Indonesia Dianggap Kehilangan Kedaulatan dalam Mengurus Pendidikan

Indonesia telah kehilangan kedaulatan untuk mengurus pendidikannya sendiri. Demikian kesimpulan pemaparan James Faot, Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) NTT, saat menjadi pembicara dalam seminar sehari bertema “Mengurai Benang Kusut Pembangunan Pendidikan di NTT” di Aula Utama Universitas Widya Mandira Kupang, Sabtu, 22 Oktober 2011.

Di hadapan ratusan mahasiswa FKIP Unwira, James Faot juga mengatakan, benang kusut pendidikan di NTT dan Indonesia pada umumnya tampak dari penyelenggaraan pendidikan yang sangat mewakili kepentingan kapitalisme sebagai kelas dominan dimana lembaga pendidikan hanya berperan sebagai alat pencetak tenaga kerja murah untuk kepentingan akumulasi modal.

Selain itu, James Faot juga mengangkat persoalan pendanaan pembangunan pendidikan yang hingga kini masih sangat terbatas. “Pendidikan nasional yang berkualitas hanya akan terwujud jika pemerintah mengoptimalkan sumber-sumber pendanaan, yang salah satunya adalah melalui penguasaan negara atau sistem bagi hasil yang adil dalam kontrak pertambangan migas,” katanya.

Karena itu, katanya, perjuangan di bidang pendidikan harus pula terintegrasi dengan perjuangan mengembalikan pemanfaatan bumi, air, dan kekayaan alam nusantara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Termasuk bagi terwujudnya tujuan pendirian negara Republik Indonesia, yaitu mencerdaskann kehidupan bangsa.

Pembicara lain dalam seminar sehari ini adalah pakar pendidikan DR. Damianus Talok. Ia menekankan pentingnya pelibatan semua pihak dalam pengembangan kualitas pembelajaran.

Menurut Ketua Senat Mahasiswa FKIP Unwira, Aris Gani, seminar ini diselenggarakan untuk membahas problem pendidikan di Nusa Tenggara Timur dan menggagas jalan keluarnya. Bertindak sebagai moderator adalah Julius Kasimo, Ketua LMND Kota Kupang.

*) Mahasiswa FKIP Biologi Undana dan kontributor Berdikari Online.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut