Sudah Lima Hari Petani “Duduki DPR”

Meskipun hanya berbekal logistik seadanya, ratusan petani Jambi masih bersemangat untuk melakukan pendudukan di depan gedung DPR-RI. Mereka mengaku tidak akan pulang sebelum tuntutannya dipenuhi DPR dan pemerintah.

Aksi pendudukan sudah dimulai sejak Senin (11/12) lalu. Tetapi, jika ditambah dengan perjalanan dan persiapan aksi di Jakarta, para petani ini sudah hampir dua minggu meninggalkan kampung halaman dan keluarganya.

Abas Subuk, kepala Suku Anak Dalam (SAD) 113 Jambi, mengaku membawa bekal hanya untuk aksi selama dua hari di Jakarta. Ia pun hanya membawa sehelai celana panjang dan itupun sudah seminggu terpakai di badan.

Bekal yang dibawa petani sangat minim: empat karung ubi dan satu karung beras ukuran 20 kilogram. Para petani juga membawa 1 kompor dan tabung gas, 1 buah wajan, dan beberapa terpal plastik.

Bahan makanan itu hanya cukup untuk satu-dua hari saja. Beruntung, sejak menggelar aksi pendudukan di depan DPR, para petani mendapat banyak bantuan logistik dari individu dan organisasi di Jakarta.

Salah satu gerakan yang cukup banyak membantu petani adalah aktivis “Duduki Jakarta”. Mereka memberi bantuan air minum, tenda, dan logistik lainnya. Sejumlah serikat buruh juga datang memberi bantuan makanan dan air minum.

Selain dukungan logistik yang minim, para petani juga harus berhadapan dengan cuaca Jakarta yang tidak menentu: kadang hujan dibarengi angin, kadang panas. Para petani hanya bernaung di bawah tenda terpal biasa. Tidak ada dinding dan tidak ada alas yang cukup tebal. Jadinya, kalau hujan cukup deras, maka bagian di dalam tenda juga ikut basah.

Para petani juga mengeluhkan MCK. Sejak hari pertama pendudukan, pihak kepolisian dan DPR sama sekali tidak menyiapkan MCK. Lebih parah lagi, pihak keamanan DPR mengunci pintu dan melarang petani buang air di dalam WC gedung DPR.

Akibatnya, para petani harus berjalan 1 hingga 2 kilometer untuk mencari WC umum. Itupun harus membayar Rp1000 untuk sekali buang air. Padahal, rata-rata petani ini jarang membawa bekal uang.

Bahmad, seorang petani dari Jambi, mengaku harus banyak berhemat agar tetap bisa bertahan di aksi tersebut. “Saya biasanya merokok 2 bungkus sehari. Sekarang, saya hanya bisa menghisap 4 batang rokok sehari,” ujarnya.

Meski begitu, Bahmad dan kawan-kawannya mengaku tidak gentar. Ia tahu betul bahwa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. “Kami sedang mempertahankan hak hidup kami. Jika kami menyerah hari ini, maka sama saja dengan membunuh masa depan kami dan anak-anak kami,” tegasnya.

Penggusuran Terus Berlangsung

Sementara itu, menurut informasi petani Kunangan Jaya, Batanghari, hingga hari ini proses penggusuran dan perampasan tanah rakyat terus berlangsung.

Pagi ini, menurut info dari kerabat mereka di kampung, setidaknya 15 eskavator milik PT. Agro Nusa Alam Sejahtera (AAS) akan mengobrak-abrik lahan pertanian milik rakyat Kunangan Jaya.

“Sebagian lahan yang mau digusur itu ada tanaman sawit dan karet warga. Itu sebagian sudah mau panen,” ujar Ahmad Muslimin, aktivis PRD yang turut selama beberapa bulan ini berjuang bersama petani Kunangan Jaya.

Lebih ironis lagi, kata Ahmad Muslimin, aksi penggusuran lahan rakyat itu dikawal oleh pasukan TNI/Polri. “Kami menuntut agar pasukan keamanan segera ditarik dari desa Kunangan Jaya,” tegasnya.

Pihaknya juga mendesak agar DPR dan Kementerian Kehutanan segera turun tangan untuk mengatasi konflik agraria. “Kami menuntut agar Menhut segera memberikan hak enclave untuk lahan milik petani,” tuntutnya.

Agus Pranata

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut