Venezuela: Mempercepat Land-Reform Untuk Sosialisme Agraria

Maduro.jpg

Tahun ini, pemerintah Venezuela berencana melanjutkan kebijakan pengambil-alihan tanah sebagai jalan untuk mewujudkan cita-cita sosialisme agraria.

Dalam anggaran nasional tahun 2014, Institut Pertanahan Nasional (INTI) menetapkan rencana untuk mengambil-alih tanah seluas 350.000 hektar pada tahun ini.

Sebelumnya, pada tahun 2012, pemerintah mengambil alih tanah seluas 350.000 hektar. Sedangkan pada tahun 2013 angkanya mencapai 397.000 hektar. Pemerintah mulai mempercepat program pengambil-alihan tanah ini sejak tahun 2011.

Diperkirakan bahwa dalam satu dekade, yakni antara tahun 2001, saat Presiden Hugo Chavez mengesahkan UU yang mendorong redistribusi tanah, hingga tahun 2011, INTI telah mengambil-alih 3,1 juta hektar tanah pertanian.

Namun, jika dihitung hingga sekarang, total luas tanah yang diambil sejak tahun 2001 sudah melebihi 4 juta hektar. Malahan, koran swasta Venezuela El Universal mengklaim, sejak Chavez terpilih sebagai Presiden di tahun 1998, pemerintah telah mengambil-alih tanah lebih dari 6 juta hektar.

Pengambil-alihan tanah ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk membongkar sistem kepemilikan tanah pribadi dalam skala besar—sering disebut latifundios. Untuk diketahui, pada tahun 2008, hanya 0,4% tuan tanah menguasai lebih dari 7 juta hektar tanah dari 30 juta hektar tanah subur di Venezuela.

Sebagian besar tanah yang diambil-alih oleh pemerintah kemudian diserahkan kepada petani skala kecil atau kepemilikan tanah secara kolektif melalui koperasi, dewan komunitas, atau komune.

Pemerintah menyatakan keinginannya untuk membangun “sosialisme agraria”, dengan menghapuskan model latifundios dan menaikkan produktivitas pertanian dengan pendorong pertanian skala kecil menanam tanaman lokal. Pemerintah berharap model ini akan mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan, dimana negara akan memproduksi 100% kebutuhan pangannya.

Dalam sebuah Konferensi Pertanian pada bulan Desember lalu, Presiden INTI William Gudino mengatakan, “tidak ada pemerintahan yang mampu mengatasi persoalan pangan rakyatnya dengan mengijinkan kepemilikan tanah di tangan segelintir orang, sekalipun produksi pangan berkurang.”

Selain kebijakan pengambil-alihan tanah, pemerintah juga meluncurkan misi bernama Agro Venezuela untuk memberi dukungan teknologi, pelatihan, dan logistik kepada petani. Tak hanya itu, pemerintah Venezuela juga menasionalisasi perusahaan penyedia kebutuhan pertanian (pupuk, benih, dan pestisida), Agroisleña (sebelumnya milik imigran asal Spanyol), dan mengubahnya menjadi perusahaan negara Agropatria.

Akan tetapi, muncul konflik ketika banyak tanah sudah diduduki. Para tuan tanah besar menolak tanahnya diambil alih oleh para campesinos (petani/pekerja pedesaan). Mereka menuding INTI tidak memberikan kompensasi yang sebanding terhadap tanah-tanah yang diambil-alih.

Sejumlah tuan tanah bahkan menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh para pemimpin campesinos dan mencegah pendudukan lahan. Kelompok Hak Azasi Manusia (HAM) memperkirakan sebanyak 310 campesinos tewas dalam konflik ini. Dan ironisnya, karena tuan tanah itu menikmati kekebalan hukum, banyak kasus pembunuhan semacam ini tidak diusut tuntas.

Sementara koalisi kaum konservatif, Koalisi Persatuan Demokratik (MUD), menuding kebijakan pengambil-alihan tanah ini tidak produktif dan menemui kegagalan besar.

Akan tetapi, statistik resmi memperlihatkan adanya peningkatan output pertanian dan tanah yang digarap dalam beberapa tahun terakhir.

Di tahun 2012, Venezuela memproduksi 100% kebutuhan konsumsi nasional sayur-sayuran, setelah memperlihatkan kenaikan terus-menerus dalam produksi per hektar dan total ton yang dihasilkan dari produksi tomat, paprika, bawang dan wortel sejak tahun 2005.

Pengambil-alihan tanah di negara bagian Apure

Pengambil-alihan tanah terbaru yang dilakukan oleh INTI berlangsung di barat daya negeri bagian Apure. Akhir minggu lalu, seratusan keluarga campesinos menduduki secara damai tanah luas Hato El Porvenir, yang sebelumnya dimiliki oleh keluarga tuan tanah besar yang menguasainya sejak tahun 1920.

Mantan Presiden Chavez pertamakali menjanjikan tanah untuk campesinos akan diorganisasikan melalui dewan komunal lokal pada Desember 2011. Namun, tidak sampai Agustus 2013, INTI telah memulai prosedur pengambil-alihan tanah.

Tim dalam proyek INTI sekarang ini bekerjasama dengan campesinos untuk mengembangkan perkebunan. Termasuk mendirikan pusat genetika untuk memperbaiki kualitas ternak sapi dan mendirikan Universitas untuk campesinos.

Kongres Petani Nasional

Gerakan rakyat pedesaan Venezuela juga berencana menggelar Kongres Petani Nasional pada bulan Mei tahun ini.

Pada hari Jumat (10/1/2013), 200 perwakilan pekerja pedesaan dari seluruh Venezuela berkumpul di negara bagian Cojedes guna menggelar konferensi dan mendiskusikan peranan kaum tani dalam perubahan sosial.

“Ini tentang menganalisis dan mendiskusikan peranan petani dalam transformasi masyarakat,” kata Tatiana Paug, yang bekerja di Institut Nasional Investigasi Pertanian.

Resolusi dari pertemuan ini termasuk soal penyatuan dan otonomi organisasi petani, pendidikan emansipatoris untuk kaum tani, dan jaminan sosial komprehensif untuk pekerja pedesaan.

Para petani yang berkumpul akan mengirim resolusi ini kepada Presiden Nicolas Maduro, yang sudah mengatur pertemuan dengan kelompok petani pada tanggal 1 Februari mendatang.

Ewan Robertson, seorang penulis, jurnalis, dan aktivis yang tinggal di Venezuela. Dia juga merupakan kontributor untuk media alternatif Venezuelanalysis.com.

Tulisan ini sebelumnya muncul di Venezuelanalysis.com. Diterjemahkan dengan sedikit pengubahan tanpa mengubah substansinya oleh Raymond Samuel.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut