligis, Doktor Sosiologi FISIP Universitas Indonesia, dalam diskusi bedah buku “Bung Karno: Nasionalisme, Demokrasi dan Revolusi” karya Rudi Hartono  di kantor Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), di Jakarta, Minggu (18/8/2013).

Menurut Retor, Bung Karno sering menyatakan bahwa gagasan nasionalisme-nya berkawin dengan marxisme. Sementara Bung Hatta tidak mungkin bisa menuangkan gagasannya dalam pasal 33 UUD 1945 tanpa memahami ekonomi-politik (Ekopol) Marxisme.

“Buku ini berperan mengembalikan gagasan-gagasan nasionalisme dan demokrasi ke akar sejarah pendirian Republik ini. Bung Karno sering menyebutnya prinsip sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi,” kata Retor.

Lebih lanjut, Retor mengungkapkan, di tengah gempuran neoliberalisme sekarang ini, demokratisasi yang bergulir sejak era reformasi tidak kunjung memberdayakan rakyat. Sementara nasionalisme dan demokrasi tak kunjung menjadi alat pembebasan.

Dalam konteks itu, ia menganggap nasionalisme yang sering didengungkan oleh elit berkuasa saat ini sudah tercerabut dari akar sejaranya. Akibatnya, nasionalisme yang menghisasi pidato-pidato elit berkuasa saat ini tidak lebih dari slogan-slogan kosong.

“Buku ini hadir pada waktu yang tepat, untuk mengembalikan prinsip nasionalisme dan demokrasi ke akar sejarahnya, sesuai dengan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan,” paparnya.

Ia juga mengapresiasi buku “Bung Karno: Nasionalisme, Demokrasi dan Revolusi” karena disajikan dengan bahasa yang mudah dicerna dan populer, sehingga masyarakat awam bisa mencerna apa yang hendak disajikan buku tersebut.

Dalam diskusi itu, Retor juga memberikan beberapa catatan mengenai buku tersebut. Pertama, karena merupakan kumpulan tulisan, seringkali terjadi pembahasan yang berulang dalam beberapa tulisan dalam buku tersebut. Kedua, tulisan-tulisan di dalam buku tersebut tidak dikategorisasi dalam bab-bab. Padahal, hal tersebut penting untuk memandu pembaca. Ketiga, peran editor untuk mengoreksi kesalahan teknis, seperti penulisan kata, kurang maksimal.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut