Orator Hebat Itu Terserang Kanker Tenggorokan

Lula Da Silva adalah penyambung lidah rakyat Brazil. Kemenangan Lula pada pemilu 2002 dianggap sebagai kemenangan sektor terpinggirkan di Brazil. Ia dianggap sebagai suaranya orang-orang yang selama ini tidak memiliki suara.

Begitu menjadi presiden, Lula berjuang keras melawan kemiskinan dan kelaparan yang menyandera mayoritas rakyat di negerinya. Lewat program sosialnya yang terkenal, Bolsa Família, puluhan juta kaum miskin berhasil dikeluarkan dari garis kemiskinan.

Lula menjadi presideng paling populer dalam sejarah Brazil. Begitu kekuasannya berakhir akhir 2010 lalu, tingkat penerimaan rakyat terhadap pemerintahannya mencapai 85%. Tak pelak lagi, popularitas Lula menjadi “faktor penting” yang mengantarkan penerusnya dari partai buruh, Dilma Roussef, memenangkan pemilu presiden.

Salah satu daya pikat Lula adalah kemampuan bahasanya. William Gonçalves, seorang professor di University of Rio de Janeiro, menyebut Lula sebagai tipe pemimpin yang paling bisa berbicara dengan bahasa yang paling mudah dimengerti oleh rakyatnya. Dengan begitu, ia juga paling faham dengan kebutuhan rakyatnya.

Menurut Frei Betto, seorang aktivis dan intelektual kiri Brazil, kemampuan komunikasi Lula terletak pada suaranya. Ia terlahir sebagai seorang orator hebat. Kehebatan orasi Lula mulai nampak saat ia menjadi pemimpin gerakan buruh.

Frei Betto mengenang sebuah pertemuan pekerja baja di tahun 1980-an. Sebelum meninggalkan rumah untuk menghadiri pertemuan itu, Lula menyempatkan diri membuat catatan kecil tentang apa-apa yang hendak dipidatokannya.

“Lula selalu memilih menjadi pembicara terakhir. Pidatonya selalu mendapat poin tertinggi dalam rapat umum,” kenang Frei Betto.

Lula tidak berbicara dengan kepala, melainkan dengan hatinya. Ia tidak mengumbar teori ataupun membenamkan diri dalam frase demagogis. Ia selalu berpidato dengan bertolak pada pengalaman hidupnya, kadang dibumbui dengan anekdot dan metafor-metafor. Dalam tarikan suara yang tinggi, Lula juga sering menunjuk hidup pihak-pihak yang telah mendatangkan kesengsaraan rakyat: pengusaha, pemerintah, dan politisi korup.

Pidato Lula selalu beruha membangkitkan moral rakyat. Sentuhan pidatonya lebih banyak berbau moral ketimbang politik. Tidak jarang, ia mengaitkan ajaran-ajaran keagamaan yang progressif dengan perlunya membangkitkan perlawanan. Ia, seperti juga Chavez, sering mensitir tokoh-tokoh pembebas di masa lalu.

Namun, secara tiba-tiba, pada akhir oktober lalu, Lula tiba-tiba divonis menderita kanker tenggorokan. Laporan medis menyebut bahwa Lula memiliki tumor yang berada di pangkal tenggorokannya. Tumor itu telah membuat Lula harus berhenti bersuara untuk beberapa waktu. Saat ini, ia sedang menjalani perawatan kemoterapi yang cukup lama.

Kanker tampaknya menjadi momok bagi pemimpin Amerika latin. Sudah tiga orang pemimpin kiri Amerika latin yang terserang kanker: Fernando Lugo (Paraguay), Hugo Chavez (Venezuela), dan Lula Da Silva (Brazil).

Kita berharap, Chavez, Lugo dan Lula bisa sehat kembali seperti sedia kala. Gerakan perubahan di Amerika Latin masih sangat membutuhkan tokoh-tokoh tersebut.

RISAL KURNIA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut