Banyak Cerita Tentang Lapangan Banteng

Ada yang tahu cerita lapangan Banteng? Konon, lapangan besar ini mulai dibangun pada abad ke-19. Dulu orang-orang Belanda menyebutnya Waterlooplein, sedangkan kaum pribumi menyebutnya “lapangan Singa”.

Tetapi versi lain menyebutkan, dulunya kawasan lapangan banteng ini masih rawa-rawa dan hutan belantara. Lalu, pada tahun 1648, kawasan itu dikuasai oleh seorang Belanda bernama Anthonij Paviljoen. Ia mengubah kawasan ini menjadi lapangan rumput.

Lalu, kawasan ini sering berpindah pemilik. Hingga akhirnya, pada tahun 1700-an, kawasan ini mulai diberi nama “Weltevreden”. Gubernur Jendral Mossel (1750-1761) membeli tanah “waltervreden” itu. Ia membangun rumah mewah yang besar, dikelilingi oleh kebun luas, dan dilengkapi telaga-telaga buatan. Kijang dan menjangan sering berlarian di kebun itu.

Gubernur Jenderal Deandels-lah yang membuat Waltervreden  menjadi ramai. Ia mengubah kawasan ini sebagai pusat pemerintahan. Di sana, Deandels membangun gedung istana yang baru—disebut Het Witte Huis (gedung putih). Di depannya, Deandels membangun lapangan parade.

Pada tahun 1828, Belanda, yang pernah ditaklukkan oleh Napoleon, membangun monument Waterloo. Monumen itu di bangun di atas lapangan Waltervreden. Monumen itu merupakan ejekan terhadap kekalahan kaisar Perancis (Napoleon) di Waterloo oleh Belgia. Di atas monument itu, ada patung singa. Makanya, masyarakat pribumi lebih suka menyebutnya “Lapangan Singa”.

Di lapangan itu juga berdiri patung Jan Pieterszoon Coen. Konon, patung itu berdiri dengan tangan menunjuk. Akan tetapi, pada bulan Maret 1943, patung Jan Pieterszoon Coen dirobohkan. Hancurlah simbol keangkuhan kolonialisme Belanda itu.

Setelah Indonesia merdeka, Bung Karno menamai lapangan itu menjadi lapangan Banteng. Banteng dianggap sebagai simbol gerakan nasionalisme Indonesia. “Kami adalah nasionalis revolusioner, nasionalis yang radikal, nasionalis kepala banteng!” kata Bung Karno.

Pada tahun 1955, ketika kampanye pemilu digelar, lapangan ini sering menjadi tempat pelaksanaan kampanye parpol. PNI dan PKI sering menjadikan lapangan ini untuk kampanye politik mereka.

Konon, pada sebuah kampanye PKI di lapangan ini, seorang juru-kampanyenya mengatakan, “Saudara-saudara jangan memilih partai Islam karena nantinya lapangan Banteng ini akan diubah namanya menjadi Lapangan Onta.” Benar dan tidaknya joke itu, saya tidak tahu.

Pada tahun 1962, Bung Karno membangun monumen patung di lapangan itu. Nama patung itu adalah “Patung Pembebasan Irian Barat”. Patung itu masih berdiri dengan kokoh hingga sekarang. Patung itu diresmikan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1963.

Pada masa RIS, tempat ini juga sering menjad di tempat sidang anggota parlemen. Pada tahun 1970-an, ketika orde baru berkuasa, di sekitar lapangan banyak berdiri markas dan kompleks militer.

Itulah sekilas cerita tentang Lapangan Banteng.

ANNA YULIA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut