Gerakan Masyarakat Sipil di Masa Pandemi: Rakyat Bantu Rakyat

Saat berhadapan dengan pandemi korona, pemerintah kelihatan tidak sanggup memitigasi dampak kesehatan, sosial dan ekonomi. Sehingga, akibat keadaan itu, rakyat dipaksa menentukan nasibnya sendiri.

Yang luar biasa, kolektivitas masyarakat dalam menentukan nasibnya sendiri sangatlah besar. Bahwa luluh lantaknya masyarakat menjadi cambuk tersendiri bagi mereka untuk kembali merebut ruang-ruang yang sebelumnya telah didominasi oleh elit berkepentingan. Masyarakat menentukan nasibnya sendiri.

Absennya pemerintah untuk menjamin kebutuhan masyarakat di masa pandemi telah diisi oleh gerakan-gerakan alternatif berbentuk solidaritas antar masyarakat itu sendiri.

Bicara soal perlawanan (resistance), tentu memunculkan berbagai paradigma yang berdasarkan pada tujuan awalnya. Kita bisa sekilas mengingat Identitas Perlawanan yang dikemukakan oleh Manuel Castells dalam bukunya The Power of Identity. Di situ Castells secara gamblang menyatakan bahwa identitas perlawanan dibangun atas dasar suatu bentuk perlawanan kolektif terhadap suatu bentuk kebijaksanaan yang memberikan sebuah tekanan yang tidak dapat ditoleransi.

Identitas perlawanan itu dapat bersifat individu ataupun kolektif, sketsa itu melihat identitas lebih jauh sebagai sumber makna juga dapat berupa proses konstruksi makna yang berdasar pada sebuah atribut kultural atau seperangkat atribut kultural. Bagaimana dengan gerakan solidaritas di Yogyakarta melalui kacamata sosiologi

Bicara terkait aspek sosiologi maka tidak lepas dari relasi dinamika agen dan struktur. Relasi dinamika agen dan struktur ini memperhatikan beberapa hal seperti: Pertama, terjadinya diferensiasi pada masyarakat modern yang—jika meminjam istilah Sosiolog Elias—semakin panjangnya rantai tindakan sosial dan kesalingtergantungan. Kedua, agensi dalam kehidupan sosial tidak bisa dihilangkan atau dihapuskan. Setiap orang/pihak bisa menjadi agen bagi sesuatu. Ketiga, struktur adalah wujud interaksi dalam kehidupan manusia yang kemudian dari hasil interaksi tersebut melahirkan pranata. Jadi struktur, mengutip Giddens, merupakan praktik yang ditata di sepanjang ruang dan waktu (Giddens, 1984). Pertanyaan selanjutnya ialah siapakah agen dan struktur dalam konteks gerakan solidaritas di Yogyakarta?

Agensi dalam konteks gerakan solidaritas di Yogyakarta bisa diposisikan dan dirujukkan kepada masyarakat. Namun mengartikan masyarakat menjadi agensi juga sedikit problematis karena konsep ‘society’, seperti yang dikatakan oleh Ernesto Laclau dalam artikelnya berjudul ‘The Impossibility of Society’, sesungguhnya beragam. Mungkin untuk menghindari masalah teoritis, memilih individu ataupun kelompok menjadi agensi adalah pilihan yang lebih tepat. Individu ataupun kelompok memenuhi kriteria sebagai agensi(setidaknya seperti yang dikriteriakan Giddens) karena mereka memiliki peran menciptakan tindakan sosial yang karena fasilitas atau kekuatan yang dimiliki dan membuat kondisi yang akhirnya memosisikan dia sebagai aktor.

Di sisi lain, relasi dari agen sendiri melahirkan struktur tersendiri. Bagi Giddens struktur dihasilkan di dalam dan melalui suksesi praktik yang diorganisasi olehnya. Dengan demikian eksistensi struktur tidak bisa dilepaskan dari interaksi agensi. Struktur menyerupai sistem sosial, yang oleh Giddens disebutkan sebagai mereproduksi praktik sosial atau “mereproduksi hubungan antara aktor dengan kolektivitas yang diatur sebagai praktik sosial terorganisasi” (Giddens, 1984). Jangkauan struktur sangatlah luas, ia melewati batas bentuk material. Di struktur sendiri itu terdapat institusi, orientasi pengetahuan dan aktor. Namun ketiga hal tersebut bukanlah syarat mutlak sehingga dapat ditambahkan sesuai dengan konteks yang ada. Kemudian kita tarik struktur itu pada level organisasi dimana aktor bergantung. Di organisasi itulah sebuah struktur pengetahuan dibentuk, dari situ diskursus dilancarkan ke dalam diri agensi sehingga ia terus bergerak.

Memaknai gerakan solidaritas di Yogyakarta maka juga tidak lepas dari kerangka gerakan sosial. Giddens (1993) mendefinisikan gerakan sosial sebagai suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama, atau mencapat tujuan bersama melalui tindakan kolektif (collective action)di luar lingkup lembaga-lembaga yang mapan. Ini merupakan definisi luas, karena gerakan sosial pada dasar dapat beroperasi dalam batas-batas legalitas suatu masyarakat, namun bisa juga bergerak secara ilegal atau sebagai kelompok “bawah tanah”. Lalu apa yang membedakan dengan tindakan-tindakan kolektif lain seperti bermain sepakbola atau mengikuti pemilu? 

Bagi Tarrow (1998) konsep gerakan sosial memiliki empat properti dasar, salah satunya adalah ditandai dengan solidaritas dan identitas kolektif. Penggunaan terma “warga bantu warga” dalam gerakan solidaritas Yogyakartamenjadi simbol bagian dari perasaan-perasaan solidaritas atau identitas. Meminjam teori wacana Laclau dan Mouffe, karena bahasa menjadi unsur penting di dalam artikulasi, maka kreatifitas merumuskan suatu wacana yang akan ditawarkan merupakan titik awal munculnya kesadaran kolektif, sehingga mampu merefleksikan perasaan bersama. Selain itu, penggunaan terma lain seperti “Jogja Lawan Corona” dalam gerakan ini juga sukses menghadirkan “musuh bersama”. Wacana-wacana yang terus dipertentangkan tersebut akan melahirkan solidaritas kolektif.

Lebih lanjut, pemahaman mendasar terhadap gerakan sosial seperti itu juga dapat dilihat dalam konstruksi paradigmatik studi gerakan sosial dalamberbagai perspektif. Dalam perspektif structural strainmisalnya, di mana konsep tentang relative devrivation Gurr yang mencoba menerjemahkan timbulnya perlawanan sosial, karena ketidakpuasan (discontent) yang tidak tersalurkan. 

Bila kita menganalisa gerakan solidaritas di Yogyakarta, kehendak masyarakat untuk melakukan gerakan didasari oleh rasa kekecewaan atau ketidakpuasan kinerja pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanganan wabah corona ini. Premis ini dibuktikan dari petisi melalui change.org yang diisi oleh 10.000 responden dalam waktu 2 hari  dengan hasil 42,8 persen responden masih menilai kebijakan pemerintah dalam upaya mengatasi pandemic virus corona (COVID-19) dinilai belum efektif [1].

Bahkan di dalam internal pemerintah pusat antara kementerian kesehatan dengan Gugus Tugas COVID-19 saling melempar tanggung jawab terkait mekanisme pelaksanaan rapid test yang diwacanakan oleh pemerintah pusat[2]. Ketegangan ini berimplikasi nyata dan masyarakat menjadi korbannya. Dengan situasi kondisi seperti itu, masyarakat berinisiatif untuk membantu sesama masyarakat yang juga terdampak.

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Smelser (1963) yaitu enam kondisi yang memunculkan perilaku kolektif yang salah satunya adalah terjadi suatu peristiwa sebagai faktor pemicu munculnya perilaku kolektif.Selanjutnya Gurr juga menjelaskan bila ketidakpuasan tersebut terus terakumulasi dan menemui jalan buntu maka bisa jadi dapat bermetamorfosis menjadi pemberontakan dengan kekerasan (violent) yang berwujud kekacauan, konspirasi atau perang dalam negeri (Gurr, 1970).

Kajian Durkheim tentnag solidaritas sosial dalam bukunya “The Division Of Labour in Society” merupakan upaya untuk mengkaji suatu gejala yang sedang melanda masyarakat yaitu pembagian kerja. Durkheim menjelaskan suatu perubahan cara dimana solidaritas sosial terbentuk atau dengan kata lain yaitu perubahan cara-cara masyarakat untuk bertahan.

Menurut Durkheim, solidaritas dibagi menjadi dua yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Dalam konteks gerakan solidaritas di Yogyakarta, mencermati berbagai aspek seperti situasi, struktur sosial dan dinamika yang terjadi, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat dibilang tergolong dalam masyarakaat dengan ciri solidaritas organik. Solidaritas organik sendiri merupakan ikatan bersama yang dibangun atas dasar perbedaan, mereka justru dapat bertahan dengan perbedaan yang ada didalamnya karena pada kenyataannya bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda (Ritzer dan Goodman, 2011).

Tetapi perbedaan tersebut saling berinteraksi dan membentuk suatu ikatan yang sifatnya tergantung. Misalnya dalam gerakan solidaritas di Yogyakarta ini, secara keanggotaan sangatlah majemuk. Setiap individu memiliki peranan sosialnya masing-masing. Misalnya mahasiswa dan dosen sebagai akademisi yang tergabung ia akan banyak mengkaji terkait kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam merespon wabah pandemi corona. Contoh lain juga pada pengusaha konveksi, pengrajin dan tukang jahit, mereka membuka donasi untuk produksi Alat Perlindungan Diri (APD) bagi tenaga medis yang selama ini mereka butuhkan, seniman yang memamerkan dan menjual karyanya yang nanti akan disumbangkan untuk kebutuhan tenaga medis, pemilik kedai kopi yang memberikan produknya untuk tenaga medis agar mereka tetap terjaga dan contoh-contoh lainnya. Spesialisasi yang berbeda-beda dan peranan sosial ini menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesama, sehingga tingkat solidaritas organik muncul karena pembagian kerja yang bertambah besar.

Aksi gerakan solidaritas ini tidak hanya dilakukan di ranah nyata, namun juga terkonvergensi dengan media yang lain yaitu pada ruang publik virtual melalui pemanfaatan teknologi. Ruang publik virtual pun menjadi strategi sasaran menyampaikan pesan, menyebarkan informasi dan penguatan gerakan. Dalam perspektif Space of Flows yang disampaikan Castells (2010) ruang merupakan arus besar yang di dalamnya terdapat banyak sekali interaksi dan pertukaran informasi antar individu di dalam jarinan yang termediasi oleh teknologi.  

Ruang publik virtual menjadi ruang yang sangat efektif dalam penyebaran informasi. Hal ini dikarenakan ruang publik virtual mampu membuka kemungkinan luas terbangunnya komunikasi dan interaksi bagi masyarakat tanpa sekat ideologi, etnis, dan agama. Struktur sosial dan ruang publik telah mengalami transformasi mendasar, ketika kehidupan manusia mau tidak mau terhubung di dalam jaringan teknologi yang menghilangkan batas teritorial di dalam proses interaksi.

Pemahaman ini sejalan apa yang disampaikan Levi Strauss dalam Nasrullah (2014) sebagai “zero institution”. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan keberadaan institusi atau kelompok warga yang di dalam dirinya tidak melekat kepentingan kelompok. Lebih lanjut, Nasrullah menjelaskan pandangan Strauss ini dengan menyatakan bahwa latar belakang demografis atauideologi politik yang dimiliki oleh entitas menjadi terabaikan ketika berada di ruang virtual. 

Secara lengkap Sari dan Siahainenia (2015) menjelaskan gerakan sosial baru yang terjadi di ruang publik virtual menekankan empat isu penting: 1) adanya unsur jaringan yang kuat tetapi interaksinya bersifat informal atau tidak terstruktur, (2) adanya sharing keyakinan dan solidaritas di antara mereka, (3) ada aksi bersama dengan membawa isu yang bersifat konfliktual, dan, (4) aksi tersebut itu bersifat kontinyu tetapi tidak terinstitusi dan mengikuti prosedur rutin seperti dikenal dalam organisasi.

Berbagi keyakinan dan solidaritas antara entitas yang terlibat menjadi penekanan dari gerakan sosial baru. Bentuk solidaritas ini dapat disaksikan misalnya aksi #JogjaLawanCorona yang digawangi oleh tukang jahit, pengrajin, pengusaha konveksi dan pekerja kreatif di jogja menggelar aksi donasi untuk memproduksi APD, gerakan gotong-royong bantu usaha kecil yang diinisiasi oleh sekelompok mahasiswa UGM menggelar pengalangan donasi untuk membantu masyarakat rentan di tengah-tengah wabah pandemik dan lain sebagainya.

Bentuk-bentuk solidaritas melalui ruang publik virtual ini dijelaskan juga melalui teori penularan (contagion) dalam kerangka teori jaringan aktor (ANT) yang menjelaskan jaringan sebagai saluran untuk menularkan sikap dan perilaku—mencari hubungan antara anggota oranisasi dan jaringan mereka. Kontak disediakan oleh jaringan komunikasi dalam teori penularan. Jaringan komunikasi ini berfungsi sebagai mekanisme yang mengekspos orang-orang, kelompok, dan organisasi untuk informasi, pesan, sikap dan perilaku orang lain (Monge dan Contractor, 2003).

Strategi gerakan solidaritas di Yogyakarta yaitu menyebarkan informasi atau pesan yang disampaikan oleh orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, memiliki maksud untuk dapat mengajak dan membangun jaringan yang lebih luas. Hal tersebut dapat meningkatkan kemungkinan bahwa anggota jaringan akan mengembangkan keyakinan, asumsi, dan sikap yang sama denan jaringan mereka. Pengetahuan, sikap, dan perilaku anggota organisasi terkait informasi, sikap, perilaku orang lain dalam jaringan yang mereka terhubung. Faktor-faktor seperti frekuensi, multiplexity, kekuatan dan asimetri dapat membentuk sejauh mana orang lain mempengaruhi individu.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Gerakan solidaritas di Yogyakarta menghasilkan dua pemahaman, yakni pemahaman mengenai aktivitas gerakan itu sendiri dan wadah bagi gerakan sosial tersebut. Aktivitas itu dapat dilihat dari penekanan pada empat isu penting yang sudah dijelaskan sebelumnya, sementara wadah bagi gerakan ini adalah gerakan nyata dan ruang publik virtual untuk membentuk jaringan yang lebih luas.

PANJI DAFA AMRTAJAYA, mahasiswa Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gajah Mada (UGM).

Daftar Pustaka

Castells, M. 1997. The Power of Identity The Information Age : Economic, Society and Culture. Blackwell Publishing. Oxford.

Castells, M. 2010. The Rise of the Network Society The Information Age: Economy, Society and Culture. Blackwell Publishing. Oxford.

Durkheim, E. 1997. The Division of Labour in Society. Free Press. New York.

Giddens, A. 1993. Sociology : 2nd ed. Polity Press. Cambridge.

Giddens, A. 1984. The Constitusion of Society: Outline Oof thr Theory of Struction. Polity Press. Cambridge.

Gurr, T. R. 1970. Why Men Rebel. Princeton University Press. New Jersey.

Jorgensen, M. W. dan Phillips. 2007. Analisis Wacana: Teori dan Metode, Pustaka Pelajar. Malang.

Laclau, E. 1990. New Reflections on the Revolution of Our Time. Verso. London.

Monge, P. R. dan Contractor, N. S. 2003. Theories of Communication Network. Oxford University Press. New York.

Nasrullah, R. 2014. Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia). Kencana Prenadamedia Group. Jakarta.

Ritzer, G dan Goodman, D.J. 2011. Teori Sosiologi Modern. Prenada Media Group. Jakarta.

Sari, D. K. dan Siahainenia, R. R. 2015. Gerakan Sosial Baru di Ruang Publik Virtual pada Kasus Satinah. Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12 (1) : 105-118.

Smelser, N. J. 1963. Theory of Collective Behavior. The Free Press of Glencoe. New York.

Tarrow, S. 1998. Power in Movement, Social Movement and Contentius Politics. Cambridge University Press, Cambridge.

[1] Informasi soal ini diakses dari: https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/02/100200323/berbagai-respons-rakyat-untuk-pemerintah-terkait-penanganan-covid-19?page=2 diakses pada tanggal 9 April 2020

[2] Informasi soal ini diakses dari: https://kabar24.bisnis.com/read/20200319/15/1215666/beda-pernyataan-rapid-test-antara-menkes-terawan-dan-doni-monardo diakses pada tanggal 9 April 2020

Keterangan foto: nasi bungkus yang dimasak dan dibagi-bagikan oleh Solidaritas Pangan Jogja kepada pekerja informal yang terdampak pandemi. Sumber foto: Facebook/Erna Wati

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid