STN Kecam Penggusuran Paksa di Kulon Progo

Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional (KPP STN) mengecam keras tindakan PT Angkasa Pura I dan aparat kepolisian dalam penggusuran paksa di desa Palihan, kecamatan Temon, Kulon Progo, Yogyakarta.

“Persoalan yang terjadi di Kulon Progo tersebut merupakan salah satu dari sekian banyaknya konflik agraria yang mengancam kedamaian hidup rakyat,” ujar Ketua Umum STN, Ahmad Rifai, dalam siaran pers, Raby (6/12/2017).

Menurut Rifai, kasus Kulo Progo juga merupakan bukti bahwa ada yang belum beres dalam tata kelola dan politik agraria di Indonesia.

“Negara semakin menjauhkan rakyat dari tanahnya,” tegasnya.

Dia menegaskan, perampasan dan penggusuran yang dialami oleh warga Kulon Progo merupakan bentuk pengingkaran terhadap Pancasila dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Sebab, kata dia, penggunaan cara-cara kekerasan dan perampasan bukanlah perilaku yang berdasar pada Pancasila. Karena itu, dia mendesak pemerintah menyelesaikan konflik agraria dengan mengacu pada UUD 1945 Pasal 33 dan UUPA Nomor 5 Tahun 1960.

Untuk diketahui, sejak tanggal 27 November lalu hingga 4 Desember kemarin, pihak PT Angkasa Pura I beserta aparat kepolisian dan pemerintah setempat berusaha menggusur paksa Warga Palihan, Temon, Kulon Progo.

Dalam proses penggusuran itu, pihak PT Angkasa Pura dan aparat kepolisian melakukan proses pemutusan aliran listrik, menutup akses keluar masuk warga yang menolak, hingga penghancuran secara paksa bangunan milik warga.

Tidak hanya itu, penggusuran ini juga disertai tindakan kekerasan terhadap warga. Bahkan, polisi juga menangkap 12 orang aktivis mahasiswa yang bersolidaritas terhadap warga.

Penggusuran paksa itu sendiri terkait dengan proyek pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Warga yang tanah atau pemukimannya terdampak oleh proyek ini menyatakan penolakan.

Muhammad Idris

Foto ilustrasi: Warga pesisir Kulonprogo yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DIY, Senin (18/4). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut