Tiga Alasan Pelayaran Cheng Ho yang perlu Anda Ketahui

Selama ini umum mengetahui alasan pelayaran Cheng Ho ke Asia Tenggara sebagai misi perdamaian, kebudayaan dan juga aksi polisionil seperti menertibkan jalur perdagangan dari ancaman bajak Laut dengan salah satunya yang terkenal menumpas Bajak Laut China: Chen Zu Yi yang bermarkas di Palembang.

Di balik alasan-alasan tersebut, ternyata ada alasan-alasan lain yang memaksa pelayaran ke selatan itu. Setidaknya ada tiga alasan yang patut dikemukakan.

Yang pertama, mencari dan menangkap Kaisar Zhu Yun Wen atau Kaisar Hui Di.

Sebagaimana diketahui bahwa ketika Kaisar Zhu Yuanzhang atau yang dikenal juga sebagai Kaisar Hong Wu atau juga Tai Zu meninggal pada 1398 Masehi, yang diangkat menggantikannya adalah cucunya, yaitu Zhu Yun Wen atau kaisar Hui Di yang masih muda. Zhu Di, putra keempat Kaisar Hong Wu, yang nantinya dikenal sebagai Kaisar Yong Le, Yung Lo, juga Kaisar Cheng Zu, tidak setuju dan memberontak. Pemberontakan itu berhasil yang memaksa Kaisar Hui Di atau Zhu Yun Wen melarikan diri dari istana dengan menyamar sebagai biksu. Ia kemudian hilang, tak ada kabar sampai sekarang. Desas-desus yang beredar yaitu Kaisar Zhu Yun Wen ini bersembunyi di Asia Tenggara, bisa jadi di salah satu pulau-pulaunya, termasuk Indonesia. Tentu saja Kaisar Yong Le, was-was dan khawatir dan menganggap Zhu Yun Wen yang belum ditemukan rimbanya itu sebagai ancaman yang suatu saat bisa mengancam dan merebut takhtanya kembali. (baca juga: Liang Liji, Dari Relasi Upeti ke Mitra Strategis, 2000 Tahun Perjalanan Hubungan Tiongkok-Indonesia, Kompas; Jakarta, 2012;104, Ulfah M Siregar dan Rendra M Ridwan, Laksamana Cheng Ho, Laksamana Agung Pembawa Perdamaian, PT Elex Media Komputindo, seri tokoh dunia 41, cetakan ke 4-Oktober 2009;20, W.P. Groeneveldt, Nusantara dalam Catatan Tionghoa, Komunitas Bambu, Depok, 2018;48)

Yang kedua, sebagai usaha mencari aliansi atau sekutu untuk melawan agresi militer Timur Lenk.

Beberapa catatan menunjukkan bahwa setelah kemenangan Timur Lenk atas Sultan Bayazid dari Kesultanan Utsmani, Timur Lenk mulai berkampanye militer untuk melakukan perang melawan Dinasti Ming. (Lihat juga: Lim SK, Peradaban Asia, dari zaman kuno hingga 1800 M, PT Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia,Jakarta, 2013;137; M. Setyo Sularso, Yayat Sudrajat, Heru Dwi Wahana, Dendam Sejarah Khubilai Khan di Tanah Jawa (Awal Benturan Peradaban di Nusantara), Pusat Sejarah TNI, Jakarta, 2017;130)

Berikut adalah kutipan pidato Timur Lenk kepada para pangeran dan amirnya pada tahun 1404 Masehi:


“Allah telah menganugerahi kami dengan keberuntungan yang sangat berlimpah sehingga kami telah menaklukkan Asia dan menggulingkan para raja terhebat di permukaan bumi. Hanya beberapa penguasa dari masa lalu yang memperoleh wilayah yang sedemikan besar atau memperoleh wewenang yang besar atau memiliki pasukan besar atau kekuasaan mutlak. Dan, karena penaklukan yang luas ini diperoleh dengan menggunakan kekerasan, yang menyebabkan kehancuran sejumlah besar makluk Allah, aku berniat melakukan tindakan baik yang mungkin dapat menebus kejahatan masa laluku dan meraih sesuatu yang belum pernah digenggam oleh kekuatan lain di dunia, yaitu memerangi kaum kafir dan menghancurkan para penyembah berhala di China. (Justin Marozzi, Timur Leng, Panglima Islam Penakluk Dunia, Serambi, Jakarta,2013;421)

Yang ketiga, suatu ekspedisi untuk menghambat tumbuhnya kekuatan politik di Asia Tenggara yang dianggap bisa membahayakan Dinasti Ming.

Pada masa ini, ada dua kerajaan Hindu-Buddha yang sedang tumbuh berkembang dan kuat di Asia Tenggara yaitu Kerajaan Majapahit dan Siam. Kemungkinan-kemungkinan Aliansi keduanya bisa membahayakan Kekaisaran Tiongkok yang selama ini menerima upeti atau mendapatkan posisi terhormat dari negeri-negeri di selatan. Tumbuhnya kekuatan politik ini harus dihambat dan dilemahkan. Begitulah setidaknya menurut Jawaharlal Nehru.

Ia pun menulis:

“Dalam pemeritahan Yung Lo diadakanlah expedisi lautan besar dibawah pimpinan laksamana Cheng Ho ke Malaysia. Untuk kira-kira tiga puluh tahun Cheng Ho melajari seluruh lautan timur langsung terus keteluk Persia. Ini nampaknja seperti suatu usaha imperialis untuk mendahsyatkan kekuasaan Tiongkok kepada pulau pulau. Tetapi rupanja tak adalah maksud mengadakan rebutan atau memperoleh keuntungan jang lain. Kekuasaan Siam jang bertambah-tambah dan djuga Madjapahit agaknya mengundang Yung Lo mengirimkan ekpedisi. Tetapi apapun djuga alasannja, ekspedisi itu besar sekali akibatnja. Dihambatnja kekuasaan Majapahit dan Siam dan dimadjukannja negara Islam jang baru di Malacca dan diluaskannja kebudayaan Tiongkok diseluruh Indonesia dan Timur. (Jawaharlal Nehru, Lintasan Sedjarah Dunia I, PN. Balai Pustaka, Djakarta, 1966;403)

Pertanyaan yang perlu diajukan: Seandainya tidak ada faktor Timur Lenk yang berkampanye militer melawan Dinasti Ming? Akankah ada Operasi Militer Ming ke Asia Tenggara? Tentunya ada, dengan melihat potensi yang dianggap ancaman yaitu dengan tumbuhnya kekuatan politik Majapahit dan Siam. Problemnya pada situasi seperti itu, tidak muncul peran intelejen dan diplomat Majapahit untuk membaca kegelisahan Dinasti Ming; juga bagaimana membaca situasi internasional seperti kemungkinan perang Ming vs Timur atau Kekaisaran Tiongkok vs Kekaisaran Timurid. Yang terjadi justru Majapahit disibukkan dengan persoalan politik internal, yang mulai mengarah ke perpecahan, terjadi paregreg, yang terus melemahkan kekuatan politik Majapahit, yang semuanya memudahkan kekuatan asing mulai masuk dan menggerus Majapahit hingga runtuh.

Apakah situasi yang dihadapi Majapahit itu bisa menjadi cerminan ke-Indonesiaan- kita hari ini?

AJ SUSMANA, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Rakyat Adil Makmur (DPP PRIMA)

[post-views]