Kumis dan Kaum Pergerakan

Selain rambut di kepala, biasanya rambut di bawah hidung alias kumis juga kerap dianggap sebagai “mahkota” laki-laki. Bahkan kumis menjadi topik penting dalam sejarah, termasuk untuk mengukur kelaki-lakian.

Jangan heran, kumis punya macam gaya. Ada gaya Imperial ala bangsawan Eropa di zaman feodal. Kemudian ada gaya Walrus ala filsuf Friedrich Nietzsche. Ada gaya pensil mirip bintang Amerika 1940-an, Clark Gable. Dan ada model sikat gigi seperti Charlie Chaplin dan Hitler.

Rupanya, gaya kumis yang beragam itu pernah populer di Indonesia. Terutama di masa-masa awal abad ke-20. Bahkan banyak tokoh pergerakan yang tidak mau ketinggalan dengan gaya kumis yang populer kala itu.

Sebut saja Tirto Adhisuryo, Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dr Sutomo, Tjipto Mangunkusumo, Wahidin Sudirohusodo, hingga Douwes Dekker. Kumis sangat populer di kalangan nasionalis, yang memang berlatar-belakang priayi.

Di kalangan komunis, yang terlihat menonjol kumisnya hanya Alimin dan Haji Datuk Batuah. Tokoh komunis yang lain, seperti Semaun dan Tan Malaka, tidak berkumis. Kendati tokoh penyebar komunis di Hindia, Henk Sneevliet, memelihara kumis juga.

Yang unik adalah gaya kumis Tirto Adhisuryo dan Tjokroaminoto. Gaya Tirto lebih mirip ke gaya Handlebar, lebat dan ujungnya yang tipis melengkung ke atas. Sedangkan kumis Tjokro ada yang bergaya Inggris (lebat di tengah, tapi mendatar, dengan ujung yang lancip), tetapi ada juga yang bergaya imperial (sangat tebal di tengah dan ujung melengkung ke atas).

Sedangkan kumis tokoh Sarekat Islam putih, Haji Agus Salim, lebih mendekati gaya Inggris. Pendiri Boedi Oetomo dr Sutomo mirip gaya alami atau Chevron. Lalu si dokter radikal-progressif Tjipto dengan gaya kumis pensil. Mirip dengan gaya kumisnya tokoh komunis, Alimin. Sementara Haji Datuk Batuah, komunis dari Sumatera Barat itu, bergaya Walrus.

Saking ngetrendnya kumis di zaman itu, banyak aktivis yang kepincut untuk memelihara kumisnya. Tidak terkecuali aktivis pemula yang lagi naik daun, Sukarno.

Dalam otobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno menceritakan pengalaman memelihara kumis. Dia kagum pada bintang film amerika yang lagi ngetop kala itu, Norman Kerry, dengan kumisnya yang bergaya Handlebar.

Tapi sayang, kumis Sukarno tidak melengkung ke atas pada ujung-ujungnya. Dan oleh istrinya, Inggit Garnasih, dia diejek: kumis Sukarno lebih mirip dengan Charlie Chaplin yang bergaya sikat gigi. Kecewa tidak bisa meniru bintang pujaannya, Sukarno patah semangat dan menyerah.

“Akhirnya usahaku satu-satunya untuk meniru seseorang berakhir dengan kegagalan yang menyedihkan dan semua pikiran itu kulepaskan segera dari ingatan,” kenang Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sejak itulah Sukarno tidak lagi menaruh minat untuk memelihara dan memanjangkan kumis. Sebaliknya, dia tampil sebagai tokoh terpenting dari dunia pergerakan di zaman itu justru dengan wajah tanpa sehelai rambut pun.

Yang menarik, betapa kaum kaum pergerakan zaman itu terpesona dengan gaya yang lagi ngetrend. Bukan hanya gaya berpikir yang kekinian, gaya fisik—termasuk kumis—pun harus kekinian. Tidak katrok.

Yang menarik lagi, betapa pengaruh gaya dari luar sudah menerjang orang-orang gaul di dalam negeri, termasuk orang-orang kesohor dalam politik. Bahkan pengaruh film-film Amerika sudah begitu mempengaruhi gaya dan penampilan orang semacam Sukarno.

Rudi Hartono, pimred berdikarionline.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: