Cerpen: Adams dan Eva

“Adam, binatang  apa yang berlari menari-nari dan kadang meloncat-loncat itu. Ia seperti menggodaku?” Siti Hawa mengarahkan jari telunjuknya yang lentik ke arah kerumunan binatang yang sedang merumput dan hanya satu yang berperingai aneh. Kijang berbulu kuning keemasan. Itulah Kijang Mas. Adam pun ingat cerita yang hampir terlupakan tentang Kijang Mas yang menggoda seorang perempuan tapi entah di mana. Hanya saja ia ingat peristiwa itu terjadi di hutan belantara yang tak terjamah oleh manusia sebelumnya.

Adam tersenyum. Sebenarnya ia hendak menyentil jari telunjuk Siti Hawa dengan jari tengahnya sambil berkata ‘Jangan suka menunjuk-nunjuk!’ Pasti Siti Hawa akan terkejut dan merasa bersalah sebab dialah yang memulai melarang-larang Adam menunjuk-nunjuk segala sesuatu di Taman ini.  Pernah suatu ketika Siti Hawa bilang pada Adam bahwa di Taman ini ada penunggunya tapi Adam tak pernah percaya.

Hingga sampailah pada peristiwa yang tak dapat mereka pahami itu. Adam masih ingat saat itu adalah senja yang indah di Taman. Adam berjalan menyusuri senja merah yang membentang di segala horison dan berdua dengan Siti Hawa menyanyikan lagu masa kanak-kanak tentang matahari terbenam dan belum selesai lagu itu dinyanyikan, Adam  berhenti dan berteriak yakin.

“Lihat! Itu buah terlarang bagi kita! Merah dan menggiurkan?!”

“Jangan Adam. Jangan sekali-kali engkau memainkan jari telunjukmu!” Ya Adam ingat:  itulah pertama kali Siti Hawa melarang Adam menunjuk-nunjuk sesuatu di taman ini.  Tapi saat ini, Adam tak hendak melarang jari telunjuk Siti Hawa menunjuk segala sesuatu di taman ini.

“Adam?”

Adam masih diam saja tapi memandang wajah Siti Hawa yang penuh pertanyaan.

“Mengapa diam saja? Tak boleh aku bertanya tentang sesuatu di taman ini?”

“Hmm. Itu Kijang Mas, Sayang..! Ada cerita tentang Kijang Mas. Tahukah kamu?” Jari telunjuknya yang manis pun ikut menunjuk Kijang Mas yang berlari menari-nari dan kadang meloncat-loncat itu hingga jari telunjuk mereka beradu.

“Tidak. Aku bahkan tidak tahu sama sekali tentang binatang itu. Ayo ceritakan padaku.” Siti Hawa memandang wajah Adam.

“Nanti saja kalau pengetahuanku sudah lengkap.”

“Mengapa tidak sekarang saja? Toh hanya aku yang mendengar…?”

“Ok-lah kalau begitu. Ia bisa menggoda orang sepertimu untuk meninggalkan aturan yang ada.”

“Hanya itu?’

“Ya. Begitulah. Aku lupa. Cerita itu begitu jauh. Begitu panjang. Tak tahu di kota mana. Ada yang cerita..di hutan belantara Sri langka”

Adam mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan.

“Aku ingat, kamu tak percaya di sini ada penunggunya.” Tiba-tiba Siti Hawa membicarakan hal yang lain. Adam tak membalas dan membiarkan Siti Hawa terus berbicara.

“Kalau kamu masih tak percaya, mungkin lebih baik kita makan buah terlarang untuk kita itu. Karena ada penunggu taman ini yang bilang padaku bahwa memakan buah terlarang bagi kita itu justru akan membuka dan menambah wawasan pengetahuan kita.” Mereka berdua pun berlari-lari kecil, bergandengan mendekati Buah Terlarang itu.

“Bukankah ada penunggu taman ini melarang kita memakan satu buah saja di taman ini sementara ia membolehkan memakan semua isi taman ini?”

“Engkau percaya?” Siti Hawa berbisik di telinga Adam.

Adam mulai ragu.

***

“Begitulah Adam menjadi petani. Meninggalkan taman surgawi dan tinggal di Puncak Adam alias Al-Rohun yang kini terdapat di Sri Lanka*.

“Darimana kau tahu, Adams ? Kalau Adam itu menjadi petani?” Eva protes tak percaya pada cerita rayuan Adams .

“Kamu memang bukan anak petani jadi tak pernah bisa menghayati penderitaan Adam setelah di usir dari Taman Eden .”

“Yee..jangan begitu. Ceritamu tidak lengkap.”

“Bukankah itu hukuman Adam? Mulai hidup mengolah tanah dengan kerja keras. Penuh keringat dan darah?”

“Ya. Aku ingat cerita itu.”

“Kau tahu artinya Adam?”

“Tanah.”

“Pintar. Tapi nenek moyang kita tentu lebih pintar.”

“Karena Siti Hawa, bukan?” Adam terkejut.

“Nenek moyang kita sebenarnya penganut garis Ibu. Karena itu para pejuang kemerdekaan sering menyebut: demi Ibu Pertiwi dan bagaimana para petani begitu menghormati Dewi Pelindung petani yang juga perempuan: Dewi Sri, dan juga bagaimana para ningrat dan orang-orang terhormat di Jawa sering disebut dengan mengawali sebutan: Sri. Bukankah Siti juga berarti tanah?”

“Dari mana kamu tahu?” Adams memeluk Eva

“Dari buku harianmu.” Bisik Eva lembut di telinga Adams yang membuat Adams tidak marah dan Adams balas berbisik:

“Kau tahu hukuman Siti Hawa?”

“Akan sakit karena melahirkan.”

Adams mencubit pipi Eva yang menggemaskan dan mulai menciumi bibir dan leher Eva. Mereka pun berguling dan mulai saling melepas baju. Barangkali ini adalah untuk ketiga kalinya mereka saling melepas baju, memandangi dengan teliti masing-masing tubuh yang berbeda. Saling mengagumi dan mencintai. Seringkali juga bercanda dan saling mengejek bila nenek moyang perempuan dan laki-laki memang berbeda tak seperti yang dijelaskan Darwin .

“Apa katamu? Perempuan keturunan Panda, pemakan dedaunan? karena itu menjadi lembut dan manja yang suka dielus sedang lelaki keturunan Beruang, pemakan daging dan suka menerkam?”

“Ya. Ribuan tahun kemudian mereka dapat menyatu menjadi keluarga karena keturunan pemakan dedaunan mau  memakan daging bila sudah dimasak dan dicampur dengan dedaunan. Mereka pun saling berbagi pengetahuan tentang jenis-jenis dan bagian-bagian daging yang enak di makan dan dedaunan yang layak membumbuinya”

“Daging apa yang paling enak?”

“Kamu selalu bertanya itu?” Adams menatap tajam mata Eva yang mulai birahi dengan bibirnya yang bersinar kemerahan. Memang, Adams dan Eva pernah mendengar cerita tentang para canibalis dari Pulau Bismarck, bila daging lelaki yang paling enak adalah bagian leher ke pundak sedangkan daging perempuan, di buah dadanya sedangkan dari Pulau Buru, justru bagian telapak tangan yang terenak

“Bukankah kamu lelaki, keturunan pemakan daging itu?” Eva menggoda dengan menggerakkan tubuhnya sehingga kedua buah dadanya bergetar.

“Tentu saja..” Adams menerkam Eva dan mulai menindihnya. “Tapi tentu hukuman untuk Siti Hawa mulai bisa berkurang dengan temuan-temuan teknologi sekarang. Bisa kaubayangkan bagaimana menderita dan sengsaranya Siti Hawa melahirkan di jaman bercocok tanam itu?”

“Tidak betul juga. Bukankah masih banyak angka kematian ibu akibat melahirkan di negeri ini dan juga negeri-negeri miskin lain?” Eva protes.

“Ya. Maksudku bila teknologi untuk mengurangi rasa sakit karena melahirkan itu bisa diadilkan untuk semua perempuan sementara hukuman untuk Adam sepertinya tak pernah berakhir. Petani-petani miskin dan anak-anaknya masih bergulat dengan Lumpur dan sengat matahari.” Adams mengeluh. Ia pun ingat akan sawah bapaknya di desa.

Adams juga ingat bagaimana kerja keras bapaknya dan juga ibunya mengolah sawah di desa untuk membiayai hidup dan sekolah anak-anaknya, termasuk dirinya hingga menjadi sarjana. Sampai sekarang pun bapak dan ibunya, juga beberapa pemuda dan pemudi di desanya masih bekerja keras mengolah tanah, berkubang lumpur sawah di bawah sengatan matahari tanpa teknologi pertanian yang modern.

“Eva, mereka masih mengolah tanah dengan teknologi Jaman Majapahit!”

“Terus?” Eva bertanya tanpa tekanan. Tapi itu justru membuat jengkel Adams .

“Yah..barangkali kamu ini memang anak cucu Adam tapi sudah di kota sedangkan aku ini memang anak desa dan anak petani jadi bisa kumengertilah penderitaan Adam.”

“Mengapa musti ada barangkali?” Eva protes karena ia menangkap sinisme yang lain dari pernyataan itu.

“Ya. Barangkali untuk kamu. Karena kamu anak yang tak pernah bergulat dengan lumpur sawah dan sengatan matahari,” jelas Adams .

“Ya kamu tahu itu. Tapi jangan begitu. Bukankah aku mencintaimu? Dan kamu?”

Adams tak ragu mencintai Eva, gadis kota yang pertama kali dikenalnya di kota yang pertama kali juga ia injak sejak ia terseret arus urbanisasi.

“Hai, anak petani. Cangkullah aku sekarang. Bila kau setuju, akan aku lanjutkan cerita penderitaan Siti Hawa di saat melahirkan.”

Adams tak membalas.

“Adams ?”

Jakarta , 15 Maret 2009

*keterangan tentang Adam yang diambil dari Wikipedia

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: