Terorisme dan Ketidakadilan Sosial

Belakangan ini, seiring dengan meningkatnya aksi terorisme yang dimotori kelompok militan yang mengatasnamakan Islam, seperti Negara Islam (ISIS), Al-Qaeda dan sejenisnya, menguat juga persepsi yang mengidentikkan Islam dengan terorisme.

Banyak yang menelan mentah-mentah persepsi ini. Saya kira, menguatnya sentimen “islamophobia” di Amerika dan Eropa ada kaitannya dengan persepsi ini. Mungkin di Indonesia ada juga yang berpandangan demikian.

Alhamdulillah, seorang pemuka agama dunia berusaha meluruskan kesalahan persepsi itu. Dia adalah Paus Fransiskus. Pemimpin gereja Katolik dunia itu punya kesimpulan menarik terkait fenomena terorisme tersebut.

Menurut Paus Fransiskus, fenomena terorisme yang merebak akhir-akhir berkait erat dengan ketidakadilan sosial dan penghambaan terhadap uang.

Ketikadilan sosial, pengangguran, kemiskinan membuat banyak orang tidak punya pilihan. Akhirnya, karena terjepit oleh tekanan ekonomi dan keharusan bertahan hidup, banyak yang mengambil jalan lain: narkoba, alkohol dan menjadi anggota gerakan fundamentalis.

“Berapa banyak anak muda di Eropa yang kehilangan harapan dan cita-cita? Menjadi pengangguran, lalu mereka menggunakan obat terlarang, alkohol, dan juga bergabung dengan kelompok fundamentalis,” kata Paus Fransiskus.

Karena itu, Paus menolak mentah-mentah pengaitan Islam dengan terorisme. Atau agama apapun dengan terorisme. Sebab, semua agama membawa misi duniawi yang sama: perdamaian.

Paus juga menolak mentah-mentah anggapan bahwa Islam identik dengan fundamentalisme dan kekerasan. Menurutnya, semua agama, termasuk Katolik, punya kelompok fundamentalis.

Saya kira, pernyataan Paus bukan hanya menyejukkan bagi umat Islam, tetapi meluaskan wawasan kita dalam melihat persoalan terorisme. Sebab, selama ini banyak yang melihat terorisme sebagai persoalan doktrin agama yang ekstrim saja. Ada lagi yang melihatnya sangat psikologis: persoalan kebencian semata. Mereka menceraikan terorisme dari persoalan ekonomi-politik.

Terorisme, juga menyebarnya kebencian dan intoleransi, memang tidak bisa dipisahkan dari problem ekonomi-politik: ketidakpastian kerja, ketimpangan, dan kemiskinan. Persaingan kerja dan alienasi sosial terkadang orang membuat patah semangat, lalu mencari perlindungan pada politik identitas.

Situasi ekonomi yang buruk, ditambah lagi dengan kehidupan politik yang kian berjarak dengan massa rakyat, memicu apa yang disebut oleh sosiolog Émile Durkheim sebagai “anomie”, yaitu keadaan yang kacau, tidak ada aturan, tidak ada otoritas yang dihormati.

Massa rakyat yang terperangkap dalam “anomie” sangat gampang terperangkap dalam propaganda yang menawarkan obat terhadap keterasingan, ketersingkiran, dan ketidakadilan. Kalau orang kiri menawarkan obat “revolusi sosial”, maka kaum kanan/fasis menawarkan obat xenophobia, anti-imigran, rasisme, chauvinisme, dan sejenisnya. Sedangkan kanan fundamentalis menawarkan obat bernama “Surga Akhirat”.

Karena itu, memerangi terorisme tidak bisa dengan mengeliminasi para pelaku terornya saja, tetapi juga mengeliminasi kondisi sosial yang memaksa orang mengambil pilihan hidup sebagai teroris.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut