Tembakau dan Industri Kretek

Pada Senin (28/6), dua ratusan petani tembakau di Lombok mendatangi kantor Gubernur NTB. Mereka menuntut Gubernur NTB segera menetapkan harga dasar terendah untuk pembelian tembakau Virginia oleh perusahaan. Selama ini petani tembakau di Lombok sebagai pihak penjual diperlakukan tak adil oleh perusahaan sebagai pembeli: harganya di bawah harga dasar padahal tembakau Virginia merupakan komoditas andalan di daerah ini dan menghidupi 40% tenaga kerja di NTB. (berdikarionline.com 28/6)

Dengan pembelian seperti itu, petani tembakau selalu berada di pihak yang dirugikan dan hampir-hampir tak ada jaminan kesejahteraannya akan meningkat, mengingat tak akan pernah dapat meraup keuntungan besar. Tepatlah bila mereka menuntut pada pemerintah daerah untuk bertindak memihak dan melindungi petani tembakau.

Tuntutan ini mengingatkan kita pada tuntutan ribuan petani tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, yang risau dengan adanya RUU Pengamanan Produk Tembakau yang dinilai bisa menghancurkan kesejahteraan para petani tembakau. Lebih-lebih lagi, memang masih banyak dari rakyat Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari daun-daun tembakau ini.

Tembakau memang bukan tanaman asli Indonesia. Ia dibawa oleh dan tumbuh bersamaan dengan datangnya kolonialisme ke nusantara. Walau begitu, tembakau dengan aroma khas cengkihnya dan bunyi kereteknya telah menjadi sumber penghidupan rakyat selama bertahun-tahun hingga kini. Kenyataan ekonomi ini telah menumbuhkan industri-industri rokok kretek besar, terutama di Jawa seperti Kudus, Malang dan Kediri. Beberapa kegiatan besar seperti olahraga dan seni seringkali tak lepas dari perusahaan-perusahaan rokok.

Dalam beberapa hal, bersamaan dengan kopi tubruk, rokok kretek bahkan sempat menjadi alat atau simbol dan identitas pergerakan nasional melawan penjajahan. (Kompas, Senin, 5 April 2010)

Kenyataan ekonomi ini penting untuk diperhatikan mengingat begitu gencarnya kampanye anti merokok yang dapat melemahkan industri nasional dalam hal ini industri rokok kretek yang sudah mendunia dan menyejarah tersebut.

Kalau industri rokok masih menjadi topangan ekonomi, tentu saja, budaya merokok juga akan terus hidup dan tumbuh. Kami memandang: dalam soal kampanye anti merokok tidak boleh sewenang-wenang menghancurkan basis ekonomi rakyat yang masih bersandar pada industri rokok nasional yang akibatnya justru memiskinkan rakyat sendiri. Karena itu perlu dipersiapkan dengan matang dalam hal ini sehingga tidak terjebak dalam kampanye asing yang berkehendak menghancurkan industri nasional. Dalam hal ini adalah rokok kretek berhadapan dengan rokok produksi asing.

Dalam kerangka ini, kita perlu mendorong diversifikasi pemanfaatan tembakau seluas mungkin agar tembakau yang masih ditanam petani dan menghidupi petani tetap berguna bagi umat manusia, selain hanya digunakan untuk merokok seperti sekarang ini. Akademi yang meneliti pemanfaatan dan pengolahan tembakau ini selain untuk rokok, bisa saja didirikan sebagaimana bisa kita lihat dalam film Thank you for smoking (2005). Di samping itu perlu kiranya juga memperluas cakupan industri pengolahan di luar tembakau seperti kopi atau tanaman perkebunan lainnya yang bisa menjadi tanaman pengganti bila tembakau tak lagi menguntungkan.

Dalam situasi seperti ini, kita perlu membatasi impor rokok asing demi memproteksi produk rokok nasional disamping juga mendisiplinkan kegiatan merokok itu sendiri yang dalam kaca mata yang lain dapat merugikan kesehatan. Membatasi umur perokok dan larangan merokok di ruang publik, misalnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Vannessa Hearman

    Lucu banget bahwa disebut film “Thank you for Smoking”. Janganlah salah, film ini adalah film yang menyindir dengan keras industri tembakau. Akademi yang didirikan itu hanya lelucon. Di film itu ditunjukkan betapa kerasnya “Big Tobacco” (perusahaan2 tembakau besar dunia) berusaha untuk mengibuli masyarakat dengan mendirikan ‘akademi’. Siapa yang percaya akan ‘akademi’ semacam itu yang ujung-ujungnya adalah bagaimana caranya dapat tetap mempertahankan keuntungan “Big Tobacco” dengan berpura-pura seakan-akan ada manfaat tembakau dalam industri lain selain sigaret. Tembakau itu telah digunakan oleh kaum kapitalis untuk memeras kekayaan dari tanah kita dan merusak kesehatan banyak orang di seluruh dunia, termasuk kaum buruh dan tani. Ya penting sekali bahwa petani tembakau dapat menemukan sumber penghasilan yang lain, tapi kita juga harus menyadari dampak produk dari tembakau itu sendiri. Melindungi industri rokok dari saingan international juga sebenarnya saya ragu.

  • saya dukung juga tobacco indonesia seperti di boyolali tobacco

  • Dony

    Hentikan tembakau, beralih yang bergizi untuk kesehatan.