BO Siap Bersaing Dengan Media Borjuis

Sejak dibentuk  beberapa hari yang lalu,  biro Berdikari Online (BO) DIY menyatakan siap bersaing dengan media borjuis di dunia maya. “Ya, kami siap bergerak,” ujar Jhon Tobing (02/02). Dalam hal mendapatkan iklan sebagai dana perjuangan, Jhon optimis mampu mencari celah alternatif untuk bersaing.

Ketatnya persaingan ini seiring perkembangan dunia digital yang meningkat pesat. Apalagi pergerakan sosial, ekonomi, politik, dan budaya kini yang semakin cepat tidak bisa ditampung oleh media cetak. Media cetak dibatasi jumlah halaman dan proses produksi.

“Sedangkan televisi dan radio dibatasi oleh durasi. Posisi dan peran media online menemukan diferensiasi dan tetap punya kelebihan,” ungkap Jhon Tobing selaku Koordinator Pengembangan Jaringan dan Iklan BO Biro DIY. Bahkan media cetak, yang kini menjadi konvensional akibat perkembangan industri komunikasi, sudah menyediakan versi onlinenya sendiri.

Menurutnya, yang tidak dapat diabaikan bahwa kondisi selalu berubah. Publik dan kebutuhannya penting diperhatikan, kepercayaan publik kepada media utamanya. Di bidang iklan, kepercayaan publik ditandai dengan belanja iklan media melonjak 23% dari tahun 2010 hingga mencapai hampir Rp 60 triliun (Nielsen, 2011).

Meski begitu, sebagai korannya rakyat jelata, Berdikari Online bercita-cita menjadi koran cetak dalam bentuk harian. “Kita harus bisa dibaca oleh rakyat jelata, hanya dengan begitu kita bisa berbicara penyadaran dan perjuangan massa rakyat,” kata Edi Susilo.

Tentang Iklan BO

Untuk  menopang kelangsungan media pergerakan dan memperluasnya, maka BO sangat memerlukan dukungan dana. “Salah satu cara untuk menggali dana perjuangan itu ialah dengan menerima iklan,” kata Jhon Tobing.

Tarif iklan komersial ditetapkan standard. Demikian pula iklan advertorial dan layanan. “Kami tentukan harga normal, pada umumnya tidak beda jauh dengan yang lain. Tapi tentu tarifnya lebih merakyat,” ujarnya. [BO/Jogja]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut