Aksi Long March Petani Blitar Disambut Pemkot Solo

Setiap perjuangan memerlukan dukungan luas dari rakyat. Petani Mataraman—Blitar dan sekitarnya—sangat menyadari hal itu. Karena itu, di sela-sela aksi long-march menuju Jakarta, petani Mataraman juga terus menggali dukungan dari rakyat dan pemerintah lokal yang dilaluinya.

Ketika melintasi wilayah Solo, Jawa Tengah, petani Mataraman mengambil kesempatan untuk mendulang dukungan dari rakyat dan pemerintah kota (Pemkot) Solo.

Tadi pagi (17/1), sekitar pukul 08.00 WIB, petani berbaris dari Bundaran Gladak Solo menuju Balaikota Solo. Semula petani direncanakan akan bertemu dengan Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo. Namun, rencana itu gagal karena Walikota Solo punya agenda penting lainnya.

Namun, usaha petani tidaklah sia-sia. Mereka disambut oleh Staf Ahli Walikota Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Solo, Agustaf, yang mewakili Walikota Solo.

Dalam pertemuan itu, Agustaf menyatakan dukungan terhadap perjuangan petani Mataraman. “Kita semua mendukung aksi yang dilakukan FPPM (Front Perjuangan Petani Mataraman), kalau itu benar kenapa tidak kita lakukan,” ujar Agustaf.

Dalam pertemuan itu juga, Trianto, Koordinator FPPM, mengungkapkan perihal aksi mereka dan tuntutannya. Dia bilang, petani Mataraman ingin menagih janji Presiden SBY terkait distribusi 9 juta hektar kepada petani.

Ia juga menyinggung soal ketidakadilan dan konflik agraria yang terjadi di seluruh Indonesia, termasuk di Blitar. Katanya, perjuangan petani Blitar mewakili kepentingan umum kaum tani Indonesia.

Trianto juga menegaskan tuntutannya terkait penegakan pasal 33 UUD 1945 dan UUPA 1960 sebagai solusi untuk mengatasi konflik dan ketimpangan agraria di Indonesia.

Bergerak Ke Salatiga

Seusai menggelar aksi meminta dukungan di Balaikota Solo, 147 petani Blitar ini langsung melanjutkan aksinya menuju Jakarta.

Sekitar pukul 18.00 WIB, petani memasuki kota Salatiga, Jawa Tengah. Kedatangan petani langsung disambut oleh puluhan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan petani Salatiga.

Petani bersama aktivis LMND kemudian bergerak menuju kantor Balaikota Salatiga. Di sana mereka disambut oleh Sekda Salatiga.

Namun, begitu petani hampir sampai di Balaikota, seorang petani bernama Kasiyanto, 38 tahun, tiba-tiba kesakitan. Petani asal desa Soso, Kecamatan Gandusari, Blitar, ini segera dilarikan ke RSUD Salatiga.

Menurut informasi sementara, Kasiyanto mengalami pendarahan di lambung.

Malam ini, petani Mataraman akan menginap di salah satu ruang sidang Balaikota Salatiga. “Mereka tidur di ruang sidang Pemkot Salatiga dan diundangkan makan malam angkringan. Kasihan mereka dari jauh,” kata Kabag Humas Pemkot Salatiga, Adi Setiarso, Kamis (17/1).

Menurut rencana, malam ini, sekitar pukul 09.00 WIB, petani Matarama akan berdiskusi dengan petani Salatiga. Mereka akan berdikusi tentang konflik agraria yang sedang marak.

Lalu, besok pagi petani Mataraman juga dijadwalkan bertemu dengan Walikota Salatiga.

Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut