Kemenangan Donald Trump dan Artikulasi Kemarahan

Kemenangan Donald Trump sebetulnya tidak mengejutkan. Fenomena politik semacam itu sebelumnya sudah terjadi di banyak negara, dari Amerika Latin, Asia hingga Eropa. Kita sering menyebutnya “kebangkitan populisme”.

Populisme, baik kiri maupun kanan, lahir dari rahim keadaan yang sama: pertama, krisis ekonomi yang tidak terlesesaikan dan memicu ketidakpuasan massa-rakyat; dan kedua, rapuhnya hegemoni politik kekuatan dominan.

Trump mewakili populisme kanan. Dia lahir di tengah puing-puing kegagalan neoliberalisme di AS. Mulai dari kegagalan agenda perdagangan bebas North America Free Trade Agreeement/ perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA) hingga krisis ekonomi tahun 2008 yang membuat ekonomi AS bak rumah kartu yang runtuh.

NAFTA sangat melukai rakyat AS, khususnya kelas pekerjanya. Catatan Economy Policy Institute menyebutkan, sepanjang 1993 hingga 2013, NAFTA menghilangkan 851.700 pekerjaan di AS. Sejak 2001, ada 60.000 pabrik yang tutup. Disamping itu, tidak sedikit pabrik yang pindah ke Meksiko yang upah buruhnya lebih rendah.

Di sisi lain, Meksiko juga terkena dampak lebih berat. Sektor pertanian dan industri kecilnya hancur. Alhasil, pengangguran melimpah ruah. Untuk melanjutkan hidup, mereka menyeberang sebagai imigran ke AS.

Tetapi itu belum cukup. Tahun 2008, Negeri Paman Sam ini dihajar krisis ekonomi. Sektor keuangannya hancur berantakan. Dalam sekejap, ada 600.000 orang jadi tuna-wisma. Dan lebih dari 5 juta rumah di sita sejak krisis 2008. Menurut National Low Income Housing Coalition, ada 7,1 juta rumah tangga AS yang tidak sanggup menjangkau harga/sewa rumah.

Neoliberalisme benar-benar menjadi neraka bagi rakyat AS. Persis seperti yang digambarkan Naomi Klein: “Di bawah kebijakan neoliberalisme, seperti deregulasi, privatisasi, penghematan dan perdagangan bebas, standar hidup mereka turun drastis. Mereka kehilangan pekerjaan. Mereka kehilangan pensiun. Mereka kehilangan jaring pengaman sosial. Mereka melihat masa depan anak-anak mereka lebih ketimbang sekarang.”

Ketimpangan ekonomi juga kian melebar. Seperti yang dicatat Bernie Sanders: kekayaan 0,1 persen keluarga terkaya di AS setara dengan kekayaan 90 persen keluarga lainnya. Ketimpangan ini tertinggi sejak tahun 1920-an.

Situasi itulah yang menciptakan ketidakpuasan yang meluas. Tahun 2011 lalu, muncul gerakan massal Occupy Wall Street (OWS) yang mempersoalkan ketimpangan ekonomi, korupsi dan keserakahan korporasi/Wall Street.

Ironisnya, pemerintah abai dengan protes itu. Alih-alih menolong warganya yang tercekik krisis, negara justru berpaling untuk menolong para bankir dan pebisnis yang merugi melalui program dana talangan (bailout).

Situasi itu membuat api ketidakpuasan dan frustasi itu kian membesar. Itu juga yang membuat Republik tumbang di pemilu 2008. Orang berharap ada perubahan dan itu dipercayakan kepada Obama. Sayang, Obama tidak berbeda jauh dengan pendahulunya.

Tidak jarang ketidakpuasan itu disalurkan dengan menghukum partai berkuasa. Di bawah Obama, Demokrat kehilangan hampir seribu kursi state legislature di negara bagian, selusin kursi gubernur, 69 kursi DPR dan 13 kursi senat. Jadi, kekalahan Hillary hari ini merupakan kelanjutan dari merosotnya dukungan Demokrat.

Pada titik itulah populisme kanan muncul. Mereka turut merespon ketidakpuasan dan rasa frustasi ini, menginjeksinya dengan propaganda populis (anti-pasar bebas dan nostalgia nasionalisme), lalu membelokkannya menjadi kebencian terhadap imigran, orang Islam dan saingan dagang/ekonomi (Jepang dan Tiongkok).

Persis itu yang dilakukan Trump. Dia menyebut NAFTA sebagai “perjanjian dagang terburuk yang pernah diteken oleh AS”. Dia bilang NAFTA menghilangkan banyak pekerjaan orang Amerika. Dia juga menentang Trans-Pacific Partnership (TPP) yang menjadi proyek besar Obama di akhir kekuasaannya.

Trump juga beberapa kali menyindir Wall Street. Dia menyebut Wall-Street serakah. “Kamu tahu kelas menengah yang membangun negeri ini, bukan orang-orang Hedge Fund. Aku tahu hedge fund itu tidak berkontribusi apapun dan itu konyol,” kata Trump kepada Bloomberg.

Tetapi, betulkah Trump menghianati kelasnya (kapitalis besar)? Tentu saja, tidak. Ingat, Trump adalah pebisnis besar di sektor real estate. Forbes mencatat kekayaan Trump mencapai 3,7 miliar USD. Dia akan menjadi Presiden terkaya dalam sejarah Amerika.

Di lihat dari program ekonominya, Trump justru sangat berpihak pada bisnis. Dia berencana memangkas pajak perusahaan dan klas menengah AS. Dia juga berjanji akan mengurangi golongan tarif  pajak dari sebelumnya 7 golongan menjadi hanya 3 golongan, serta memangkas batas atas tarif yang selama ini sebesar 39,6 persen menjadi 33 persen.

Tetapi kenapa orang memilih Trump?

Pertama, ada kekecewaan yang akut terhadap situasi ekonomi, terutama di kalangan kelas pekerja. Ini terbaca dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos, 72 persen pemilih menganggap ekonomi AS hanya menguntungkan kaum kaya dan penguasa.

Dari semua kandidat Capres, hanya Bernie Sanders dan Trump yang berusaha merespon keresahan ini. Tentu dengan motif dan keseriusan yang berbeda. Trump hanya bicara ekses neoliberalisme, seperti hilangnya pekerjaan, kemiskinan, dan turunnya pendapatan, tetapi tidak mengeritik neoliberalisme itu sendiri. Sementara Bernie mengeritik neoliberalisme, sekaligus menawarkan alternatifnya: sosialisme-demokratik. Sayang, Bernie gagal di Konvensi Capres Demokrat. Alhasil, saluran untuk mengartikulasikan kekecewaan itu tinggal Trump.

Trump menampilkan dirinya seolah-olah sebagai penggugat pasar bebas dan neoliberalisme. Kendati ini hanya kesan, tetapi berhasil memikat hati pemilih yang sudah terlanjur frustasi dengan situasi ekonomi.

Kedua, saya mengacu kesimpulan Immanuel Wallerstein, bahwa di banyak negara yang dilanda krisis, termasuk di Amerika Serikat, ketidakpuasan yang massif telah mengarah pada penolakan terhadap politik tengah/moderat.

Rakyat tidak suka pada yang biasa-biasa saja. Mereka berpaling kepada yang agak radikal atau yang menampilkan diri sebagai antitesa rezim berkuasa. Dalam kasus Amerika latin, ketidakpuasan terhadap neoliberal berujung pada kemenangan elektoral gerakan/kandidat berhaluan kiri. Sementara di Eropa, artikulasi ketidakpuasan itu bercabang dua: ada yang menyokong kiri, tetapi ada juga yang berpaling ke ekstrim kanan (chauvinis, anti-imigran, islamophobia, konservatif, dan lain-lain).

Dalam kasus AS, setelah Bernie Sanders gagal dan tidak adanya organisasi rakyat yang kuat, ketidakpuasan itu banyak dimanfaatkan oleh Trump.

Ketiga, ada ketidakpuasan terhadap rezim atau kekuatan politik yang berkuasa. Mereka menganggap rezim atau partai berkuasa tidak peduli dan tidak mendengar aspirasi mereka. Ini juga terbaca pada jajak pendapat Reuters/Ipsos, bahwa 72 persen pemilih menganggap partai atau politisi tradisional tidak memperhatikan nasib mereka.

Sebagai alternatifnya, mereka mencari wajah baru atau pendatang baru yang dianggap tidak terkait atau berjarak dengan rezim yang sedang berkuasa. Dalam konteks Pemilu AS, Donald Trump adalah figur baru.

Keempat, Trump berusaha mengobati rasa kecewa dan frustasi rakyat AS, terutama kulit putih, dengan memberikan obat palsu berupa nostalgia nasionalisme: Make America Great Again!  Ini mungkin terkesan bermuluk-muluk, bahkan terdengar chauvinis dan absurd, tetapi terkadang membangunkan mereka yang kehilangan harapan.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid