Tiongkok, Sinergi Kekuatan Ekonomi dan Budaya

Tidak lama lagi kita akan memasuki tahun kelinci menurut penanggalan kalender Tiongkok. Tahun baru Imlek yang akan dirayakan oleh saudara-saudara etnis Tionghoa/Tiongkok di seluruh pelosok nusantara hendaknya dimaknai sebagai sebuah refleksi atas perjalanan kolektif kita sebagai bangsa yang sedang berjuang meraih kemajuan di segala bidang. Sebagai bahan refleksi tersebut, sangat relevan bila mempelajari kemajuan yang dicapai Tiongkok, sebuah Negara yang kini tengah menjelma menjadi superpower baru dunia. Bukankah pameo klasik yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok”, masih berlaku?

Model menyimpang Washington Consensus

Semenjak dicanangkannya empat program modernisasi di bawah kepemimpinan Deng Xiao Ping tahun 1978, Tiongkok berkembang pesat dalam bidang ekonomi dan pertahanan. Memasuki abad 21, Tiongkok mengukuhkan diri sebagai eksportir terbesar ketiga di dunia untuk komoditi barang dan kesembilan terbesar untuk jasa komersial (data United Nations Conference on Trade and Development tahun 2004).

Perkembangan bisnis Tiongkok yang begitu ekspansionis, hingga menjangkau “rimba” ekonomi Negara-negara Barat, seperti pembelian divisi PC IBM (raksasa komputer AS) oleh korporasi Tiongkok Lian Xiang. Ekspansi itupun telah merambah saham-saham perusahaan-perusahaan investasi AS macam Blackstone Group dan Morgan Stanley yang dibeli oleh dana-dana hasil investasi ekspor Tiongkok.

Produk Tiongkok telah berhasil mengusai 40% konsumsi impor Amerika Serikat dan menghasilkan surplus perdagangan bagi Tiongkok sebesar kurang lebih 200 miliar dollar AS. Hal ini merupakan buah dari liberalisasi yang dijalankan AS dan akhirnya menjadi “senjata makan tuan.” Tiongkok dalam hal ini berhasil memanfaatkan dogma perdagangan bebas (free trade) untuk memenangkan pertarungan global.

Capaian menakjubkan dalam bidang ekonomi pun ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang mencapai 8-9% per tahun dan cadangan devisa yang menembus 2,5 triliun dollar AS (terbesar di bumi saat ini). Selain itu, Tiongkok juga berhasil menurunkan angka prosentase penduduk miskin dengan standar pendapatan dibawah 2 dollar per-hari menjadi 7% penduduk pada tahun 2007. Padahal di dasawarsa 1980-an, penduduk miskin Tiongkok masih berkisar 60%. Satu hal yang patut diingat, semua itu diraih Tiongkok dengan cara menyimpang dari model Washington Consensus.

Politik intervensi Negara hingga kini masih konsisten dilakukan Tiongkok dalam perdagangan internasional. Salah satu contoh mutakhir adalah devaluasi mata uang Yuan yang menyebabkan rendahnya harga komoditas Tiongkok di pasar dunia. Sebuah langkah yang bagi AS dan Eropa merupakan penyimpangan dan hambatan serius bagi terciptanya iklim perdagangan yang kondusif (baca : menguntungkan AS dan Eropa). Penolakan Tiongkok untuk melepas proteksinya terhadap mata uang Yuan menjadikan Tiongkok sebagai “bulan-bulanan” Negara-negara Barat dalam forum G-20 di Korea Selatan beberapa waktu lalu, namun hal tersebut tak menggoyahkan pendirian Tiongkok.

Menurut beberapa pengamat, Tiongkok menjadi Negara yang mengusung model baru dalam kancah perdagangan internasional, yakni model Walled World. Model ini me-refer pada konsep perdagangan global partisipatif, namun dengan kendali Negara yang kuat atas sistem ekonomi, politik dan kebijakan politik luar negeri. Artinya, partisipasi dalam perdagangan global dengan orientasi utama tetap pada kepentingan nasional. Walled World menjadi alternatif ideologis dari unilateralisme liberal-nya AS dan multilateralisme liberal-nya Eropa.

Basis ekonomi Tiongkok yang kuat melahirkan pula angkatan perang yang tangguh dan berperan strategis dalam percaturan geo-politik dan strategis regional. Kombinasi kekuatan ekonomi dan militer Tiongkok telah membuat Washington selaku “polisi dunia”, merasa terganggu hingga merasa perlu mengintimidasi Tiongkok melalui serangkaian kebijakan, seperti penjualan senjata kepada Taiwan dan latihan perang bersama dengan Korea Selatan dalam krisis Semenanjung Korea. Isu HAM pun “dimainkan” kembali, seperti terlihat dalam penganugerahan Nobel Perdamaian tahun lalu.

Kekuatan Budaya

Selain basis ekonomi yang kuat, Tiongkok dapat dikatakan menjadi contoh baru Negara Asia yang memiliki basis kultural yang khas dengan aplikasi nilai-nilai Konfusianisme dan modal sosial Guan Xi. Kesemua itu menggambarkan kolektifisme (atau dalam konteks Indonesia adalah gotong royong) yang tak hilang meskipun Tiongkok mengintegrasikan diri dengan perekonomian global. Globalissasi budaya tidak mampu menggusur warisan peradaban Tiongkok yang lahir ribuan tahun lalu. Realitas yang menggugurkan hipotesa kaum ideolog liberal yang cenderung mengagung-agungkan budaya global yang pada hakekatnya kental nuansa westernisasi.

Dinamika bangsa dan Negara Tiongkok semenjak kemenangan revolusi 1949, telah mencapai klimaksnya di masa kini dengan pencapaian gemilang dalam beberapa aspek. Harus diakui bahwa ada beberapa kelemahan dibalik superioritas Tiongkok kini, seperti sistem politik otoritarian dan pengingkaran terhadap pluralisme etnis maupun agama. Inilah yang dimaksud sebagai refleksi mendalam mengenai penjelmaan Tiongkok sebagai super power dunia kini. Sepatutnya kita mengkaji secara mendalam segala problematika yang muncul dan meletakannya dalam bingkai kondisi-kondisi obyektif Indonesia.

Diluar itu semua, hal yang sangat berharga dan perlu dipelajari adalah ternyata menyimpang dari doktrin Washington Consensuss menjadi garansi bagi pesatnya kemajuan ekonomi Tiongkok. Bandingkan dengan negeri ini yang masih bergelut dengan ketidak pastian dan kebohongan statistik pemerintah, hanya karena pemerintah terlalu enggan merubah haluan ekonomi dari ekonomi neo-liberal menjadi ekonomi berdikari. Tiongkok merupakan teladan yang patut dicontoh dalam hal ini, ketika prinsip-prinsip kemandirian ekonomi dan kepribadian dalam budaya tidak harus dibuang ketika menjadi pemain aktif dalam arus pertarungan global. Demikianlah selayaknya refleksi menyambut tahun baru Imlek kali ini.Selamat Tahun Baru Imlek 2562.

Gong Xi Fa Chai…

Hiski Darmayana, alumni Antropologi FISIP Unpad dan kader GMNI Sumedang

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut