Bakso Ayam Menjadi Alternatif Wirausaha

Jadi Tempat Curhatan Anak-Anak SMP yang jadi Pelanggan

Bakso ayam. Mendengar namanya tentu terdengar sedikit asing. Sebab, bakso yang biasa kita makan biasanya terbuat dari daging sapi. Namun, Haryadi menganggap bakso ayam bisa membuka pasar lebih lebar kedepannya. Bagaimana usahanya berjalan?

“PAK Har, jangan bilang-bilang sama dia ya,” ujar salah seorang siswa berseragam putih biru pada pria berperawakan sedang dan sedikit tambun. Pria yang dipanggil Pak Har tersebut tersenyum sambil manggut-manggut.

Namanya, Haryadi. Biasa dipanggil Pak Har. Dia bukan guru bimbingan konseling di sekolah melainkan, pedagang bakso daging ayam yang mangkal tepat di sebelah SMPN 4 Jember. Namun, ia justru sering menjadi tempat curhat para pelanggannya yang kebanyakan adalah anak sekolah. Mulai dari anak SMP, SMA hingga mahasiswa.

Lulusan fakultas ekonomi universitas widya Mandala ini mengaku lebih suka melakukan pendekatan emosional dengan para pelanggannya. Ia menganggap anak-anak itu adalah anak-anaknya sendiri.

Tak hanya melulu persoalan antar kawan, persoalan mempertimbangkan jenjang pendidikan pun menjadi makanannya sehari-hari. Tak jarang, mereka hanya nongkrong dan berbincang dengannya di warung baksonya jika sedang sepi pembeli.

Haryadi memulai usahanya sejak 1999. Ia berpikir, bakso ayam adalah makanan yang belum ada di Jember. Dengan begitu, ia tidak akan bertemu dengan banyak saingan. Harganya pun lebih terjangkau karena menggunakan daging ayam.

Mulanya, ia belum memiliki tempat yang tetap untuk menjajakan bakso ayam miliknya. Ia pun punya akal. Didandaninya motor bututnya dengan menambahkan rombong bakso miliknya tepat di samping sebelah kiri. Butuh 3 bulan untuk mendandani sendiri motor bututnya.

Ia berkeliling menggunakan sepeda motor itu untuk menjajakan baksonya. Butuh waktu yang lama untuk mencocokkan rasa yang pas dengan lidah masyarakat Jember.

“Ya namanya juga barang baru. Kalau mau laris, kita butuh memperkenalkannya berulang kali dan mencari inovasi agar rasanya bisa pas dengan lidah masyarakat,” ujar bapak 2 anak ini.

Dan Haryadi memang butuh waktu hingga 7 tahun lamanya sampai ia bisa mendapatkan pelanggan. Ia pun mulai mencari tempat untuk menetap agar tak perlu lagi berkeliling. Dan rumah kecil di sebelah SMPN 4 Jember menjadi pilihannya.

Rumah itu memiliki arsitektur Balanda, terkesan tua, tapi warna putih dari kapur yang dilaburkan di temboknya membuat rumah itu terlihat bersih. Ia menata 5 meja panjang dengan kursi-kursi plastik di depan teras rumah dan juga halamannya.

Awalnya memang, hanya anak-anak SMPN 4 yang kebanyakan mendatangi warung bakso ayam miliknya. Namun akhirnya, kenikmatan bakso ayam miliknya mulai ditularkan dari mulut ke mulut. Dari siswa SMPN 4 Jember, pelanggannya menjadi bertambah mulai dari SMPN 3 Jember, dan lain sebagainya.

Maklumlah, harga yang ditawarkan Haryadi cukup terjangkau kocek pelajar. Ia mematok Rp 3500 per mangkoknya. Jika beruntung, mereka yang datang lebih pagi bisa mendapatkan semangkuk tulang ayam yang masih menyisakan sedikit daging dan tulang muda gratis.

Satu mangkoknya berisi, satu bakso ayam berukuran jumbo yang berisi tulang muda ayam dengan dua bakso ayam halus berukuran kecil serta tahu bakso yang juga berisi adonan bakso daging ayam.

Karena namanya bakso ayam, Haryadi tak sedikitpun menggunakan unsur daging sapi di dalamnya. Kuahnya pun bening dan memiliki rasa kaldu ayam yang tipis dan tidak membuat eneg. Persis seperti kuah sop ayam karena dilengkapi dengan daun seledri yang memiliki aroma khas.

Baksonya yang kenyal dan nikmat disantap dengan kuah mengepul itu akan lebih afdzol jika disantap dengan gorengan yang disediakan Haryadi. Bentuknya bulat-bulat, terbuat dari adonan tepung yang dibumbui hingga terasa liat dan crunchy jika digigit. Gorengan itu dijual terpisah dengan baksonya dan dihargai Rp 500 per buah.

Ia membuka warungnya mulai pukul 10 pagi hingga pukul 18.00 petang. Meski kini ia masih mengontrak rumah mungil itu seharga Rp 4 juta per tahunnya, kini dengan menetap di satu tempat ia bisa meraup untung sebesar Rp 800 ribu per harinya.

“Kedepan, jika anak-anak saya sudah besar, saya baru akan buka cabang. Kalau sekarang, anak-anak saya masih butuh perhatian. Jadi cukup dengan berdagang sendiri saja,” tandasnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut