SRMI Banyumas: Mari Berjuang Mengatasi Gizi Buruk

Indonesia masih berjuang keras mengatasi gizi buruk. Menurut catatan resmi, hingga tahun 2011 lalu, terdapat 4,5 persen dari 22 juta anak Indonesia mengalami gizi kurang atau gizi buruk.

Namun, versi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyebutkan, sebanyak 8 juta jiwa atau 35 persen dari 23 juta balita Indonesia menderita gizi buruk.

Melihat kondisi itu, Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Kabupaten Banyumas pun tergerak untuk mengambil peran dalam perjuangan mengatasi gizi buruk.

Bekerjasama dengan Toto Dirgantoro Foundation, SRMI Banyumas telah menggelar program gizi untuk anak. Dalam program ini, SRMI bekerjasama dengan Posyando dan pemerintahan desa untuk mendistribusikan bantuan gizi kepada anak-anak.

Tak hanya itu, SRMI juga menggunakan kesempatan itu untuk memberikan penyuluhan terkait gizi dan kesehatan. “Kebanyakan penyuluhan itu kami berikan kepada kader-kader Posyandu di berbagai desa,” kata Ketua SRMI Banyumas, Chieka Fitria.

Menurut Fitria, dengan menggandeng Posyandu, ia berharap bisa menjangkau rakyat miskin di desa-desa. “Faktor kekurangan gizi ini terkait erat dengan kemiskinan. Jadi, dalam mengatasi gizi buruk, ya, ini tugas pemerintah sebetulnya,” ujar Fitria.

Hari selasa (5/2) kemarin, SRMI menggelar pembagian gizi berupa kacang hijau dan telur kepada warga desa Patikraja, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas.

“Selama ini program perbaikan gizi hanya dilakukan oleh Posyandu dan itupun mengandalkan dana swadaya masyarakat. Pemerintah hampir tidak berperan sama sekali,” katanya.

Menurut Chieka, untuk mengatasi persoalan gizi buruk, pemerintah seharusnya bisa memobilisasi seluruh potensi, baik anggaran, tenaga kesehatan, maupun massa rakyat.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut