Suara Korban Kekejian Imperialisme

Innocent Voices (2004)

Sutradara: Luis Mandoki
Penulis: Luis Mandoki dan Oscar Torres
Tahun Produksi: 2004
Durasi: 120 menit
Pemain: Carlos Padilla (Chava), Leonor Varela (Kella), Gustavo Muñoz (Ancha), José María Yazpik (Paman Beto), Ofelia Medina (Mama Toya), Daniel Giménez Cacho (Pendeta).

Mauricio Funes, kandidat dari Front Pembebasan Nasional Farabundo Marti (FMLN), berhasil memenangkan pemilu Presiden El Salvador. Hari itu, 15 Maret 2009, FMLN berhasil mengakhiri kekuasaan sayap kanan di negeri itu.

Mungkin diantara kita ada skeptis dengan kemenangan itu. Namun, bagi mereka yang faham betul sejarah El Salvador, kemenangan FMLN merupakan “pesta kebebasan” bagi penderitaan rakyat selama puluhan tahun. Rakyat El Salvador berhasil merebut kembali martabatnya sebagai manusia.

Dan film garapan Luis Mandoki, Innocent Voice, bisa menjadi kereta sejarah untuk melihat kekejian imperialisme di El Salvador. Pada tahun 1980, imperialisme AS mengubah negeri Amerika tengah itu dalam perang mengerikan selama 12 tahun. Lebih dari 75.000 rakyat El Salvador jadi korban peperangan itu.

Chava (Carlos Padilla), bocah berusia 11 tahun, menceritakan kejadian penuh pilu itu. Ia tinggal di pinggiran Cuscatazingo, yang saat itu menjadi pusat pertempuran antara militer pemerintah versus gerilyawan kiri (FMLN). Desingan peluru menjadi pemandangan biasa di desa kecil itu.

Ibunya, Kella (Leonor Varela), menjadi tulang-punggung keluarga. Ia menjahit sepanjang hari demi menyambung hidup keluarganya. Sedangkan ayahnya memilih “kabur” ke Amerika Serikat saat perang mulai pecah. “Aku adalah kepala keluarga sekarang,” kata Chava.

Dalam situasi saat itu, militer melebihi kekuasaan tuhan. Mereka menyerbu masuk sekolah, memaksa anak-anak berbaris, dan merekrut mereka menjadi tentara. Ya, militer didikan AS ini mewajibkan: anak 12 tahun wajib direkrut menjadi tentara dan kemudian ditugaskan membantai rakyatnya sendiri. Lebih 300 ribu anak-anak dipaksa menjadi tentara.

Ada adegan menarik dalam film ini. Tentara AS, yang melatih tentara lokal El Salvador, membagi-bagikan permen ke anak-anak. Seorang ibu memperingatkan, “keluarkan itu, Chava!”

“Kau tak dengar aku, Chava?”

“Kenapa? Ini enak,” kata Chava membela diri.

“Karena orang yang memberimu permen itu melatih tentara-tentara kita untuk membunuh kita. ”

Sentimen anti-imperialisme AS begitu kuat di hati rakyat El Salvador. Atas nama “anti-komunisme”, AS melatih tentara El Salvdor untuk membantai rakyatnya sendiri. Tidak hanya itu, pemerintah AS juga menggelontorkan lebih dari 1 miliar dollar untuk membantu pembantaian gerilyawan kiri di El Salvador.

Suatu hari, paman Chava (José María Yazpik), seorang gerilyawan FMLN, datang berkunjung. Dia membawa gitar dan memperdengarkan lagu-lagu rakyat—lagu terlarang di mata pemerintah sayap kanan. Ia juga memberikan sebuah radio kecil kepada Chava. Dengan radio itulah Chava bisa mendengar siaran “Radio Venceremos”, radio bawah tanah yang dijalankan oleh gerilyawan FMLN, dan mendengar lagu-lagu rakyat.

Chava sangat senang dengan mainan baru itu. Sampai pada suatu hari, Chava memainkan lagu-lagu rakyat tanpa hati-hati. Hal itu tercium tentara. Beruntung, pendeta lokal berhasil menyelamatkan dosa anak kecil itu dengan memutar lagu-lagu rakyat yang sama menggunakan pengeras suara gereja.

Pendeta ini juga banyak melindungi gerilyawan FMLN. Ia pun menjadi sasaran penganiayaan oleh tentara pemerintah. Sadar akan kekejian militer pemerintah, yang didukung oleh imperialisme AS, sang pendeta berkotbah:

“Para skeptis mengatakan, kalau ada Tuhan, maka tak ada perang. Maka aku merespon, jika manusia menuruti perintah Tuhan, maka tak ada perang. Karena Tuhan, Bapa kita, telah memberi manusia hak untuk hidup. Namun demikian, ada yang mengabaikan Rahmat Tuhan dan mereka memuaskan diri dengan mencuri, menghinakan, dan membunuh saudara sendiri. Saudara sekalian, ini adalah waktunya untuk menyuarakan suara kita melawan mereka (Militer). Untuk mempertahankan hak kita untuk hidup! Untuk memakai kekuatan kita untuk menentang kekuatan kematian.”

Di El Salvador, dan juga pada umumnya di Amerika Latin, agama telah memihak rakyat untuk melawan kezaliman. Agama telah menjadi alat pembebasan. Tak heran, agama pun bergandengan dengan gerakan kiri. Uskup Oscar Romero, santo pelindung kaum miskin itu, adalah penganut teologi pembebasan. Dia juga berjuang bersama rakyat El Salvador melawan kediktatoran militer. Ia dibunuh oleh militer El Salvador.

Hal lain yang menarik adalah ketika anak-anak menyebar selebaran agar anak-anak bersembunyi karena ada “perekrutan”. Hampir semua anak se desa berbaring di atas atap rumah mereka. Sedangkan tentara di bawah mereka sibuk menggeledah dan memaksa ibu-ibu menyerahkan anak-anaknya.

Chava, yang menyaksikan kekejian militer atas rakyat di negerinya, tak bisa menutupi keberpihakannya. Ia memilih bergabung dengan FMLN. Sayang, malam ketika ia masuk ke hutan dan bergabung dengan FMLN itu terendus militer. Markas FMLN diserang, lalu Chava dan 3 kawannya ditangkap.

Dua temannya dieksekusi dengan keji oleh tentara di pinggir sungai. Sedangkan Chava, yang nyaris mendapat giliran eksekusi, berhasil diselamatkan oleh serangan FMLN. Chava berhasil meloloskan diri.

Mauricio Funes, yang menjadi presiden El Salvador saat ini, adalah reporter televisi saat itu. Ia menyaksikan dari dekat kejadian itu dan sangat mempengaruhi sikap politiknya untuk bergabung dengan FMLN.

Ya, ini memang film yang sudah lama. Namun, bagi kami, film ini tetap penting untuk melihat sejarah Amerika latin. Kita akan menjadi tahu, betapa besar arti kemenangan Hugo Chavez, Evo Morales, Rafael Correa, Pepe Mujica, Fernando Lugo, Lula Da Silva ( Dilma Roussef), Nestor Kichner (kemudian dilanjutkan istrinya Christina Fernandes), Daniel Ortega, dan lain-lain. Mereka ini, terlepas dari kekurangan masing-masing, merupakan simbol pemulihan martabat dan kebebasan rakyat Amerika Latin.

Rosalina

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut