Membangun Perpustakaan Untuk Rakyat

Minggu lalu sejumlah budayawan, intelektual, dan pecinta sastra dikejutkan oleh rencana penutupan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, sebuah pusat dokumentasi karya-karya sastra Indonesia yang bersejarah dan terlengkap di dunia. Di dalamnya, antara lain, tersimpan ribuan karya sastra, naskah drama, dan manuskrip sejumlah sastrawan ternama. Pasal rencana penutupan ini, adalah keputusan Pemerintah Daerah DKI Jakarta, tentang alokasi anggaran yang sangat tidak memadai untuk mengatur dan merawat dokumen sebanyak dan sepenting itu. Setelah banyak protes yang disampaikan, akhirnya Gubernur Fauzi Bowo mengunjungi tempat tersebut, dan menjamin tetap beroperasinya PDS HB Jassin sesuai tuntutan perawatan dengan dukungan anggaran pemerintah daerah (Pemda). Untuk sementara riwayat nasib PDS HB Jassin masih memperoleh titik kejelasan untuk tetap hadir di tengah kita.

Namun masih banyak persoalan-persoalan lain terkait penghargaan terhadap sejarah, sastra, dan kepustakaan, yang terabaikan. Kita mengetahui, penguasa di masa lalu maupun kini sering melakukan tindakan-tindakan yang tidak beradab seperti memusnahkan dan melarang buku. Dalam bagian dari kisah tragedi 1965 yang melanda bangsa Indonesia, berbagai karya dan dokumentasi berharga milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer dibakar habis. Contoh lain yang masih baru, kita menyimak kabar bahwa sebuah tempat yang sempat menjadi perpustakaan Bung Hatta di Yogyakarta telah berubah wujud menjadi counter makanan cepat saji McDonald. Kemudian berita lain tentang ribuan buku koleksi Adam Malik telah dijual secara tidak bertanggungjawab dengan ditimbang kiloan. Belum lagi dengan modus dan istilah “teror bom buku” yang dapat berdampak pada ketakutan rakyat terhadap buku yang seharusnya diakrabi.

Mungkin ada kalangan yang meremehkan hal ini dan lebih memajukan aspek pragmatisnya saja. Tapi kejadian-kejadian demikian menggambarkan betapa terbelakangnya budaya kita. Bila budaya dapat diartikan sebagai tiap-tiap usaha manusia untuk memajukan kemanusiaannya, maka budaya bangsa adalah tiap-tiap upaya manusia dalam suatu bangsa untuk memajukan bangsanya. Mempelajari ilmu pengetahuan dan sastra merupakan salah satu dari usaha tersebut. Dengan ilmu pengetahuan suatu bangsa menjadi cerdas dan maju, dan dengan sastra, suatu bangsa dapat mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra, sehingga budi pekertinya terasah menjadi lebih peka terhadap perkembangan situasi sosial sekaligus terhadap bentuk-bentuk relasi sosial yang ada di dalamnya.

Dalam hubungan dengan situasi ekonomi bangsa, persoalan sekarang lebih pada kesempatan mayoritas rakyat mengakses karya ilmiah dan karya sastra. Dalam iklim komersialisasi, sulit membayangkan perpustakaan dapat dibangun secara massal di seluruh daerah secara merata. Selain itu, jumlah buku yang diterbitkan di negeri ini tergolong masih sedikit dibandingkan negeri lain, dan harganya tidak terjangkau oleh rakyat miskin. Jangankan di pelosok atau pedalaman negeri ini, di ibukota negara atau kota-kota besar pun sangat sedikit kita jumpai perpustakaan yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Di antara yang sedikit tersebut, selain perpustakaan umum yang dikelola pemerintah, terdapat juga perpustakaan yang dikembangkan oleh individu atau komunitas-komunitas yang kemudian dapat dijangkau umum.

Memang benar, perkembangan teknologi informasi seperti internet telah mempermudah akses masyarakat sedikit lebih luas terhadap sastra dan ilmu pengetahuan. Namun tetap keadaan ini jauh dari cukup. Minat, perhatian, dan penghargaan terhadap karya sastra, karya ilmiah, atau bahan bacaan umumnya, tentu saja tidak jatuh dari langit melainkan melalui pengkondisian yang dilakukan secara sadar. Salah satu pengkondisian yang dapat dilakukan adalah pengadaan perpustakaan-perpustakaan di berbagai komunitas, sampai di tingkat desa, keluarahan, atau RT/RW. Di sini bisa terdapat upaya sendiri oleh komunitas yang mampu, atau langkah politis menuntut pengadaannya kepada pemerintah bagi yang tidak mampu. Tentunya kandungan bacaan pun perlu diarahkan dan disesuaikan dengan cita-cita kemerdekaan (mencerdaskan kehidupan bangsa), dan sesuai dengan kebutuhan bangsa menghadapi berbagai cengkraman masalah saat ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut