Tahun Baru, Mari Memperjuangkan Hari Depan Yang Lebih Baik

Setiap terjadi pergantian tahun, kita selalu menggantungkan harapan akan datangnya hari depan yang lebih baik. Terlebih lagi sebagai sebuah bangsa, kita mestinya sudah meletakkan patok-patok target untuk melihat perkembangan dan kemajuan bangsa ini di masa depan.

Di awal tahun 2010, tepatnya menjelang 100 hari pemerintahan SBY-Budiono, rakyat Indonesia banyak menyimak soal berita korupsi yang melibatkan “orang-orang terbaik” dalam rejim baru: Budiono dan Sri Mulyani.

Paska itu, kasus bank century pun menggelinding bak bola panas di parlemen, yang kemudian melahirkan pansus angket century. Tapi, patut disayangkan sekali, rekomendasi DPR pun terkait kasus bank century hanya seperti “cek kosong”, sehingga gampang sekali menguap dan diendapkan.

Beberapa bulan kemudian, yaitu bulan Mei 2010 ketika partai-partai pendukung SBY berkumpul di Cikeas, berdirilah apa yang disebut “Sekretarian Gabungan (Setgab)”. Kami sepakat dengan kesimpulan Partai Rakyat Demokratik, bahwa Setgab ini telah bertindak sebagai katalisator untuk menciptakan kestabilan politik, sehingga memberi “kesempatan” kepada rejim neoliberal untuk bekerja.

Dalam ringkasan akhir tahun PRD disebutkan, pasca pembentukan setgab itulah rejim neoliberal baru memulai apa yang disebut “opensif neoliberal”, yaitu periode dimana serangan neoliberal jauh lebih dahsyat dan mendalam dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Selama tahun 2010, kita tidak bisa lagi menghitung berapa banyak ekonomi rakyat, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan produsen kecil lainnya, yang hancur karena serangan neoliberalisme. Bahkan, diantara kita mungkin tidak tahu bahwa lusinan BUMN kita telah dilego oleh SBY untuk dijual kepada negeri-negeri imperialis pada tahun tahun 2010 ini.

Memang, pembukaan tahun 2010 saja sudah menyakitkan buat ekonomi rakyat, karena rejim neoliberal telah merestui agenda perdagangan bebas China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA). Pada bulan Juli, SBY kembali menaikkan harga tarif dasar listrik (TDL), yang tentu saja menyulitkan rakyat miskin dan ekonomi nasional.

Kebijakan-kebijakan neoliberal ini disusul oleh peristiwa-peristiwa reaksioner yang melukai semangat persatuan nasional kita, mula-mula serangan terhadap ahmadiyah, kemudian terhadap jemaat HKBP, dan kerusuhan berbaut etnis di Samarinda, Kalimantan Timur. Kesemuanya ini tidak bisa dilepaskan dari tangan-tangan imperialis yang hendak merusak persatuan bangsa kita dan memukul mundur nation kita.

Jika selama satu dekade terakhir serangan neoliberal sudah terasa hingga di leher rakyat, maka pada tahun 2010 ini serangan neoliberal sudah mencapai dagu dan sebentar lagi tenggelam sama sekali. Boleh jadi di masa sebelumnya sebagian orang belum menyadari hadirnya hadirnya penjajahan baru di negeri kita, tetapi pada tahun 2010 semua itu sudah nyata dan sangat konkret.

Meski begitu, kami masih percaya tentang datangnya hari depan yang lebih baik, termasuk peluang mengubah tahun 2011 menjadi titik awal bagi masa depan Indonesia yang lebih baik. Oleh karena itu, sebagai jalan untuk mewujudkan hari-depan yang gemilang itu, maka kita harus memperhebat perjuangan anti-neoliberalisme dan anti-imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut