Berebut Pesohor

Partai politik (Parpol) peserta pemilu 2014 sudah menyerahkan daftar bakal calon legislatif (caleg)-nya ke Komisi Pemilihan Umum. Yang menarik, hampir semua parpol masih mengandalkan nama-nama pesohor, seperti selebritis, olahragawan, dan tokoh-tokoh terkenal.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) disebut-sebut memiliki bakal caleg dari kalangan selebriti. Partai yang dulu didirikan oleh Kiai Haji Abdurrahman Wahid mengusung 40 caleg dari kalangan selebiriti atau 7% dari total caleg yang diajukan PKB.

Nama-nama selebritis yang diusung PKB, antara lain, Arzeti Bilbina, Tommy Kurniawan, Saleh Ali ”Said Bajuri”, Krisna Mukti, Putri Nere, Reza Herlambang, Gita ”KDI”, Akri ”Patrio”, dan Aditya ”Sayuti”. Ada pula keluarga pedangdut Rhoma Irama, seperti Vicky Rhoma, Ridho Rhoma, dan Deddy Irawan.

Sementara Partai Amanat Nasional, yang sempat diplesetkan namanya menjadi “Partai Artis Nasional”, mengusung 20-an caleg berlatar-belakang selebritis, seperti Dwiki Darmawan, Ikang Fawzi, Marissa Haque, Dessy Ratnasari, Hengky Kuniawan, Ayu Azhari, Jeremy Thomas, Anang Hermansyah, dan beberapa nama lainnya. Ada juga nama mantan petenis nasional: Yayuk Basuki.

Partai Gerindra memasukkan nama selebritis, seperti Irwansyah, Jamal Mirdad, Rachel Maryam, Bella Saphira, dan Rahayu Saraswati. Ada pula Riefian (personel band Seventeen asal Yogyakarta), M Rachman (juara tinju IBF dan WBA), dan pebalap Moreno Suprapto. Dari kalangan tokoh masyarakat ada nama Bondan Winarno. Di partai Demokrat, ada nama seperti Yenny Rahman, Anwar Fuady, Dede Yusuf, Vena Melinda, Inggrid Kansil, dan Nurul Qomar.

Di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ada nama seperti Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, Mat Solar dan Angel Lelga. PDI-P mengusung Yessy Gusman, Nico Siahaan, Sony Tulung, Edo Kondologit, dan Rieke Diah Pitaloka. Golkar mengajukan empat caleg selebritis, yakni Tantowi Yahya, Nurul Arifin, Tetty Kadi dan Charles Bonar Sirait. Di Nasional Demokrat ada nama seperti Jane Shalimar, Mel Sandy, Melly Manuhutu, Doni Damara, dan Sawarna (grup vokal Warna). Juga ada nama Ricky Subagja (atlet bulu tangkis) dan Nil Maizar (mantan Pelatih Sepakbola Timnas Indonesia).

Hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Bulan Bintang (PBB) yang tidak mengandalkan selebritis untuk mengerek popularitas partainya. Sedangkan partai Hanura mengandalkan kader artisnya sebagai juru kampanye saat pemilu nanti.

Fenomena pesohor terjun ke politik bukan hal baru. Di gelanggang Pilkada, para pesohor juga ikut bertarung. Beberapa diantaranya bahkan sudah menjadi Kepala Daerah. Di negara lain, sejumlah pesohor pernah menjadi kepala negara, seperti Ronald Reagan (AS) dan Joseph Estrada (Filipina).

Banyak yang menuding, motivasi parpol menggaet pesohor tidak jauh-jauh dari kepentingan mengejar suara. Maklum, dengan menunggangi popularitas si pesohor, parpol berharap bisa menaikkan perolehan suara partainya.

Darrell M. West, penulis buku “Celebrity Politics”, pernah menguraikan faktor-faktor yang memungkinkan para artis terjun ke politik. Salah satunya, kata dia, adalah perkembangan televisi pasca perang dunia ke-II. Kata Darrel, sebelumnya orang mendapatkan informasi dari koran cetak. Belakangan, situasi itu mulai berbalik: orang makin bergantung pada televisi. Perkembangan ini sangat menguntungkan selebritis. Kebudayaan mulai bergeser kepada pemuliaan “selebriti” dan menobatkan mereka sebagai figur penting.

Selain itu, desain politik berbiaya tinggi, seperti dianut oleh sistem politik Indonesia saat ini, sangat menguntungkan kalangan selebritis dan orang-orang kaya. Maklum, dengan kekayaan yang dimilikinya, selebriti bisa membeli kendaraan politik untuk maju sebagai kandidat. Ia tak perlu menempuh jenjang karir politik dari bawah sebagaimana lazimnya aktivis politik.

Hal ini diperparah dengan buruknya kinerja partai politik dan skeptisisme orang terhadap politisi. Survei Centre for strategic and International Studies (CSIS) menyimpulkan, hampir 48 persen rakyat tak lagi mempercayai parpol. Lalu, survei LSI mempertegas lagi bahwa 80 persen masyarakat lebih mendukung calon independen. Artinya, figur artis bisa menjadi pilihan alternatif bagi pemilih.

Masalahnya, ini juga bisa membawa blunder dalam sistim politik kita. Dunia politik kita makin dipenuhi dengan politisi instan, yang hanya mengandalkan populitas dan kekayaan semata. Sejurus dengan hal itu, partai politik juga makin meninggalkan kebutuhan kaderisasi dan kebutuhan mencetak pemimpin politik.

Memang, dalam kehidupan berdemokrasi, siapapun dan profesi apapun berhak terjun dalam politik. Apalagi, soal politik adalah soal kepentingan bangsa dan negara. Dan setiap warga negara punya hak sekaligus kewajiban untuk memajukan bangsa dan negaranya. Termasuk dengan terjun ke gelanggang politik.

Masalahnya, apakah selebritis-selebritis itu memang punya niatan untuk kepentingan bangsa dan rakyat? Jangan-jangan “terjun ke politik” hanyalah proses peralihan profesi untuk mencari nafkah, mengingat bahwa persaingan di dunia hiburan makin sengit.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut