“Sebenarnya saya tadinya sudah kerja, Pak, jadi pembantu di kompleks. Saya cuci baju orang lain, bersih-bersih rumah, mengasuh anak kecil.”
Yumika mengucapkannya dengan terus terang. Ia menceritakan bagian hidup yang pernah dijalaninya: bekerja membantu keluarga ketika dirinya sendiri masih membutuhkan kesempatan untuk bersekolah.
Ibunya sakit stroke. Ayahnya, menurut penuturannya, tidak bekerja. Dalam keadaan seperti itu, Yumika ikut memikul kebutuhan keluarga. Ia mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan menjaga anak orang lain.
Di balik pekerjaan tersebut, ada seorang anak dengan masa depan yang belum sempat diperjuangkan.
Kita tidak tahu berapa banyak keinginan yang pernah ia tunda. Kita juga tidak tahu apa yang dipikirkannya setiap kali menyelesaikan pekerjaan. Namun, kesaksiannya memperlihatkan betapa keadaan keluarga dapat mempersempit pilihan seorang anak. Keinginan untuk belajar harus berhadapan dengan kebutuhan hidup yang datang setiap hari.
Kemudian, seorang pendamping PKH hadir membawa kabar tentang Sekolah Rakyat.
“Cuma sama pendamping PKH disuruh sekolah, katanya ada Sekolah Rakyat.”
Kalimat singkat itu menandai terbukanya kesempatan. Ada orang yang memperhatikan keadaannya dan mengajaknya kembali belajar. Di tengah kesulitan keluarganya, Yumika memperoleh jalan untuk menata masa depan.
Bagi seorang anak yang sempat bekerja, ajakan kembali bersekolah dapat berarti mendapatkan kembali kesempatan untuk tumbuh.
Ia bisa belajar, mengenali kemampuannya, bertemu teman, dan mulai memikirkan kehidupan yang ingin dibangunnya. Kebutuhan keluarga tentu tidak serta-merta selesai. Tetapi kini, masa depan anak ikut mendapatkan perhatian.
Di sinilah Sekolah Rakyat, yang digagas Presiden Prabowo Subianto, memiliki arti yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Program ini menjangkau anak-anak yang kesempatan belajarnya terhambat kemiskinan. Melalui pendidikan berasrama dan dukungan kebutuhan sehari-hari, mereka diberi ruang untuk belajar dengan lebih baik.
Kisah Yumika menunjukkan pentingnya menjangkau mereka secara langsung. Anak yang paling membutuhkan pertolongan belum tentu tahu ke mana harus datang. Orang tuanya mungkin sedang sakit, kesulitan mencari penghasilan, atau tidak mengetahui adanya kesempatan pendidikan.
Karena itu, kehadiran pendamping menjadi sangat berarti. Dari perhatian dan tindak lanjut merekalah sebuah program dapat sampai kepada seorang anak.
Dalam percakapan tersebut, anak-anak seperti Yumika disebut sebagai the invisible people, mereka yang penderitaannya belum terlihat.
Ungkapan itu terasa menyentuh karena mereka sebenarnya berada di sekitar kita. Kita mungkin melihat seorang anak membersihkan rumah, membantu berjualan, atau menjaga anak kecil. Tetapi kita belum tentu mengetahui mengapa ia bekerja, bagaimana keadaan keluarganya, dan apakah ia masih bersekolah.
Kita bisa mengenal wajah seseorang tanpa pernah memahami kesulitan hidupnya.
Yumika mengajak kita melihat lebih dekat. Di balik sebutan “anak keluarga miskin”, ada seorang anak yang memiliki nama, pengalaman, keberanian, dan cita-cita.
Ketika ditanya ingin menjadi apa, Yumika menjawab ingin menjadi TNI.
Cita-cita itu kini terucap di hadapan banyak orang. Anak yang sebelumnya bekerja membantu keluarga berdiri dengan percaya diri dan menyebut masa depan yang ingin diraihnya.
Jalan menuju cita-cita tersebut tentu membutuhkan waktu, pendidikan, kesehatan, disiplin, dan persiapan. Namun, keberanian untuk mengatakannya merupakan sesuatu yang berharga. Yumika mulai melihat kemungkinan bagi dirinya sendiri.
Yang juga mengharukan adalah keterbukaannya saat menceritakan keadaan keluarga. Ia menyampaikan bahwa ibunya sakit dan ayahnya tidak bekerja. Ia juga menceritakan pekerjaan yang pernah dilakukannya.
Tidak ada yang memalukan dari usaha membantu orang tua. Yumika telah berbuat sesuatu untuk keluarganya dalam keadaan sulit. Kini, ia layak mendapatkan dukungan agar dapat melanjutkan pendidikan dan mengembangkan kemampuannya.
Kesulitan ekonomi tidak mengurangi martabat seorang anak. Kesulitan itulah yang harus kita bantu atasi agar masa depannya tetap terbuka.
Karena itu, kisah Yumika membawa tanggung jawab bagi semua yang terlibat dalam Sekolah Rakyat. Kesempatan yang sudah dibuka harus dijaga melalui pengajaran yang baik, pengasuhan yang penuh perhatian, makanan yang layak, serta lingkungan yang aman.
Anak-anak perlu didengar ketika kesulitan. Mereka perlu didampingi saat tertinggal dalam pelajaran. Mereka juga perlu mendapatkan penghargaan ketika mulai menunjukkan kemajuan, sekecil apa pun.
Keberpihakan Presiden Prabowo melalui program ini akan memperoleh makna yang semakin kuat ketika anak-anak seperti Yumika dapat terus belajar, tumbuh percaya diri, dan memiliki pilihan hidup yang lebih luas.
Bagi orang tua, kesempatan tersebut dapat membawa ketenangan: ada yang ikut memikirkan pendidikan anak mereka. Bagi anak, ada harapan bahwa kehidupan kelak dapat menjadi lebih baik melalui kemampuan yang terus diasah.
Yumika sudah berani bercerita. Ia sudah kembali membuka cita-citanya. Tetapi masih ada anak-anak lain yang mungkin belum terjangkau, masih bekerja, dan belum tahu bagaimana caranya kembali sekolah.
Mereka perlu ditemukan dan didampingi dengan kesungguhan yang sama.
Dari kisah Yumika, kita belajar bahwa sebuah kebijakan menjadi berarti ketika sampai kepada orang yang membutuhkannya. Di antara anggaran, gedung, dan laporan pelaksanaan, ada kehidupan seorang anak yang sedang berubah.
Tangan Yumika yang dulu mencuci pakaian kini mendapat kesempatan kembali memegang buku. Semoga dari kesempatan itulah ia dapat menulis masa depannya sendiri.
Cerdas Bersama, Tumbuh Setara.
Agustinus Budi Prasetyo Hadi, Penulis Merupakan Tenaga Ahli Menteri Sosial RI


