Tan Teng Kie Dan Kritik Melalui ”Syair Jalanan Kreta Api”

Saya membaca karya Tan Teng Kie dalam Buku ”Kesusastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia”, yang merupakan buku kompilasi dari pengarang-pengarang peranakan Tionghoa diakhir abad ke 19. Di Jilid pertama buku ini, pada permulaan saya sudah disajikan syair tanpa keterangan nama penulis yang bercerita tentang kedatangan Raja Siam (Thailand) pada tahun 1870 ke Batavia, yang disambut oleh Tuan Residen Batavia. Yang menarik justru dugaan penerbit atas syair ini sebagai buah karangan Tan Teng Kie, mengingat gaya penulisannya yang mirip dengan karya-karya Tan sesudahnya.

Dalam syair itu dilukiskan bahwa Tuan Residen Batavia menjalin persahabatan dengan Raja Siam. Karena persahabatan itulah Tuan Residen membuat penyambutan yang meriah di Batavia, mengarak Raja keliling kota dan disambut hormat oleh barisan serdadu kolonial dengan penghormatan militer, juga pasukan berkuda, barisan preman, barisan Islam dan barisan keturunan Tionghoa.

Saat membaca Syair Jalanan Kreta Api, saya ikut pula menggeleng-gelengkan kepala dan kagum luar biasa atas keberanian penulisnya untuk mewakili curahan hati rakyat kecil dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh rakyat pribumi. Dengan tulisannya itu, peranakan Tionghoa telah membuktikan keberaniannya memelopori bahasa Melayu dalam tulis menulis, terlebih lagi syairnya ini mengandung protes keras terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda.

Karena aktifitas sehari-hari Tan Teng Kie sebagai pedagang, saya diajak mengingat kembali definisi ”Orang Dagang” yang oleh Minke[1] di artikan sebagai orang yang berpengetahuan luas tentang kebutuhan hidup, usaha dan hubungannya. Perdagangan membikin orang terbebas dari pangkat-pangkat, tak membeda-bedakan sesama manusia, apakah dia pembesar atau bawahan, bahkan budak pun. Pedagang berpikiran cepat, mereka menghidupkan yang beku dan menggiatkan yang lumpuh (Jejak Langkah: hal. 520). Kaum dagang adalah golongan yang tidak menggantungkan hidupnya kepada pemerintahan kolonial (priyayi).

Pramoedya Ananta Toer, dalam Roman ”Anak Semua Bangsa” menyebutkan bahwa bangsa Cina adalah bangsa pengembara akibat kemiskinan ditanah airnya. Bangsa Cina secara bergelombang sudah memasuki daratan Asia Tenggara sejak sebelum masehi. Di Hindia Belanda (Indonesia) sendiri, golongan Tionghoa sudah sangat banyak dan terorganisir. Belanda melalui VOC juga pernah berkonfrontasi dengan golongan ini pada Perang Cina (1741-1743), dan perang yang berlangsung kurang lebih tiga tahun itu telah menumbangkan kekuasaan VOC disepanjang pesisir utara Jawa. Dalam proses internalisasi dengan masyarakat pribumi, orang-orang Tionghoa kemudian bercampur dengan pribumi lewat perkawinan. Dan dari perkawinan inilah lahir angkatan baru, yakni generasi Tionghoa Melayu.

Tan Teng Kie adalah seorang indo peranakan Tionghoa (untuk membedakannya dengan pribumi totok) yang hidup dimasa Kolonial Belanda dan tinggal di kota Batavia. Tak ada tulisan dan dokumen apapun yang dapat memberikan keterangan riwayat hidupnya menyangkut kelahiran dan masa kecilnya untuk melacak riwayat pendidikannya. Dari buku ”Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia” hanya didapatkan sedikit informasi saja mengenai kehidupan ekonominya, yakni dia adalah seorang pengusaha yang memiliki toko di kota Batavia.

Syair pertama yang diterbitkan atas namanya sendiri adalah ”Sya’ir Jalanan Kreta Api” yang terbit di Batavia tahun 1890. Syair ini bercerita tentang pembuatan jalan kereta api pertama dari Batavia ke Karawang dengan tujuan mengangkut kayu balok, pasir dan batu Koral. Saya berpendapat bahwa syair ini adalah syair berbahasa Melayu pertama yang paling berani dijamannya, karena melukiskan secara nyata penderitaan kuli-kuli yang bekerja pagi hingga malam untuk menyelesaikan pembuatan jalan kereta api jurusan Batavia – Karawang.

Pendapat diatas tentunya masih sebuah hipotesa. Pendapat itu tentunya didukung oleh fakta sejarah bahwa penerbitan surat kabar pribumi pertama berbahasa Melayu  (Medan Priyayi) yang dirintis oleh RM. Tirto Adhi Suryo baru dimulai diawal abad ke 20. Pramoedya dalam Bumi Manusia dan Anak Semua bangsa menggambarkan kepada kita bahwa Minke (RM. Tirto Adhi Suryo) sebagai tokoh pelopor pers pribumi pada awal abad kedua puluh masih menulis dalam bahasa Belanda, dan seperti pribumi terdidik lainnya yang masih beranggapan bahwa Belanda (Eropa) adalah guru besar peradaban. Pribumi terdidik ini malah memilih menulis untuk surat kabar – surat kabar milik Belanda dengan bahasa Belanda.

Peranakan Tionghoa lebih dahulu membuat organisasi modern dan berserikat sebelum pribumi memulainya, adalah Tiong Hoa Hwee Koan yang disahkan oleh pemerintahan Kolonial Hindia Belanda pada tahun 1900 di Batavia. Dan diakhir abad ke 19, Tionghoa sudah lahir sebagai pelopor dalam penulisan berbahasa Melayu pada surat-surat kabarnya sendiri.

Saat saya membaca ”Sya’ir Jalanan Kreta Api” banyak kalimat yang membuat saya bingung. Bahasa yang dipakai oleh peranakan Tionghoa sebelum kemerdekaan Indonesia merupakan campuran bahasa Melayu dengan bahasa Tionghoa, umumnya dengan dialek daerah Fujian atau Hokkian (Myra Sidharta: Kata pengantar Jilid I Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia).

Pada bait-bait pertama Syair Jalanan Kreta Api, Tan Teng Kie melukiskan kisah penggusuran rumah disepanjang jalan yang akan dibangun perlintasan jalan kereta api, dengan biaya ganti rugi yang sudah ditentukan oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Beginilah bunyi bait-bait itu didalam syairnya:

            Banyak puhun di tebangin

            Ongkos Maskapij semuwa bayarin

            Rumah orang pada di buka’in

            Kepada juraganlah di serahin

 

            Banyak kelanggar rumah kampungan

            Tuwan tanah Tan Kang Ie punya bilangan

            Eretannya beda banyak kurangan

            Ada jambatan aken sebrangan

           

            Maskapij bayarin orang kampungnya

            Apa yang sudah kerusakannya

            Keluwar ongkos dengan sepatutnya

            Yang mana kena di ukurnya

Tan Teng Kie juga melukiskan penderitaan para pekerja yang didatangkan dari Banten. Koeli dari Banten memang terkenal dengan kebiasaan bekerjanya dalam jam kerja yang sangat lama dan bersedia menerima upah murah. Tan juga menuliskan bait yang menggambarkan ketidakadilan yang dialami pekerja, terutama masalah waktu kerja yang sangat lama dari pagi hingga malam hari dengan upah yang rendah. Tan juga mempersoalkan kesehatan para koeli, yang hanya sedikit waktu tersisa untuk beristirahat. Baginya masalah kurangnya waktu istirahat dengan beban kerja yang amat berat adalah cara mendekatkan diri pada kematian.

            Kuli kerja sesungguh hati

            Siyang dan malam tiyada berhenti

            Kerja cape ta’ takut mati

            Supaya dapat ringgit yang puti

Dia juga melukiskan penderitaan yang dialami pekerja akibat perlakuan kasar dan juga kecelakaan kerja yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari para mandor. Dia juga menggambarkan perasaan pekerja yang sangat takut akan hardikan mandornya. Berikut ini adalah kutipan dari bait-bait yang melukiskan kejadian itu.

            Yang jadi Chef[2] tuwan Merkestijn

            Pantas dilihat seperti kaptein

            Bagus aturannya bagaimana asisten

            Pekerja’annya bajik dengan telaten

            Romannya cakap tinggi besar

            Badannya gemuk serta kasar

            Aturannya beres seperti husar[3]          

            Suwatu pekerja’an tiada tersasar

Lalu baitnya tentang kecelakaan kerja:

            Kolar[4] pasir digerobakin juga

            Banyak kuli tiyada keduga[5]

            Kulon wetan mandor menjaga

            Aken uruk solokan[6] gelaga

 

            Kuli kerja’in rawa itu

            Uruk tanah pasir dan batu

            Ada yang mati kulinya satu

            Kelanggar salat si setan hantu

            Relnya jatoh ketindes jari

            Hamba melihat sampe mengeri

            Putus duwa yang dipikiri

            Salah badannya diya sendiri

 

            Si kuli jatuh dari jambatan

            Seperti juga dijorokin setan

            Temannya buru berselabutan

            Diangkat lantas tarik ke daratan

 

            Serenta dinaeken itu orangnya

            Dipreksa sudah patah kakinya

            Diprentah lantas oleh mandornya

            Disuruh gotong pulang kerumahnya

 

            Se’orang kuli asalnya Cianjur

            Ketimpa balas sikutnya ancur

            Badannya apes tambahan lacur

            Ambilin ayer lantas dikucur

            Begitulah bait-bait yang mengandung kritikan atas penindasan yang dilakukan pemerintahan kolonial Hindia Belanda terhadap rakyat pribumi. Dan jika membaca keseluruhan syair ini, tampaklah dengan jelas bahwa kritikan tersebut tidak hanya tertuju kepada Kolonial Belanda semata, tapi juga diarahkan kepada golongan tuan tanah Tionghoa yang bersekutu dengan Belanda.

Sayang sekali tidak banyak referensi yang menyajikan informasi mengenai riwayat hidup Tan Teng Kie yang mengisahkan latar belakang pendidikan, keluarga, pergaulan, dan aktifitas sosialnya. Namun dari profil Lie Kim Hok yang menulis Kitab Eja A.B.C[7] (1884) yang menuntun cara mengeja kata-kata bahasa Melayu, saya menduga bahwa Tan Teng Kie yang jika dilacak dari tahun terbit tulisannya adalah generasi yang sama dengan Lie Kim Hok, dan mungkin juga sebagai salah satu dari para pendiri Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), yang salah satu pendirinya adalah Lie Kim Hok. Sangat mungkin kritik yang digunakan oleh Tan Teng Kie juga berasal dari ajaran Konfusius (seperti yang diamalkan oleh organisasi THHK) yang juga mengajarkan kemanusiaan dan kebajikan sesama.

Randy Syahrizal, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sumatera Utara


[1] Minke adalah tokoh utama Tetralogi Perburuan karangan Pramoedya Ananta Toer

[2] Kepala

[3] Serdadu Belanda atau Pasukan Berkuda

[4] Maksudnya adalah Batu Koral

[5] Kuat (Sunda)

[6] Maksudnya Selokan atau Parit

[7] Dalam tulisan kata pengantar yang ditulis oleh Myra Sidharta, kitab yang ditulis Lie Kim Hok ini adalah pelopor Bahasa Melayu Tionghoa.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Phina

    Cerita lama bersemi kembali..Masyarakat Tionghoa ternyata lebih dahulu menulis sastra ya, walaupun bahasanya cukup aneh 🙂 thx atas artikel ini, jadi semakin mengenal sejarah Indonesia