Cerpen: “Jika Monyet Saja Bisa”

Cute Monkey

Sering banget yang kita pengenin jadi ‘cumi’; alias cuma mimpi. Tapi pada saat yang berbeda, kita dapetin sesuatu yang lebih dari itu. Kalau menurut kamu, bahagia nggak begitu? Menurut aku sich bahagia, cuma nggak sempurna. Karena kebahagiaan yang sempurna itu kalau apa yang kita impi’in bener-bener jadi kenyataan. Kayak waktu aku dapat kejutan dari Jimmy―kawanku dari Australia.

Awalnya, waktu kami jalan-jalan ke Kebun Binatang Surabaya. Lagi duduk santai di sebuah taman, dia nanya,“Dinda, what’s your dreams?” Bule itu nggak mau panggil Tari, katanya dia lebih suka panggil aku Dinda. Ya, udah, terserah dialah, mulut-mulut dia, hehe

Sambil menerawang jauh kayak orang yang lagi ngayal, aku ngejawab,”If I have a cute baby orangutan, how … glad I am …”

Dan pas di hari ulang tahunku, Jimmy bener-bener ngewujudin impianku. Sebuah kado yang special banget buat aku: bayi orangutan yang lucu. Tak cuma itu, Jimmy juga tahu kalau aku lebih suka sama makhluk yang jenis kelaminnya laki-laki. Jadi, dipilihlah bayi orangutan jantan. Olala … bahagianya aku.

Bayi itu usianya dua bulan waktu pertama kudapat. Dan aku ngerasa nggak perlu nanya darimana Jimmy memperolehnya. Karena aku tahu orangutan itu satwa yang dilindungi. Yang penting, mimpiku terwujud, choy …

Aku rawatin dia kayak ibu ama anaknya. Aku perlakukan dia kayak bayi manusia. Dari makan sampai pakaiannya, aku perhatikan bener. Dan kuberi dia nama: MOMOGI.

Jangan nanya kenapa dan apa alasanku milih nama itu? Karena aku nggak punya alasan apapun, apalagi filosofinya. Aku suka aja, titik. Bahkan nama itu udah kupilih jauh sebelum aku dapetin dia.

*****

Memes ngernyitin dahinya waktu kusampaikan niatku ngerawat si Mogi ―pangilan sayang Momogi, yang lagi dalam gendonganku.

“Kenapa nggak sekalian aja anak macan, anak singa, dan anak serigala yang kamu piara? Biar rumah ini jadi kebun binatang!” Memes menjawab ketus.

Aku diam saja, sedih, trus nangis. Tapi, ditengah kegalauanku, senyum Mogi menghiburku.

Beruntung aku nggak tinggal serumah dengan keluarga. Aku punya paviliun di samping rumah sejak aku kerja, pengen bebas dan mandiri. Beruntung lagi, Ebes mengerti. Kebetulan Ebesku juga suka memelihara binatang, jadi niatku didukung banget. Ebes lah yang menggantikan aku merawat Mogi kalau aku lagi kerja.

*****

Nggak berasa dikelonin tiap hari, umur Mogi udah dua tahun lebih dua bulan. Udah montok, jarang sakit, ganteng lagi. Seneng kalau pas tidur, terus tangannya melingkar di leherku. Ya wajarlah … aku perhatikan bener asupan makanannya. Susunya aja nggak sembarangan. Aku kerja keras dan merelakan separuh gajiku buat keperluannya. Termasuk beli susu yang bagus, yang bisa mendekati kualitas ASI, supaya Mogi tumbuh besar, sehat dan cerdas. Tapi ada pertanyaan-pertanyaan yang entah karena iri atau apa, aku nggak tau.

“Kenapa sich sampai segitunya?”

“Cuma binatang aja dibela-belain?”

“Kenapa nggak ambil bayi-bayi yang terlantar aja yang dibuang ke tempat sampah atau di panti-panti asuhan?

Ini masalah hati, choy. Aku nggak bisa mengabaikan suara hati aku. Entahlah, mungkin karena aku sayang banget sama Mogi. Mungkin juga karena itu impianku. Tapi nggak mungkinlah aku kasih dia ASI, karena air susuku cuma untuk calon anakku, dan wadahnya untuk calon bapaknya. Hehehe … jangan ngebayangin ya, ntar ‘ngajo’ lagi ―ngayal jorok.

Lama kelamaan, Memes seneng juga lihat tingkah Mogi yang lucu dan ngegemesin. Makin hari makin sayang, perhatiannya pun makin nambah. Lihat aja kalau Mogi lagi demam, Memes lah yang paling panik. Duh, jadi terharu …

Oh iya, karena Mogi udah mulai gede, dia udah ngerti malu lho. Pernah pas aku abis memandikan dia, tiba-tiba keponakan aku main masuk aja ―tanpa ketok pintu. Mogi spontan menutup tititnya dengan dua tangannya sambil tereak-tereak nyari tempat sembunyi. Mungkin, itu karena aku membiasakan dia pake celana dalem, celana luar dan lengkap dengan bajunya. Itu juga jadi dampak yang positif, Mogi jadi nggak mau pipis sembarangan ―malu kalau tititnya dilihat orang lain.

Sejak usia dua tahun, aku memang sudah nggak memakaikan dia pampers, karena dia sudah mengerti kemana harus buang air. Asal pengen pipis atau pub, dia pasti menarik tanganku atau Memesku, Ebesku  ―kalau aku nggak ada di rumah–trus diajakin ke kamar mandi. Karena aku juga nggak mau ngajarin dia kayak kebanyakan orang tua. Mentang-mentang anaknya laki-laki, kalau pengen pipis diajaklah ke luar cari selokan, dan dibukalah celananya di sana. Mudah-mudahan besok kalau dewasa, Mogi nggak kayak manusia laki-laki kebanyakan. Asal ada benda tegak yang menghalangi, kencing dech di situ, saingan ama guk guk. Ckckck …

Mogi juga sudah mulai susah ditinggal. Dia sudah bisa membedakan antara aku yang di rumah ama aku yang mau pergi. Kebiasaanku di rumah yang suka pake celana pendek ditengarainya. Dia jadi ribut kalau aku sudah pake celana panjang. Yang biasanya main sendiri, jadi nggak mau. Baru dandan aja, tangannya yang panjang sudah melingkar di perutku dan nggak mau lepas kemana aja aku pergi. Yang lebih repot, kalau aku lagi pengen pipis. Hadeh …

Meski merasa kebebasanku makin berkurang, tapi jadi kebahagiaan tersendiri buat aku karena merasa dibutuhkan. Dan Mogi akan melepaskan pelukannya jika aku janji mengajak dia pergi dan mencari baju ganti buat dia. Dengan semangat dia pun pergi menuju rak sepatu dan memilih sesukanya.

Kelucuan Mogi yang lainnya, kalau dia nonton Televisi. Kebiasaanku yang suka nonton berita dan politik jadi nularin dia. Dipantengin tuch TV sambil duduk di sofa kecil, mungil dan lucu, yang khusus aku belikan buat dia. Dan Mogi paling marah kalau chanelnya di ganti tayangan sinetron sama bibiku. Maklum, ibu-ibu sukanya nonton sinetron. Dia segera turun dari sofanya, tereak-tereak, dan jejingkrakan. Maksudnya minta diganti. Dan Mogi akan kembali duduk manis, jika maunya sudah dituruti.

Pasti kalau ada yang sirik bakal bilang dech,”Mau jadi apa sich, Nyet, nonton berita politik? Ngomong aja nggak becus!” Ihh …

Sebagai manusia yang berkaca diri, aku sadar kalau binatang juga butuh tempat untuk bersosialisasi. Selain membelikan dia mainan, aku juga mengajak Mogi jalan-jalan ke tempat hiburan, atau main dengan beberapa anak tetangga. Kadang aku undang mereka ke rumah dan mereka pasti mau, karena Mogi punya seabreg mainan yang nggak semua mereka punyai. Waktu ulang tahunnya saja, tak ada yang ketinggalan. Karena mereka semua menyukai Mogi dan aku punya banyak cara untuk bisa menyenangkan mereka.

Tapi yang namanya anak-anak, selalu ada saja yang nakal. Tak terkecuali Mogi yang kadang suka usil meledek temannya, bahkan sampai nangis. Kalau udah gitu, aku nggak perlu banyak ngomong. Cukup aku panggil namanya, lalu aku acungin telunjuk jariku. Dengan cara gitu aja, Mogi udah tahu. Dia langsung datengi aku, memeluk dan mencium aku ―ngerayu, biar aku nggak marah.

Kalau malam lihat Mogi lagi tidur pules, aku suka senyum-senyum sendiri. Ingat lucunya, usilnya. Ngikut siapa ya? Aku kan orangnya nggak suka usil. Oh iya, aku lupa, dia kan anak orangutan. Berarti, ikut bapaknya kali ya …

Tapi dia juga ngerti. Kalau aku lagi sedih, dia nggak bakal rewel. Malah suka bikin aku jadi ketawa, karena dia duduk di sampingku trus mengikuti setiap gerakku. Misalnya, kalau aku lagi melipat tangan, dia meelipat tangan juga. Kalau tanganku lagi menahan dagu, dia juga ngikutin begitu. Ghaghaghag …

Lain lagi kalau lihat aku nangis, dia ambil tissue lalu ngelapin air mataku. Dan kalau aku lagi batuk-batuk, diambil lah botol minumku. Ya, itu karena dia suka lihat aku melakukan begitu ke Memesku.

Pokoknya, apapun yang aku lakukan, semua ditirunya. Termasuk buang sampah pada tempatnya. Nggak peduli bekas bungkus makanannya atau siapa pun, kalau dia temukan di meja atau di lantai, langsung dipungut dan di buang ke tempat sampah.

Harusnya manusia malu kalau lihat kejadian ini. Monyet saja mengerti kebersihan. Itulah gunanya pendidikan sedari dini. Nggak selalu harus pake teori dulu, langsung praktek lebih bagus dengan ngasih contoh yang baik.

Berarti, orang yang jorok itu karena induknya juga jorok kali, ya. Dan orang yang nggak ngerti buang sampah di tempatnya itu karena induknya juga begitu? Pantes kalau banjir sering disebabkan karena got yang mampet dan sungai yang kotor penuh sampah. Kalau satu induk aja suka buang sampah sembarangan, bakal diikutin beberapa generasinya. Apalagi kalau banyak induk begitu, berarti lebih banyak lagi dong sampah yang ngotorin jalanan dan sungai. Hmm …

Kadang si Mogi itu lagaknya kayak orang gede. Apa yang aku kerjain direbut sama dia. Maunya dikerjakan sendiri, padahal kan belum bisa bener. Makanya, sengaja air minum selalu aku siapkan di botol, biar dia tinggal ambil di meja. Kalau enggak, berkali-kali gelas pecah, air tumpah gara-gara dia ngambil air di dispenser.

Melihat kecerdasannya, aku jadi ngarep si Mogi bisa ngomong kayak manusia. Itu sebabnya tiap mau tidur malam, aku bikin ritual. Sambil ngelonin, aku ajari dia ngomong dan bernyanyi. Dan dia nyimak betul sembari minum susu botolnya. Kalau bosen mendengar aku ngomong, dia tutup mulutku, maksudnya aku disuruh nyanyi. Hehe … lucu ya …

Mungkin ada yang nanya, kenapa cuma waktu tidur aja diajarinnya?

Ya karena Mogi itu hiper aktif ―nggak bisa diem. Cuma kalau lagi mau tidur aja, sambil ngenyot botol susunya, dia anteng.

Tapi, aku jadi nanya-nanya sendiri. Gimana ya kalau nanti ternyata Mogi bisa ngomong beneran? Trus dia nanya aku,”Mama mama, kenapa sich kok Mogi beda ama temen-temen Mogi?”

Gampang choy, aku akan jawab,”Iya sayang, karena kalian lain jenis. Teman-teman Mogi itu manusia, sedangkan Mogi itu binatang.”

Ups! Binatang? Kok kayaknya kasar banget ya? Kalau hewan? Masih kasar juga. Oh iya, satwa. Manusia dan satwa. Sip!

Trus kalau dia nanya lagi,”Mama mama, kenapa sich Mogi nggak punya papa kayak mereka?”

Waduh, aku harus jawab apa nich …

Oke! Aku akan jawab begini aja,”Karena mama nggak nikah sayang … Jadi Mogi nggak punya papa.”

Lalu, kalau dia terus ngejar,“Kenapa mama nggak nikah? Ayo dong mama, mama harus nikah biar Mogi punya papa.”

Ampun DJ … ini jawaban yang sulit untuk dijawab. Aku harus jujur apa bohong ya? Kalau aku bohong berarti aku mengajari dia nggak bener. Akibatnya, seperti manusia pada umumnya yang berkembang jadi koruptor. Wah bahaya! Korupsi yang sudah mengakar di negeri ini kan awalnya  dari kebohongan-kebohongan kecil, juga dari lingkungan yang paling kecil ―rumah. Mudah-mudahan nanti kalau dewasa, Mogi bakal jadi satwa yang jujur. Biar manusia lebih malu lagi, karena pada hakekatnya, derajat manusia lebih tinggi dari binatang.

Kalau janji? Nggak bagus juga kalau nantinya nggak bisa menepati. Aku saja nggak suka digituin, masak aku mau melakukan begitu. Itu namanya nggak konsisten. Ya udah, jujur ajalah …

“Kayaknya mama udah nggak punya cinta, sayang … Cinta mama yang tinggal satu-satunya, dimainin sama orang yang paling mama sayangin. Mama masih belum bisa lagi mencintai yang lain. Mau dia punya pacar, punya istri, atau mati sekalipun, cinta mama tetap buat dia … ”

Huuuuffftt … aku jadi sedih membayangkan Mogi yang kecewa dengan jawabanku. Tapi mau gimana lagi? Aku kan harus jujur. Ya, kejujuran memang nggak selamanya manis, kadang bahkan terasa sangat pahit. Tapi ya udahlah, yang terjadi terjadilah. Mungkin suatu saat nanti jawabanku bisa berubah dengan berjalannya waktu, karena rencana manusia seringkali tidak sejalan dengan rencana Tuhan …

( Casablanca, 7 Oktober 2012 )

Tari Adinda, aktivis Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) dan penggiat di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut