60 Tahun Konferensi Asia-Afrika, Masihkah Anti Kolonialisme?

Bulan April 2015 besok tepat 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Dari sejarahnya, konferensi ini adalah sebuah pertemuan internasional yang menghadirkan negara-negara yang tergabung dalam benua Asia dan Afrika.

Di tahun 1955, untuk pertama kalinya pertemuan ini digagas dalam kerangka untuk menentang dominasi negara-negara utara (Eropa dan Amerika). Tercatat 29 negara hadir dalam pertemuan ini dan pesan utama yang dihadirkan dalam pertemuan ini adalah anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

Efek dari pertemuan tahun 1955 ini sungguh luar biasa. Semangat anti kolonialisme menyebar hingga keseluruh Asia dan Afrika. Tidak tanggung-tanggung, ada 78 negara yang bisa merdeka dari penjajahan dalam kurun waktu 30 tahun sejak pertemuan ini digagas untuk pertama kalinya. Sebuah kemajuan yang sudah pasti tidak diinginkan oleh negara-negara imperialis.

Dibulan april nanti, Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA). Dibeberapa kesempatan, seperti yang telah dirilis oleh banyak media, Pemerintahan Jokowi-JK telah menyebarkan undangan kepada 109 negara untuk hadir dalam pertemuan ini. Semangat untuk mengumpulkan banyak kepala negara dalam satu forum resmi internasional merupakan sebuah peluang besar bagi negara ini membuktikan kepada dunia bahwa negara ini punya andil besar dalam perjuangan melawan anti kolonialisme seperti yang menjadi semangat awal dalam pertemuan tahun 1955 silam. Tapi benarkah semangat itu masih ada?

Sejak tahun 1955, praktek kolonialisme belumlah hilang. Seperti yang pernah dipidatokan oleh Sukarno dipembukaan KAA 1955, “Kolonialisme belum mati. Kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektual, penguasaan materiil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal ditengah-tengah rakyat. Ia merupakan musuh yang licin dan tabah, dan menyaru dengan berbagai cara. Tidak gampang ia mau melepaskan mangsanya. Dimana, bilamana, dan bagaimanapun ia muncul, kolonialisme adalah hal yang jahat, yang harus dilenyapkan dari muka bumi.”

Melihat situasi yang terjadi sekarang ini, maka tepat apa yang diucapkan oleh Sukarno. Dulu bangsa Indonesia adalah sponsor utama pertemuan ini sekaligus sponsor penting dari perjuangan anti-imperialisme dan anti-kolonialisme. Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Dominasi negara-negara imperialisme semakin kokoh menancapkan dominasinya disemua lini kehidupan bangsaini. Ironisnya, dominasi imperialisme itu dilegalkan melalui puluhan UU berbau neoliberal. Dan sebagian besar UU tersebut disahkan pasca reformasi.

Ekonomi nasional yang mandiri, sebagaimana dicita-citakan oleh KAA 1955, justru tidak terbangun. Yang terjadi, ekonomi nasional kita makin dikuasai asing. Semua bahan kebutuhan rakyat, termasuk sembako, diserahkan kepada mekanisme pasar. Belum lagi, soal Sumber Daya Alam yang dikuasai dan dirampok habis-habisan oleh asing. Negara-negara dunia ketiga yang rata-rata juga tergabung dalam KAA 1955 masih diposisikan sebagai penyedia bahan baku, pasar tenaga kerja murah, dan lahan sumber investasi asing. Itulah cerminan praktek neo-kolonialisme!

Semangat KTT Asia Afrika 1955 sebenarnya terus menggelora dibelahan dunia lain. Terbukti di negara-negara bagian selatan Amerika, seperti Bolivia, Ekuador, Uruguay, Kuba, Venezuela dan masih banyak lagi, justru berusaha untuk keluar dari dominasi imperialisme dan kolonialisme negara barat. Negara-negara ini bahkan telah membangun blok sendiri yang dinamakan ALBA dan CELAC (Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia), yang menekankan hubungan solidaritas dan kerjasama yang setara. Sebuah langkah maju yang bisa dijadikan contoh.

Dengan mengusung kampanye TRISAKTI dan NAWACITA pada saat kampanye dan saat dilantik sebagai Presiden ke 7, seharusnya Presiden Jokowi memanfaatkan momentum peringatan 60 Tahun KAA ini untuk menggelorakan semangat anti-neokolonialisme dan anti-imperialisme. Gelora semangat untuk membangun tata dunia baru yang lebih mengedepankan kesetaraan.

Perjuangan anti-imperialisme dan anti-kolonialisme haruslah seiring sejalan dengan perjuangan rakyat dinegara lain melawan kapitalisme negara dunia pertama. Mengingat kembali apa yang telah dipidatokan oleh Sukarno pada pembukaan KAA 1955 denga judul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru”. Sukarno mengutuk kolonialisme lama dan mengingatkan bahaya kolonialisme baru yaitu, Neokolonialisme. Dan Neokolonialisme inilah yang sekarang menjajah bangsa ini.

Alif Kamal, Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat- Partai Rakyat Demokratik (KPP- PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut