Cerpen: Keringat Dini Hari

Ilustrasi (Foto: Rionggo)

Joni akhirnya menginjakkan kaki di Jakarta. Tak henti-hentinya ia menebar senyum kepada semua orang. Dalam hatinya berbisik: Hei, kota yang angkuh, yang isinya manusia-manusia yang sombong, aku menginjakmu sekarang. Dengan tas ransel yang menempel di punggungnya, juga dus berisi kue Tori-kue khas dari Toraja, Joni melangkah tegap keluar dari Terminal.

Tetapi sebuah SMS tiba-tiba menginterupsi senyum si Joni. Isinya begini: “Dek, Joni, saya tidak bisa menjemput. Mobil Carry pak Tugimin, tetangga sebelah, tiba-tiba rusak sehabis narik tadi siang. Kamu naik taksi saja, ya. Bilang ke Sopirnya: antar kan saya ke Tebet. Samping Stasiun. Nanti kujemput di sana.”

Joni kebingungan. Ia tiba di kota angkuh itu tengah malam. Kira-kira pukul 12.00 malam lewat sedikit. Di kantongnya hanya tersisa selembar uang merah dan dan beberapa lembar uang seribuan. Lalu, didatanginya seorang petugas bandara dan bertanya.

“Mas, kira-kira kalau saya naik taksi dari sini ke Tebet, bayar berapa ya?”

“Ya, di atas seratusan lah, Mas. Tapi, kalau tidak mau naik taksi, bisa naik bus DAMRI. Ongkosnya cuma Rp 25 ribu. Hanya saja, kalau sudah agak larut begini, bus Damri-nya jarang. Mas mau ke daerah mana?”

“Tebet.”

“Hmmm..nanti di lihat saja di bagian depan bus itu. Di situ ada tulisan nama daerah tujuannya. Kalau Pasar Minggu, silahkan naik. Tapi kalau tidak ada, naik Kampung Rambutan juga tak masalah. Nanti minta diturunkan di daerah Pancoran,” si petugas menjelaskan cukup detail.

Joni hanya mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan ke halte bus. Tadi dia merasa sebagai pemenang. Sekarang, dengan uang terbatas di kantongnya, ia merasa kalah. Kota yang angkuh itu, yang dikuasai oleh modal, tak memberi banyak pilihan pada Joni. Dikenangnya kata-kata orang sekampungnya yang pernah merantau ke Jakarta: Kalau kau punya uang, kau bisa jadi Raja di Jakarta. Tapi kalau kau tak punya uang, kau akan jadi manusia tak ada harganya.

*****

Hampir sejam ia duduk di bangku halte bus. Yang ditunggu-tunggu tak juga menampakkan diri. Sebungkus rokok di kantongnya, yang disumbang oleh tetangganya di kampung sebagai salam perpisahan, nyaris ludes. Tiba-tiba seorang perempuan muda menghampirinya.

“Mau minum kopi, mas. Biar nggak ngantuk,” ujar perempuan itu.

“Segelas berapa, mbak?” tanya Joni dengan suara pelan.

“Cuma tiga rebu, mas. Ada Pop Mie untuk pengganjal perut juga Lho..”

“Saya pesan kopi saja, mbak.”

Dengan lincah, perempuan muda itu mengambil sebungkus kopi kapal api dari jualannya, lalu disiram air panas. Dan kopi pun siap dihidangkan.

“Sudah lama jualan di sini, mbak,” pertanyaan basa-basi meluncur dari mulut Joni.

“Baru sebulan ini, mas. Ini juga dagang kucing-kucingan. Ada security yang ngebolehin, tapi ada juga yang ngelarang. Tapi, ya, namanya hidup di Jakarta, mas, harus nekat. Kalau tidak nekat, tidak bisa hidup,” jawab perempuan muda itu.

Joni merogoh uang seribuan di kantongnya. Rasa prihatin bercampur kedermawanan-nya muncul. Dan diberikannya 6 lembar uang ribuan yang tersisa di kantongnya. “Ambil saja lebihnya, mbak,” ujarnya. Dan perempuan muda itu berulangkali mengucap terima kasih sebelum meminta diri melanjutkan pekerjaannya.

Tak lama kemudian, baru empat kali hirupan, bus Damri muncul di hadapannya. Seseorang berteriak: “Kampung Rambutan…Kampung Rambutan..!” orang-orang berebut naik. Dan tanpa berpikir panjang, juga berdasarkan rekomendasi si petugas kebersihan, Joni pun berebut naik ke bus Damri itu.

Di atas, ia mulai merasa tenang. Segera setelah membayar uang karcis, ia mulai memejamkan mata.

****

“Taman Mini..Taman Mini…yang mau turun di Taman mini, silahkan siap-siap,” teriak kondektur bus mengingatkan. Joni terbangun dari tidurnya yang cukup pulas. Perasaan gusar menghampirinya. Ia tak tahu dirinya entah berada di mana sekarang. Kepada kondektur ia bertanya, “Pancoran masih jauh, mas?”

“Waduh, Pancoran sudah lewat mas. Sudah lewat..jauhhh sekali,” jawab si kondektur.

“Bang, turun di depan aja, di Taman Mini. Nanti naik taksi atau angkot ke daerah Kampung Melayu,” seorang pria di belakang Joni tiba-tiba memberi usulan.

“Saya mau ke Tebet, mas, bukan Kampung Melayu.”

“Iya, Kampung Melayu itu sudah deket Tebet. Dari sana tinggal naik ojek atau Bajaj,” kata pria itu dengan suara tinggi.

Joni merasa dirinya tak punya banyak pilihan. Bus berhenti, ia pun ikut turun. Kakinya menginjak sebuah daerah yang benar-benar sangat asing baginya. Meski sudah jam 02.00-an, jalanan masih sangat ramai. segerombolan anak muda yang naik motor, dengan suara yang meraung-raung, mengagetkannya. Ia segera menyingkir ke pinggir jalan.

“Wah, jangan sampai ini geng motor seperti dalam TV itu. Aduh, Tuhan, mampus aku,” bisiknya di dalam hati.

Tangannya segera meraih ponsel di saku celananya. Tangannya segera mengetik pesan berikut: “Sy di Taman mini. Sy bingung mau k Tebet. Byk geng motor di sn. Sy takut. Paman bs jemput sy.” Beberapa menit kemudian datang pesan balasan: “Aduh, jauh sekali itu. Tidak ada kendaraan di sini. Motor dirumah dibawa sepupumu, Anton, ke Tangerang. Kau naik mobil Carry nomer 05 arah cililitan. Kalau ada keramaian, kau turun di sana. Nanti kau naik lagi mobil Mikrolet M06. Saya jemput kamu di Kampung Melayu.”

SMS itu tak membuat hati Joni jadi tenang. Perasaan cemas benar-benar menguasai dirinya. Matanya memperhatikan semua kendaraan yang lewat di depannya. Kalau ada kawanan orang yang naik motor, ia menghindar masuk ke pos polisi yang kosong. Tiarap di dalam selama beberapa menit. Setelah itu, ia keluar lagi.

Joni memang pantas takut. Di kampungnya, di Sulawesi sana, ia menyimak serius pemberitaan soal geng motor yang–menurut media–sangat kejam dan beringas. Ia mengikuti cerita tentang Klewang, bos geng motor di kota Pekanbaru itu, yang tak segan menganiaya korban dan memperkosa gadis-gadis remaja.

Tiba-tiba, sebuah mobil patroli Polisi singgah di depannya. Dua orang polisi turun dari atas mobil dan mulai menghentikan kendaraan yang lewat, baik motor maupun mobil. Joni hanya menyaksikan. Ia melihat polisi itu memberi hormat kepada pengendara motor yang berhasil dicegat. Terjadi perbincangan sebentar. Lalu, si pengendara memperlihatkan sesuatu, entah STNK atau SIM. Tapi, ada juga pengendara yang nekat menerobos tak mau berhenti. Ada juga yang langsung berbalik arah menghindari pencegatan. Lalu, si Joni melihat seorang Polisi memasukkan sesuatu ke dalam sepatunya. Entahlah….

Sebuah angkot Carry 05 lewat. Penumpangnya cuma dua orang. Tetapi barang bawaannya banyak sekali: karung-karung berisi sayuran. Mobil itu juga dicegat si Polisi. Tanpa banyak bicara, si sopir memberikan sesuatu ke Polisi itu. Entahlah. Tapi, setelah itu, si sopir dibebaskan pergi. “Mas, mau ke mana mas,” tanya sopir itu ke Joni dengan kepala melongo keluar.

“Mau ke kampung Melayu, pak,” jawab Joni.

“Naik sini aja, nanti turun di Kramat Jati. Nanti nyambung angkot ke kampung Melayu di sana,” kata sopir itu menawarkan jasa.

Joni hanya mengangguk sebentar dan langsung naik ke mobil. “Tasnya jangan digeletakin di lantai, mas. Nanti kotor. Ini ada bekas air Ikan,” kata seorang penumpang menasehati Joni. Joni hanya mengangguk dan menuruti nasehat itu.

Perasaannya agak tenang sekarang. Setidaknya bahaya geng motor sudah berlalu dari dirinya. Hati kecilnya tak berhenti mengucap terima kasih kepada Tuhan. ‘Tuhan, kalau bukan karena pertolonganmu, mungkin aku sudah celaka di kota angkuh ini,” hati kecilnya berbisik.

Tak lama kemudian, jalan mobil angkut yang ditumpangi Joni melambat. Ia melongo ke luar jendela. Ohh, banyak sekali pedagang di subuh hari begini. Lalu, angkot itu pun berhenti. Dua penumpangnya turun bersama barang-barangnya. “Mas, turun di sini aja mas. Nanti ada mikrolet M06 ke kampung Melayu. Naik itu mas,” ujar sopir angkot itu ke Joni.

Joni hanya menuruti. Sebagai orang baru di kota ini, juga karena pengetahuannya yang minim soal kota ini, belum lagi isi kantongnya yang tipis, ia tak punya banyak pilihan.

Tapi, pemandangan subuh itu benar-benar menarik perhatiannya. Di Subuh begini, yang sebagian warga kota sudah terlelap dalam tidur, ada sekelompok orang yang masih melek. Bahkan, mereka masih membanting tulang untuk mengeluarkan keringat.

Joni teringat pengalamannya sewaktu masih SMP. Suatu hari, pada pelajaran soal ekonomi, gurunya mengatakan: “kemiskinan biasanya menyangkut perilaku individu. Mereka yang malas paling sering jadi penyandang kemiskinan. Bangsa pemalas sudah pasti akan menjadi bangsa yang miskin pula.”

Joni tidak setuju dengan pernyataan gurunya itu. Ia merujuk pada tetangganya yang seorang petani. Namanya pak Abdullah. Pak Abdullah hanya seorang buruh tani. Dia hanya menggarap sawah milik orang lain. “Setiap hari, seusai sholat Subuh, Abdullah sudah melangkah kaki ke sawah. Kadang ia membawa serta istri dan anak-anaknya. Mereka membanting tulang hingga petang datang. Setiap hari dia begitu. Tetapi Pak Abdullah tetap miskin. Sementara pemilik tanah, yang hanya ongkang-ongkang kaki di rumahnya, justru tambah kaya,” kata Joni kepada gurunya.

Subuh itu, di hadapan si Joni, kenyataan itu kembali terhampar jelas: orang-orang miskin itu, yang sering dicap pemalas oleh orang-orang pintar dan orang kaya, justru membanting tulang tak menghiraukan waktu. Mereka bekerja…terus bekerja. Tetapi tetap saja hidup miskin. “Orang-orang itu bukanlah bekerja untuk hidup, melainkan hidup untuk bekerja,” kata Joni dalam hati.

Kaki Joni terus melangkah. Apa yang dirasakannya beberapa jam lalu, pilihan terbatas sebagai pendatang baru di Jakarta, seakan lenyap ditengah etos kerja kaum miskin yang tak mengenal kata istirahat. Rongga-rongga dada Joni tiba-tiba lapang begitu mengingat pesan kakeknya: betapa bermartabatnya orang yang memakan apa yang dihasilkan dari keringatnya sendiri, bukan memakan sesuatu dari keringat orang lain.

Dan tiba-tiba, sebuah Mikrolet M-06 melintas di depannya. “Kampung Melayu, Mas”? tanyanya. “Silahkan naik, mas,” jawab si Sopir. Joni melangkah kaki ke atas angkot M-06 dengan menebar senyum ke semua orang di atas angkot. Wajah murung dan cemasnya sirna sudah.

Tak lama kemudian, angkot tiba di Kampung Melayu. Seorang bapak Tua langsung menyongsong Joni yang baru turun dari angkot. “Hei, anakku, selamat datang di Jakarta. Mana barang bawaanmu?”

Joni melongo sebentar. Dan tiba-tiba mulutnya menyemburkan: “Aduhh, dus berisi kue Tori itu, bikinan ibu di kampung, tertinggal di atas mobil Bus dari bandara itu, Paman.”****

Selamat ulang tahun Jakarta!

Pasar Minggu, 21 Juli 2013

Aji Prasetyo ([email protected])

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut