Dusun Tukur-Tukur wilayah pemukiman yang berada di kawasan Desa Dodaga, Kecamatan Wasile Timur, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Nama “Tukur-Tukur” sendiri menyimpan cerita turun-temurun yang erat kaitannya dengan asal-usul para leluhur pendirinya.
Berdasarkan kisah para tetua adat, warga setempat menyatakan dusun ini dinamai demikian karena letak geografis awalnya yang menjadi tempat persinggahan atau titik kumpul strategis bagi para pemburu/leluhur yang sedang melintasi bukit-bukit timur di hutan Halmahera.
“Tukur-Tukur” Nama dusun ini berasal dari kata “ray” (kayu ray) yang melintang di jalan. Orang tua zaman dahulu sering berpesan untuk “jaga lewat” saat berjalan di area tersebut agar tidak menabrak kayu ray yang melintang, sehingga tempat itu dinamakan tukur-tukur. Konon, para pendiri dusun ini adalah bagian dari rumpun masyarakat adat yang memiliki ikatan historis kuat dengan suku tobelo dalam (O’Hongana Manyawa).
Sekitar tahun 1970-an, para leluhur dulunya hidup berpindah-pindah (nomaden) mengikuti ketersediaan makanan di sekitar lokasi sebelum akhirnya menetap dan membentuk pemukiman di dusun ini. Warga setempat mayoritas berasal dari Suku Tobelo (khususnya sub-suku O Hongana Manyawa) yang menggunakan bahasa Tobelo.
Sedangkan jumlah penduduk di Dusun ini dihuni oleh sekitar 58 Kepala Keluarga (KK) dengan total jiwa mencapai 238 orang (dari orang tua hingga anak-anak), dan jumlah rumah Terdapat sekitar 43 rumah di dusun ini. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan pekebun seperti tanaman bulanan dan tahunan seperti kelapa, pala, dan cengkih.
Kehidupan sosial di sini diatur oleh hukum adat dan nilai-nilai kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejak hidup bertahun-tahun Warga Tukur-tukur memiliki ritual adat dengan semangat gotong royong tercermin dalam tradisi kerja bakti membangun rumah adat, hingga membantu warga yang ingin membuka lahan perkebunan yang dilakukan secara sukarela.
Tak hanya itu, di dusun ini Warga setempat mempertahankan dan menggunakan bahasa Tobelo (khususnya dialek O’Hongana Manyawa) dalam kehidupan sehari-hari dan Tradisi adat yang masih dijaga merupakan tarian tradisional seperti Tarian Tide-tide dan Cakalele. Selain itu, tradisi leluhur seperti pemujaan arwah (gomanga) sebagian besar sudah mulai ditinggalkan seiring berkembangnya zaman.
Keluhan Warga Terdampak
Di tengah kekayaan alam Halmahera Timur yang melimpah. dusun ini, menyimpan cerita perjuangan yang sunyi. Selama tiga tahun terakhir, pemenuhan kebutuhan dasar berupa air bersih belum dirasakan secara menyeluruh oleh warganya. Meskipun terdapat inisiatif serta upaya pengelolaan air bersih lokal yang dikenal masyarakat sebagai puda manonoa (istilah lokal) kini tidak bisa diharapkan kembali.
Asal muasal Nama Sungai “Puda Manonoa” Nama sungai ini berasal dari sejarah orang tua dahulu yang mengambil damar dan merakitnya menggunakan bambu atau kayu rakit yang disebut “Puda”.
Wilayah Dusun Tukur-Tukur termasuk wilayah yang mempunyai potensi sumber daya alam, mata air yang berada di bukit pegunungan dengan jarak kurang lebih 700 kilometer dari kampung. warga menyebut air tersebut tidak bisa di akses secara menyeluruh ke rumah-rumah karena membutuhkan bak penampunagn dan saluran pipa yang cukup memadai.
“Air minum ini, suda tiga tahun satu-satunya tong pakai bertahan hidup, mulai dari bacuci maju, baras, mandi, bahkan pakai minum, terus tong (kami) ambil air itu pakai jergen dengan keadaan terpaksa kandati air suda kotor, itu berarti suda tidak layak” terang Ripka lepa: pimpinan jemat, warga dusun tukur-tukur.
Di musim kemarau, situasi tertentu jauh lebih menghawatirkan selama bertahun-tahun, air bersih yang menjadi persoalan bagi warga di dusun Tukur-tukur. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka terpaksa memanfaatkan tadahan sisa-sisa air dalam sungai. Namun, kemarau panjang membuat air mengalami penurunan debit yang drastis.
Pemerintah desa sebenarnya telah membangun Bak Penampungan Air dan instalasi pipa besar. Namun, aliran air bersih belum dapat dinikmati secara maksimal oleh warga di dusun karena sambungan pipa utama (terutama di bagian belakang/sambungan labuh) belum terpasang sepenuhnya sejak proyek dimulai sekitar tahun 2023.
Kondisi demikian, warga terpaksa beli pipa secara patungan untuk membiarkan air bisa mengalir sampai ke dapur-dapur mereka. Setiap warga dibebankan secara sukarela sekitar Rp50.000,- setiap bulannya, Kendati demikian air belum maksimal mengalir ke rumah-rumah warga, karena debit yang dihasilkan sangat kecil dan sering air tidak keluar sama sekali.
“Kita terpaksa harus patungan, saling baku bantu sukarela bali pipa biar masyarkat disni bisa minum air yang layak seperti di kota-kota lagi” terang Ripka lepa.
Warga menyebutkan kurang lebih selama tiga tahun terakhir mereka tidak dapat menikmati baik berupa air bersih melalui PDAM, dan fasilitas umum seperti MCK. Warga sempat dijanjikan penyelesaian oleh pihak desa dan dinas terkait (termasuk kunjungan dari pihak kehutanan), tetapi hingga kini realisasinya masih terkendala dan belum tuntas.
Desa Kulo jaya secara administrasi masuk Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Desa Kulo Jaya merupakan desa induk (tercatat sebagai wilayah transmigrasi Satuan Pemukiman / SP III) yang berdampingan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ake Jirah. Berdasarkan penuturan tetua adat setempat, cikal bakal pemukiman di wilayah ini dirintis oleh masyarakat Suku Sawai. kelompok masyarakat adat dari pesisir yang mencari hasil hutan (seperti damar dan gaharu) mulai menetap di tepian Sungai Akejira sekitar tahun 1909
- 1911 dari situ, mereka menetap dan menjadikan hutan ini sebagai perkampungan hingga
kini
Mayoritas warga di Desa ini berasal dari etnis Suku Sawai. Ada juga dari pulau jawa, dan Tobelo galela, dua etnis dari Utara Halmahera. Meski begitu, sebagian besar bahasa mayoritas yang mereka gunakan adalah Sawai, meski warga juga memahami bahasa Tobelo dan Galela.
Abner Dowongi, Sekretaris Desa Kulo Jaya menjelaskan, penduduk Kulo Jaya 503 jiwa, sedang di dusun Kulo Dalam ada 32 jiwa atau 11 keluarga dengan tujuh rumah. Sebanyak 167 Kepala Keluarga (KK) warga di Desa Kulo, Trans kobe, mengalami krisis air bersih parah akibat kekeringan, dan pencemaran melanda wilayah tersebut selama lebih dari enam tahun terakhir.
Wilayah Desa Kulo Jaya, Air kini menjadi bentuk perjuangan bertahan hidup yang dipenuhi rasa cemas. warga mulai merasakan perubahan yang perlahan menggerus ruang hidup mereka: Air sungai mengeruh, tanah retak, dan udara berdebu. Krisis air bersih ini melumpuhkan berbagai aktivitas rutin warga kulo, terutama para petani yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Warga mengungkapkan bahwa bencana kemarau ini selalu menjadi masalah tahunan yang terus berulang. Dampak kekeringan, pencemaran sungai, dan polusi udara ini bahkan terasa kian menyulitkan kehidupan ekonomi warga. “Sekarang sungai basar akejirah suda tidak bisa kami pakai, karena suda tercamar tambang, tanaman ikut mati” terang Anice Nusa Sungai akejirah yang dulunya mereka menggantungkan hidupnya, kini tercemar limbah tambang membuat warga terpaksa mencari air alternatif yang di ambil seadanya.
Kondisi demikian, Anice Nusa seorang warga kulo jaya ini harus memanfaatkan sisa-sisa air yang berada di irigasi demi untuk mencuci, mandi, minum, bahkan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
“ini suda kami punya harapan air satu-satunya bisa kami pakai setiap hari, tidak ada pilihan lain, bersukur kalau suda hujan” terang Anice Nusa.
Pemerintah melalui PDAM belum pernah ada distribusi air bersih atau belum terealisasi sama sekali sejak desa ini terbentuk. Sebagian warga terpaksa mengandalkan penampungan air hujan, dan tadahan sisa-sisa air yang ada.
“suda bertahun-tahun kami bertahan hidup di kampung ini tanpa air keran, hanya mengandalkan pakai jerigen untuk Ambil air di sungai, sekalipun jauh harus berjalan kalau tidak kami harus bagaimana?” terang Anice Nusa.
Sala satu kisah Ibu Anice Nusa, Desa Kulo jaya adalah potret kecil dari bab besar krisis ekologis yang melanda kehidupannya di kawasan lingkar tambang Halmahera Tengah.
Ia mengungkapkan ketergantungan air yang berada di irigasi ini bukan lagi soal kebiasaan, melainkan keputusan terpaksa demi menyambung hidup di tengah musim kemarau panjang dan masifnya ekspansi pertambangan.
Fenomena ini sejatinya menjadi cermin buram dari ketimpangan pembangunan infrastruktur dasar di tingkat tapak. warga akar rumput khususnya para petani dan perempuan di wilayah hilir dipaksa hidup dari bencana ekologi yang menggerus ruang hidup mereka.
Djul Fikram Isra Malayu, Penulis merupakan Aktivis Lingkungan Maluku Utara


