Asa Lewat Pena, Warga Binaan Perempuan Rutan Pondok Bambu Belajar Sastra Dan Seni

Jakarta, Berdikari Online — Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT) bersama Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur menggelar program Asa Lewat Pena di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur. Program yang berlangsung pada 20 Oktober hingga 3 November 2026 ini melibatkan puluhan warga binaan perempuan dalam pelatihan sastra dan seni.

Kegiatan tersebut berlangsung selama 11 hari pelatihan yang dijadwalkan secara berkala. Para peserta mendapatkan pembelajaran menulis puisi, cerita pendek, tari, teater, hingga musik hadroh sebagai sarana pengembangan kreativitas dan ekspresi diri.

Program ini digagas oleh Ketua KSJT Ahmad Prabowo bersama mantan Ketua KSJT Ihwal Benz Satriadji dan Dani OD. Melalui kegiatan tersebut, para penggagas berharap warga binaan memiliki ruang untuk mengembangkan potensi diri sekaligus menuangkan pengalaman hidup melalui karya seni.

Ketua KSJT Ahmad Prabowo dan tim penggagas juga merencanakan penerbitan antologi puisi dan cerita pendek yang memuat karya para peserta.

Ihwal Benz Satriadji berharap penerbitan antologi tersebut dapat menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang tidak menghalangi seseorang untuk terus berkarya dan membangun harapan.

Dalam pelaksanaannya, program Asa Lewat Pena melibatkan sejumlah praktisi seni dan sastra sebagai pendamping. Imam Ma’arif membimbing pelatihan penulisan puisi, sedangkan Kurnia Efendi mendampingi penulisan cerita pendek.

Pelatihan tari diampu Dian Pelita, sementara Budi Kecil memberikan pendampingan teater. Adapun pelatihan musik hadroh dibimbing Rakha Syauki. Dokumentasi visual kegiatan dipercayakan kepada Ikang F dengan dukungan teknis dari Bang Wawan.

Kepala Rutan Kelas I Pondok Bambu, Nur Mustafidah, turut mendukung penyelenggaraan program tersebut. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pembinaan kepribadian dan kemandirian warga binaan serta memberikan manfaat yang berkelanjutan.

Dukungan juga diberikan Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur, Berkah Shadaya. Dalam pembukaan kegiatan, ia menyerahkan seperangkat alat musik hadroh kepada pihak rutan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kegiatan seni dan budaya di lingkungan pemasyarakatan.

Pelaksanaan program ini turut didampingi jajaran pembinaan Rutan Kelas I Pondok Bambu, yakni Ibu Egi, Ibu Yesi, dan Ibu Sri.

Rencana penerbitan antologi menjadi salah satu luaran yang diharapkan dari program Asa Lewat Pena. Melalui penerbitan tersebut, karya para peserta diharapkan dapat menjangkau masyarakat luas dan menjadi bagian dari proses pengembangan kreativitas warga binaan.

Program ini juga menjadi upaya menghadirkan kegiatan kebudayaan yang inklusif dengan memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar, berekspresi, dan menghasilkan karya.

Melalui sastra dan seni, pengalaman hidup yang selama ini tersimpan dapat dituangkan menjadi tulisan dan pertunjukan. Asa Lewat Pena diharapkan menjadi ruang bagi warga binaan perempuan untuk mengembangkan potensi diri serta menumbuhkan harapan selama menjalani masa pembinaan.

(Amir)

[post-views]