Ancaman Kelas Menengah Venezuela

Kekalahan Partai kiri Venezuela dalam perebutan kursi parlemen Majelis Nasional menjadi catatan serius bagi seluruh gerakan kiri dimanapun. Bagaimana tidak, Venezuela selalu dianggap sebagai laboratorium keberhasilan sosialisme abad 21.

Kaum kanan yang dipimpin Enrique Capriles Radonski dan Leopoldo Lopez mengkampanyekan kemenangan mereka adalah jawaban atas ketidakpuasan dari pemerintahan otoritarian yang terus berkuasa. Dia bahkan mengusulkan referendum terhadap Maduro.

Sejauh ini memang belum ada analisa yang mendasar atas penyebab kekalahan  Parta Sosialis (PSUV) tersebut. Namun, sepanjang pemerintahan kiri berkuasa kelas menengah telah menjadi residu. Bisa disimpulkan, keberhasilan partai oposisi MUD dalam menyabet 99 dari total 167 kursi tersebut, salah satunya diakibatkan kegagalan pemerintah dalam mengantisipasi naiknya jumlah kelas menengah diVenezuela.

Sejak dipimpin Hugo Chavez, Venezuela perekonomian Venezuela selalu menunjukkan tren positif. Hanya saat menghadapi kudeta dan penutupan industri minyak saja pendapatan per kapita Venezuela turun 20%. Di tahun 2002 itu, gelombang kemiskinan juga sempat naik hingga 17% atau mencapai 62% dari total populasi. Sementara angka pengangguran mencapai 18%. Tapi angka itu tidak separah sebelum Chavez menjadi presiden.

Tak butuh waktu lama, perekonomian Venezuela kembali bangkit. Sepuluh tahun pasca kudeta, jumlah pengangguran menurun drastis, angkanya selalu dibawah 8%. Hingga pada tahun 2014, hanya 7% warga yang menganggur. Menteri Pembangunan Sosial Venezuela Hector Rodriguez sendiri menyampaikan pada tahun 2015 ini tingkat kemiskinan Venezuela turun ke rekor terendahnya, hanya 5,4%.

Pencapaian tersebut merupakan buah dari investasi program sosial yang diluncurkan pemerintah. Misalnya, 34% APBN 2015 dialokasikan untuk kesejahteraan pensiunan, kesehatan dan perguruan tinggi. Program perumahan rakyat yag dimulai sejak 2011 juga terus digencarkan. Bahkan Pemerintahan Polivarian menargetkan negara itu mencapai ‘zero poor’ (nol kemiskinan) di tahun 2019 mendatang.

Turunnya angka pengangguran dan kemiskinan itu berbanding lurus dengan naiknya kelas menengahnegara pengekspor minyak tersebut. Berdasarkan hasil studi Pew Research Center, selama satu dekade terakhir, jumlah kelas menengah Venezuela naik 20-30%.

Sebagaimana ditulis di atas, kelas menengah Venezuela selalu menjadi duri bagi Pemerintahan Chavista. Sejak tahun 2012, berbagai aksi HAM dilancarkan oleh mereka untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Kampanye tersebut didukung pula oleh PBB yang menyebut Venezuela sebagai ‘kuburan HAM’. Isu HAM digunakan sebagai senjata untuk melemahkan pemerintahan kiri.

Selain HAM, kelas menengah memainkan isu inflasi dan krisis pangan untuk merongrong Maduro. Diberbagai tempat di Venezuela, kelas menengah juga gencar melakukan upaya sabotase dan aksi vandalisme. Contoh supermarket bersubsidi, universitas, tempat rekreasi dan tempat umum lainnya menjadi sasaran pengrusakan oleh mereka.

Menurut James Petras, aktivitas kelas menengah tersebut adalah kesengajaan. Tujuannya untuk memotong hubungan sosial antara pemerintah dan masyarakat  dalam hal pelayanan sosial. Benar saja, selain mengalami kerugian mencapai USD 10 miliar, pamor Pemerintahan Maduro juga ikutan jeblok.

Dengan fakta tersebut, menjadi penting kiranya untuk menata kelas menengah ini. Selama ini, kaum Chavista dibawah Pemerintahan Maduro selalu bersikap vis-a-vis dengan opisisi sayap kanan yang di dukung kelas menengah. Agaknya hal ini menunjukkan kegagalan partai kiri dan Pemerintahan Maduro mengikutsertakan kelas menengah dalam proyek Sosialisme.

Kelas menengah memang terancaman secara ekonomi-politik. Jelas mereka merasa dirugikan akibat tekanan inflasi. Akibatnya, mereka menciptakan distabilitas politik. Karena tidak ada pemerintahan dimanapun yang dapat bertahan di bawah distabilitas politik, maka kaum kiri jangan hanya menjangkau kelas bawah Chavista dan kaum miskin perkotaan. Tetapi juga kelas menengah.

Tanpa itu, revolusi akan jatuh di pedangnya sendiri….

Tedi CHO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut