Tan Malaka dan “Aksi Massa”

Dari semua penulis dan pembaca setia berdikarionline.com, kalau terpaksa saya buat semacam klasifikasi, saya tergolong yang paling terlambat berkenalan dengan Tan Malaka. Bisa saja saya sendiri, bisa pula bersama dengan beberapa Nyonya dan Tuan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan one by one atau persentasenya – karena memang saya tidak bikin riset.

Satu-satunya karya Tan yang baru selesai saya baca ialah bukunya, “Aksi Massa”, terbitan Penerbit Narasi, cetakan kedua, 2016. Sebagai orang muda yang sudah layak dan sepantasnya sejak lama membaca Tan, saya kemudian membuat semacam ‘pengampunan’ bagi keterlambatan saya itu, dengan harus menulis sesuatu selepas membaca bukunya ini – buku yang ditulis Tan sekitar 1926 saat dia kabur dari Indonesia ke Singapura dengan mengganti nama jadi Hasan Gozali. Sebelumnya, pada 1922, Tan pernah dibuang ke Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Apa yang sedang Anda hadapi ini adalah ringkasan yang sejauh dapat saya buat. Saya akan membentangkan pokok-pokok pikiran apa saja yang termaktub dalam buku ini. Rujukan satu-satunya ialah buku ini. Jadi, Anda tidak akan menemukan referensi lain dalam uraian saya kali ini, dengan maksud: (a) agar lebih fokus dan (b) agar Anda dan saya terprovokasi untuk membaca lebih banyak lagi karya Tan atau karya tentang Tan sebagai pelengkap atau pembanding.

Cover buku “Aksi Massa” karya Tan Malaka. Credit photo: Bukalapak.

Tan Malaka: Siapa Dia?

Tan itu tokoh ‘Kiri’, tepatnya tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena dalam sejarahnya hingga hari-hari ini, Bangsa ini (agak) anti-Kiri, Tan jadinya kurang populer, lebih-lebih di tengah generasi mileneal. Lahir di Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – wafat di Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949.

Sejarah seolah melupakan Tan, bahkan bukan seolah lagi. Memang secara sistematis dilupakan! Pemberontak, komunis, provokator jadi beberapa predikat yang disematkan pada Tan. Padahal, Tan itu ‘Bapak Republik Indonesia’, tegas Muhammad Yamin, salah satu pelopor Sumpah Pemuda itu. Jenderal A. H. Nasution pun pernah bilang, “… nama Tan Malaka juga harus tercatat sebagai tokoh militer Indonesia untuk selama-lamanya.”

Sebagaimana tiap orang, Tan juga punya cita-cita. Salah satunya, Republik Indonesia harus lahir dari revolusi. Segala bentuk ‘omong baik-baik’ dengan Kolonialisme Belanda, sungguh tak termaafkan baginya.

Putch

Namun, gerakan radikal yang asal-asalan dalam mewujudkan cita-cita revolusioner itu, jelas ditentang Tan. Dia menyebut dengan istilah Putch untuk gerakan radikal macam ini. Bagi Tan,

Putch itu adalah satu aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Gerombolan itu biasanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memedulikan perasaan dan kesanggupan massa … ‘Tukang-tukang putch’ lupa bahwa … revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai macam keadaan. Bila tukang-tukang ‘putch’ pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak memerhatikan, melainkan karena massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kepentingan ekonomi…” (hlm. 3-4).

Tan pun memberi solusi. Namanya: Aksi Massa. “Aksi-massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.” (hlm.4)

Pihak yang dapat langsung jadi contoh tukang putch dimaksud ialah orang-orang yang separtai dengannya, yang merencanakan pemberontakan PKI pada 18 Juni 1926. Gerakan yang sembrono dan tidak mempertimbangkan dasar-dasar aksi massa ini kemudian terbukti gagal. Banyak elite PKI yang ditangkap dan dibasmi.

Imperialisme

Mengapa Tan sangat anti kolonialisme? Jawabanya, dalam kolonialisasi, bangsa asing menerapkan imperialisme, penjajahan dengan tujuan meraup kekuasaan dan keuntungan sebesar-besarnya. Orang-orang asing menjajah Asia selama ratusan tahun untuk memenuhi kebutuhan mereka, dalam rupa-rupa bentuk.

Secara ekonomis, Tan merangkum wujud-wujud penjajahan itu sebagai berikut. Pertama, perampokan terang-terangan. Portugis dan Spanyol banyak memakai modus ini. Kedua, monopoli. Dalam praktiknya, monopoli serupa dengan perampokan. Belanda melakukan ini di Indonesia, sampai kira-kira tahun 1926, saat buku ini ditulisnya. Ketiga, setengah monopoli. Inggris menerapkan ini di India. Keempat, persaingan bebas. Amerika mempraktikkan ini di Filipina.

Bentuk-bentuk imperialisme dalam politik antara lain sebagai berikut. Pertama, imperialisme biadab. Imperialisme model ini, dalam penerapannya, berupaya menghancurkan sekalian kekuasaan politik bumiputra dan menjalankan pemerintahan yang sewenang-wenang. Spanyol menerapkan model ini di Filipina. Kedua, imperialisme autokratis. Praktiknya hampir sama dengan imperialisme biadab. Belanda banyak menerapkan model ini. Ketiga, imperialisme setengah liberal. Penjajah memberikan kekuasaan yang sangat terbatas bagi kaum bumiputra. Inggris menerapkan model ini ada raja-raja atau kepala negara di India. Kelima, imperialisme liberal. Kemerdekaan diberikan sepenuhnya kepada tuan tanah dan borjuis bumiputra yang mulai naik. Amerika menerapkan model ini di Filipina.

Apa akibat dari macam-macam imperialisme sebagaimana terlampir di atas? Kemiskinan, kemelaratan, kematian, untuk menyebut beberapa.

Rebut Kemerdekaan

Bentuk-bentuk imperilisme yang diterapkan bangsa asing selama kolonialisasi berikut akibat-akibatnya, menjadi alasan logis mengapa Tan sangat anti kolonialisme. Cita-cita Indonesia Merdeka sungguh harus dicapai lewat jalan revolusi. Bagian terakhir  “Aksi Massa” berisi ‘Khayalan Seorang Revolusioner’.

Anda bayangkan, saat buku ini ditulis (mungkin malah sebelumnya), Tan sudah memikirkan bahwa tugas berat juga suci telah diletakkan pada bahu setiap orang Indonesia untuk memerdekakan bangsanya dari perbudakan beratus-ratus tahun lamanya itu, dan memimpin satu sama lain ke pintu gerbang kejayaan. Usaha bertaruh nyawa ini menjadi tidak akan mungkin selama orang Indonesia sendiri belum menghapus segala ‘kotoran kesaktian’ dari kepalanya, selama masih memuja kebudayaan kuno yang penuh dengan kepasifan, membatu, dan selama semangat budak masih terpelihara. Tan dengan tegas mengatakan, jangan bimbang merampas kemerdekaan dari tangan penjajah. Orang Indonesia belum seutuhnya manusia, bila tidak ingin merdeka dan belajar bekerja sendiri.

“Karena itu,” ajak Tan, “wahai kaum revolusioner, siapkanlah barisanmu dengan selekas-lekasnya! Gabungkan buruh dan tani yang berjuta-juta, serta penduduk kota dan kaum terpelajar di dalam satu partai massa proletar.” (hlm. 141)

Cinta akan kemerdekaan juga arti penting kemerdekaan, baik dalam bentuk materi dan ide, mesti dipresentasikan ke tiap-tiap orang Indonesia. Di bawah panji revolusioner, massa dari desa dan kota, pantai dan gunung, mesti dihimpun. Satu pusat pimpinan harus didirikan di tengah-tengah laskar revolusi, dan suara-suara para penyemangat harus bergelora di tengah kaum yang lapar dan tak sabar.

“Kamu pahlawan dari angkatan revolusioner! Tuntunlah massa si lapar, si miskin, si hina, si melarat, si haus itu menempuh barisan musuh dan robohkanlah bentengnya itu, cabut nyawanya, patahkan tulangnya, tanamkan tiang benderamu di atas bentengnya itu. Janganlah kamu biarkan bendera itu diturunkan atau ditukar oleh siapapun. Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra (saya tambahkan: -putri) Tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah.” (hlm. 142)

Ajakan

Bila selama ini Anda dan saya terlanjur mengasosiasikan Tan sebagai pemberontak, komunis, provokator, pada akhir uraian ini, saya mengajak kita untuk beralih. Pertama-tama, tentu tidak untuk yakin begitu saja selepas membaca uraian ini, tetapi mulai dengan membuka horizon pemahaman kita berhadapan dengan narasi-narasi yang telah paten. Kiblat akhir literasi yang kian getol bertumbuh belakangan ini ialah membawa kita ke suatu sikap ilmiah bernama ragu. Ragu terhadap segala macam narasi yang juga diciptakan dalam perjalanan ketika kemerdekaan kita telah diproklamasikan, ragu untuk terus mencari dan mencari sumber yang lebih valid di atasnya bangunan NKRI ini berdiri.

Sekiranya beberapa pokok pikiran Tan dalam “Aksi Massa” yang saya bentangkan ini, memberi kita suatu gambaran yang kian jelas dan utuh, bukan saja tentang Tan sendiri, tetapi lebih tentang sejarah panjang bangsa ini. Sebagai bangsa bekas jajahan, kita tentu tidak ingin masa-masa kelam itu terulang lagi. Sadarlah, kita akan sangat mungkin kembali dijajah, bukan lagi oleh bangsa asing, tetapi oleh kelompok-kelompok sebangsa kita. Kelompok-kelompok yang tamak, korup, menekan minoritas, abai terhadap HAM, dan yang terus berjuang kasar memenangkan egonya masing-masing.

“Bersama massa, kita berderap menuntut hak dan kemerdekaan!” (Tan Malaka). []

REINARD L. MEO, freelancer dan relawan siap pakai. Tinggal di Bajawa, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut