AS Resmi Hapus Kuba Dari Datfar Negara Sponsor Terorisme

cuban

Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Barack Obama mengambil langkah bersejarah hari ini, Jumat (29/5/2015), dengan menghapus Kuba dari daftar negara-negara yang mensponsori aksi terorisme.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Jeffrey Rathke, mengumumkan keputusan ini melalui siaran pers, Jumat (29/5/2015). “Batas waktu 45 hari pemberitahuan ke Kongres sudah lewat, dan Menteri Luar Negeri sudah memutuskan untuk mengakhiri penetapan Kuba dalam daftar negara sponsor terorisme, mulai berlaku hari ini, 29 Mei 2015,” kata Jeffrey Rathke.

Sebelumnya, pada tanggal 14 April 2015, Presiden Obama sudah mengajukan surat pemberitahuan kepada Kongres untuk meminta penghentian penunjukan Kuba dalam daftar negara sponsor aksi terorisme. Namun, dalam batas waktu 45 hari itu, Kongres AS tidak memberikan tanggapannya.

Namun demikian, Departemen Luar Negeri AS mengakui, “meskipun AS punya perhatian serius dan ketidaksetujuan dengan banyak kebijakan dan tindakan Kuba, namun hal itu diluar kriteria yang relevan untuk pembatalan penetapan negara sponsor kriteria.”

Langkah berikut yang ditunggu adalah penghentian embargo sepihak oleh AS terhadap Kuba dan penutupan pangkalan militer AS di teluk Guantanamo. Bagi Kuba, dua hal tersebut akan menjadi langkah penting untuk normalisasi hubungan kedua negara.

Pada tanggal 17 Desember 2014, Obama mengumumkan arah baru hubungan AS dengan Kuba dan berbicara soal normalisasi hubungan bilateral kedua negara yang dimulai pada tanggal 22 Januari 2015 di Havana, Kuba.

Kemudian, di bulan Januari, AS mengumumkan rencana menghapus Kuba dari daftar negara sponsor teroris sebelum pertemuan negara-negara se-benua Amerika (Summit of the Americas) yang telah memfasilitasi pembukaan Kedutaan Besar di kedua negara. Pertemuan itu berlangsung di Ibukota Panama, Panama City, pada tanggal 10 dan 11 April 2015. Pemerintah Kuba ikut serta dalam pertemuan regional ini untuk kali pertama.

Masuk Daftar

AS memasukkan Kuba dalam daftar negara sponsor teroris pada tanggal 1 Maret 1982. Saat itu, Kementerian Luar Negeri AS menuding Havana sebagai tempat penampungan teroris karena menawarkan perlindungan kepada militan Basque ETA dan pemberontak marxis FARC di Kolombia.

Pihak AS juga sangat terganggu oleh tindakan pemerintah Fidel Castro yang melatih dan mempersenjatai pemberontak di Afrika dan Amerika Latin untuk melawan imperialisme AS. Padahal, pada saat yang sama, AS juga mengganggu kedaulatan negara-negara yang demokratis.

Kuba Bukan Ancaman

Pada tahun 1998, sebuah kajian komprehensif oleh komunitas intelijen AS menyimpulkan bahwa Kuba tidak menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional AS.

Hasil kajian itu dipublikasikan oleh Dewan untuk Relasi Luar Negeri (CFR) di website mereka, 23 Maret 2010. Dengan demikian, tidak relevan untuk mencantumkan Kuba sebagai negara yang mensponsori aksi terorisme.

Dewan itu juga mengatakan, ahli intelijen juga tidak mampu untuk memperlihatkan bukti yang menunjukkan bahwa Kuba membantu organisasi teroris. Namun, saat itu pemerintah AS tetap bersikukuh untuk mempertahankan Kuba di dalam daftar, yang hari ini ditambah oleh Suriah, Iran, dan Sudan.

Pengumuman Fidel Castro di tahun 1992

Kuba menjadi penghuni tetap daftar negara yang mensponsori terorisme sejak tahun 1982. Sekalipun, pada tahun 1992, Fidel Castro mengumumkan bahwa Kuba tidak lagi mendukung kaum pemberontak di luar negeri.

Namun, Departemen Luar Negeri AS berpendapat, Kuba tetap dipertahankan di dalam daftar karena secara terbuka menentang kebijakan ‘perang melawan teror’ yang dipimpin oleh AS dan terus merawat hubungan baik dengan negara-negara yang dianggap oleh AS sebagai sponsor terorisme, seperti Suriah dan Iran.

Awal tahun 2010, AS memasukkan Kuba dalam daftar negara yang warga negaranya akan mendapat ‘penyaringan berlapis” saat upaya pengeboman pesawat milik AS tujuan Detroit pada malam natal.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS kala itu,  P.J. Crowley, mengatakan, “kuba ditetapkan masuk dalam daftar negara sponsor terorisme dan kami pikir penetapan itu sudah sepantasnya mengingat dukungan mereka terhadap kelompok radikal di kawasan itu.”

Pemerintah Kuba menguntuk tindakan AS itu dan menyebutnya sebagai tindakan bermotif politik dan sikap bermusuhan.

Laporan AS tentang Kuba Tahun 2008

Di tahun 2008, dalam laporan mengenai terorisme, Kementerian Luar Negeri AS menyatakan bahwa Kuba tidak lagi aktif mendukung perjuangan bersenjata di Amerika latin dan tempat lain di dunia. Namun, laporan itu juga memberitahukan bahwa Kuba masih menyediakan tempat yang aman bagi beberapa teroris.

Ini tidak pernah terbukti. Dan faktanya, Kementerian Luar Negeri AS pada tahun 2008 mengakui bahwa tidak bukti teroris—hubungannya dengan aksi pencucian uang di sistim perbankan Kuba.

Washington juga mengakui, sejak tahun 2006 Kuba tidak lagi menyediakan tempat yang aman bagi setiap pelarian AS yang berniat melakukan terorisme. Bahkan, laporan di tahun 2008 melaporkan bahwa Havana menolak pelarian AS yang hendak memasuki negara kepulauan itu di tahun 2006.

Ahli konsultasi dari CFR menyetujui bahwa pemerintah Kuba sudah berhenti mempersenjatai dan melatih pemberontak FARC di Kolombia di tahun 1991. Juga terbukti bahwa Kuba tidak pernah membantu kelompok gerilyawan lain di Amerika Selatan sebagaimana dituduhkan AS.

Di bulan Mei 2002, Wakil Menteri Luar Negeri AS John Bolton menuduh Kuba memiliki program senjata biologis terbatas dan menjualnya ke ‘negara-negara bandel’.

Namun, mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell kemudian membantah pernyataan Bolton itu dan menyatakan bahwa dirinya tidak yakin Kuba punya senjata biologis.

Fidel Castro menolak Terorisme

Segera setelah serangan 11 September di New York, Fidel Castro muncul di televisi nasional untuk mengecam serangan teroris tersebut. Kuba juga menawarkan bantuan medis kepada para korban dan membuka bandara Kuba untuk disinggahi pesawat komersil AS yang dialihkan saat serangan itu.

Beberapa minggu kemudian, pemerintah Kuba menandatangani 12 perjanjian anti-terorisme PBB. Namun, Kuba menuduh pemerintah AS telah mensponsori aksi terorisme melawan pemerintahan di Havana.

Dampak Daftar Negara Sponsor Teroris

Ketika AS memasukkan sebuah negara—Kuba, Iran, Suriah, dan Sudah—dalam daftar negara sponsor teroris, dampaknya adalah bahwa negara bersangkutan tidak bisa terlibat dalam ekspor senjata jenis apapun. Ini juga disertai dengan pembatasan bantuan ekonomi dan keuangan.

Washington secara aktif menolak setiap bantuan dari Bank Dunia dan institusi keuangan dunia lainnya terhadap negara-negara ini.

Setiap warga negara AS yang ingin melakukan transaksi keuangan dengan pemerintah negara yang terdaftar sebagai sponsor teroris harus mendapat ijin dari pemerintah AS. Ditambah lagi, larangan bagi Departemen Pertahanan AS untuk menandatangani kontrak di atas 100 ribu US dollar dengan perusahaan negara yang dikontrol oleh negara yang masuk daftar sponsor teroris.

Sumber: teleSUR / OA-cs-TP

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut