“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” – Bung Karno
Di sebuah warung kopi di Medan, seorang ibu bertanya kepada saya, “Bang, kapan anak saya bisa sarapan bergizi di sekolah tanpa saya harus berhutang dulu?”
Di pelabuhan Belawan, seorang nelayan tua bertanya, “Kapan laut ini benar-benar untuk kami lagi?”
Di kampus, seorang mahasiswi semester tiga bertanya, “Bang, apakah suara kami masih didengar?”
Tiga pertanyaan yang berbeda, dari tiga tempat yang berbeda. Tapi saya mendengar satu hal yang sama: harapan akan Indonesia yang lebih adil.
Sembilan puluh tujuh tahun lalu, para pemuda di Batavia juga punya banyak pertanyaan. Jawaban mereka bukan berdebat siapa paling benar. Jawaban mereka adalah bersumpah untuk bersatu.
Hari ini, 28 Oktober 2026, kita punya pertanyaan yang sama. Dan jawaban kita harus sama: bersatu.
Kita semua sudah sadar. Sadar bahwa kemiskinan masih ada. Sadar bahwa keadilan belum merata. Sadar bahwa masa depan harus lebih baik. Kesadaran itu adalah modal besar. Itulah #INDONESIASADAR.
Tapi kesadaran tanpa persatuan hanya akan menjadi kegaduhan. Sudah saatnya kita naik kelas menjadi #INDONESIABERSATU.
Ketulusan Yang On Track
Publik tidak butuh janji yang indah. Publik butuh kerja yang tulus dan arah yang jelas.
Ketika seorang anak di pelosok Papua bisa mendapat makan bergizi gratis di sekolahnya, itu bukan sekadar program. Itu adalah pesan bahwa negara hadir dan tulus memikirkan masa depannya.
Ketika kebijakan berpihak pada petani agar sawahnya kembali menguntungkan, dan nelayan agar melautnya kembali bermartabat, itu bukan pencitraan. Itu adalah kebijakan yang on track — kembali ke cita-cita awal Republik: melindungi segenap bangsa dan mensejahterakan rakyat.
Indonesia yang bersatu bukan diukur dari seberapa keras kita berdebat di televisi, tapi dari seberapa lembut kita menjaga tetangga kita yang kelaparan. Persatuan sejati ada di piring makan anak-anak kita, di seragam sekolah yang bersih, dan di doa ibu-ibu setiap malam agar besok lebih baik dari hari ini.
Inilah yang dirindukan rakyat: ketulusan yang bisa dirasakan, bukan hanya didengar.
Lima Poin Persatuan, Untuk Kita Semua
Agar harapan ibu di warung kopi, nelayan di Belawan, dan mahasiswi di kampus itu bertemu, mari kita pegang lima hal ini sebagai janji bersama:
- Satu Bangsa : Apapun suku, agama, dan pilihan politik kita, saat kita lapar, kita sama-sama ingin makan. Saat kita sakit, kita sama-sama ingin sembuh. Kita satu bangsa karena kita punya rasa yang sama.
- Satu Bahasa : Mari kita jaga bahasa kita. Jangan biarkan jempol kita di media sosial lebih tajam dari cangkul petani. Gunakan bahasa untuk merangkul, bukan untuk melukai.
- Satu Tujuan : Tujuan kita bukan untuk saling mengalahkan. Tujuan kita adalah memastikan tidak ada lagi anak yang lapar di sekolah, tidak ada lagi petani yang kalah oleh tengkulak, dan tidak ada lagi suara muda yang merasa tidak didengar.
- Dialog Terbuka : Seorang ayah yang baik tidak akan membungkam anaknya yang bertanya. Negara yang besar tidak akan alergi terhadap kritik. Mari kita duduk satu tikar, minum kopi yang sama, dan bicara tentang Indonesia dengan hati terbuka.
Kepada adik-adik mahasiswa, saya tahu kalian lelah. Kalian turun ke jalan bukan karena dibayar, tapi karena kalian masih peduli. Teruskan kekritisan itu. Kritiklah kami para senior dengan data, bukan dengan kebencian. Kami butuh suara lantang kalian untuk mengingatkan, agar yang on track tidak keluar jalur. Ruang dialog itu masih ada, dan akan selalu kita jaga bersama.
- AKSI KOLEKTIF DAN INTEGRITAS : Persatuan tidak lahir dari status dan komentar. Persatuan lahir dari gotong royong. Dari tetangga yang membantu tetangga. Dan persatuan itu harus dijaga dengan integritas — dengan keberanian mengatakan tidak pada korupsi, sekecil apapun.
Indonesia Butuh Pelukan, Bukan Tolakan
Bangsa ini sudah terlalu lama diajak untuk saling curiga. Sudah saatnya kita diajak untuk saling percaya.
Mahasiswa yang kritis adalah anak kandung Republik yang harus dipeluk, bukan dimusuhi. Rakyat yang berharap adalah pemilik sah negeri ini yang harus dilayani, bukan dilupakan. Dan pemimpin yang tulus bekerja adalah amanah yang harus dikawal bersama, bukan dicurigai setiap saat.
28 Oktober mengajarkan kita: ketika kita bersatu, kita merdeka. Hari ini, 28 Oktober harus mengajarkan kita: ketika kita bersatu, kita maju.
Semoga 28 Oktober ini menjadi titik balik. Dari yang tadinya saling menunjuk, menjadi saling merangkul. Dari yang tadinya saling curiga, menjadi saling menjaga. Karena pada akhirnya, Indonesia ini bukan milik satu golongan, Indonesia ini adalah rumah kita bersama.
Untuk ibu di warung kopi, untuk nelayan di Belawan, untuk mahasiswi di kampus — tulisan ini untuk kalian.
Mari kita bersatu. Mari kita bergerak. Mari kita maju.
Medan, 28 Oktober 2026
Bersatu, Bergerak, Maju.
Herianto SE, Penulis merupakan Aktivis 98

