Berhadapan Dengan Taipan Besar

TEKAD rakyat Pulau Padang sudah bulat: ijin Hutan Tanaman Industri (HTI) PT.RAPP harus segera dicabut. Tekad ini lalu diperjuangkan dengan segala cara, sampai akhirnya mereka mengirim delegasi ke Jakarta untuk bertemu dengan Menteri Kehutanan.

Sayang sekali, begitu bertemu sang Menteri di kantornya di Gedung Manggala, para petani mendapatkan jawaban pahit. Sang Menteri mengatakan, “Pulau Padang adalah pulau kosong alias tidak berpenghuni.”

Petani pun sangat kecewa. Dalam benak mereka, bahan-bahan dan argumentasi yang dibawa untuk bertemu dengan Menteri sudah lengkap, tetapi kenapa Sang Menteri tetap tidak yakin kepada petani dan memperjuangkannya.

Para petani Pulau Padang sebenarnya sedang melawan Goliath. PT.RAPP adalah kepunyaan seorang taipan besar kelahiran Medan, Sumatera Utara. Dia adalah pemilik group bisnis bernama Raja Garuda Mas (RGM), yang kekayaannya ditaksir kekayaan US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 17,5 triliun.

Dia adalah salah satu taipan paling licin di negeri ini. Meski berkali-kali terseret berbagai masalah serius, tetapi taipang yang satu ini selalu berhasil lolos dari daftar hitam. Salah satu perusahaannya di Porsea, Tapanuli Utara, telah dituding bertanggung jawab atas pengrusakan hutan, pencemaran sungai asahan, dan berbagai kerusakan lingkungan hidup di daerah Porsea dan sekitarnya.

Meskipun perusahaannya, PT. Inti Indorayon Utama (IIU), pernah ditutup sementara pada bulan Juni tahun 1998, lalu beroperasi kembali pada tahun 2003. Hanya sebentara saja beroperasinya, pada Maret 2003, perusahaan ini kembali ditutup karena persoalan limbah. Tahun 2005 lalu, perusahaan milik Sukanto Tanoto ini kembali beroperasi dengan bendera barunya: PT. Toba Pulp Lestari (TPL).

Dalam kasus lain, yaitu soal perbankan, Sukanto Tanoto juga dianggap terlibat dalam penyalah-gunaan dana BLBI melalui Unibank–dimana Sukanto Tanoto merupakan pemegang saham mayoritas di bank itu.

Kasus lain yang mengharu-biru pada tahun 2011 adalah ketika Sukanto Tanoto meminta kepada BPPN agar pembayaran bunga untuk kredit US$ 165 juta ditunda 18 bulan. Menurut laporan TEMPO, saat itu BPPN merasa keberatan dan menganjurkan agar 51 persen saham Sukanto di sebuah pabrik kertas di Cina dijual saja. Sukanto menolak usul itu, tapi penundaan bunga 18 bulan diperolehnya. Tak lama setelah restrukturisasi diteken, Sukanto melepas sahamnya di Cina, lalu membangun pabrik di Riau, sekaligus menikmati masa bebas bunga selama 18 bulan.

Perusahaan Sukanto Tanoto lainnya, Asian Agri, juga dituding terlibat dalam kasus penggelapan pajak sebesar Rp1,3 Triliun. Konon, gara-gara TEMPO melakukan investigasi langsung dan mengangkat edisi khusus mengenai kasus ini, majalah milik Gunawan Muhammad itu sempat berurusan dengan Sukanto Tanoto.

Dengan bendera “Raja Garuda Mas Internasional”, Sukanto Tanoto terus merambah dunia dan bisnisnya mulai tersebar di Asia, Eropa, hingga Amerika Selatan. Perusahaannya pun berkembang dari usaha kertas dan bubur kertas, kelapa sawit, konstruksi dan permesinan, energi, sampai pembangkit listrik.

Dia pun punya relasi yang kuat dengan berbagai partai politik, penegak hukum, hingga pejabat tinggi. Bahkan, konon Sukanto Tanoto punya “hubungan baik” dengan Presiden SBY. Pada awal Januari 2008 lalu, Sukanto Tanoto bahkan bisa mengirim surat kepada SBY tanpa melalui jalur resmi.

Soekanto adalah seorang yang sangat kuat, yang kekayaannya bisa membeli hukum dan aparatus di negeri ini. Tetapi, bukan berarti bahwa David tidak bisa mengalahkan Goliath. Sekecil apapun modal rakyat Pulau Padang, tetapi jika mereka bersatu dan mendapat dukungan rakyat Indonesia lainnya, maka seribu Sukanto Tanoto pun akan bisa dienyahkan dari negeri ini. (Rudi Hartono)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut