Mengawal Revolusi Dengan Mobilisasi Rakyat

Senin, 4 Februari lalu, jalan-jalan di kota Caracas, Ibukota Venezuela, kembali dipenuhi oleh massa-rakyat yang menyemut. Hari itu Venezuela memperingati 21 tahun kudeta militer tanggal 4 Februari 1992 yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Hugo Chavez.

Ada yang menarik saat mobilisasi hari Senin itu. Di sela-sela massa rakyat tampak anggota militer Venezuela. Bahkan, anggota militer membawa serta tank dan kendaraan lapis baja mereka.

Dalam sebulan terakhir, sudah terjadi dua kali mobilisasi massa dalam jumlah besar. Yang terbesar berlangsung tanggal 23 Januari lalu, yang bertepatan dengan hari penggulingan kediktatoran Marcos Jimenez, 23 Januari 1958, oleh aliansi rakyat dan militer.

Mobilisasi 23 Januari lalu itu melibatkan jutaan rakyat Venezuela. Mereka berbaris di bawah seruan “membela Revolusi Bolivarian”. Pada hari itu juga oposisi Venezuela—yang bersatu di bawah payung MUD/Roundtable for Democratic Unity—melalukan mobilisasi tetapi jumlah massanya sangat kecil.

Sejak Chavez menjalani operasi kanker di Havana, Kuba, pihak oposisi Venezuela seakan bertemu momentum. Mereka mendendangkan memburuknya kesehatan Chavez sebagai dalih untuk mencari jalan pelaksanaan Pemilu ulang.

Puncak perseteruan itu “meledak” menjelang pelantikan Chavez sebagai Presiden pada tanggal 10 Januari lalu. Berdasarkan rekomendasi Tim Dokter Kuba, Chavez belum bisa menghadiri acara pelantikan.

Namun, prosesi pelantikan tak bisa diundur. Akhirnya, melalui Wapres Nicolas Maduro, Chavez meminta agar pelantikan dirinya dilakukan di kemudian hari. Majelis Nasional Venezuela, yang dikuasai oleh partai pendukung Chavez—Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV)—mengamini permintaan itu.

Oposisi Venezuela langsung kebakaran jenggot. Bagi mereka, ketidakhadiran Chavez berarti terjadi “kekosongan kekuasaan”. Selanjutnya, oposisi mendesak agar segera digelar pemilu  presiden ulang. Mereka pun tidak mengakui status Chavez sebagai Presiden.

Sementara bagi pihak Majelis Nasional, kehadiran Presiden secara fisik dalam proses pelantikan hanya “seremonial” belaka. “Itu hanya proses formal belaka,” kata Ketua Majelis Nasional, Diosdado Cabello, yang juga rekan seperjuangan Chavez.

Karena keinginannya diacuhkan, oposisi Venezuela pun mengancam melakukan pembangkangan sipil. Bersamaan dengan itu, mereka mengancam akan melakukan mobilisasi umum untuk mendesakkan pelaksanaan pemilu sesegera mungkin.

Media-media sayap kanan ikut nimbrung membantu rekan oposisi-nya di Venezuela. Tak ketinggalan media-media kanan internasional. Salah satu yang paling getol adalah majalah terbesar Spanyol, El País. Sementara media-media besar, seperti New York Times, tak henti-hentinya melakukan disinformasi terhadap Venezuela.

Oposisi juga membuat propaganda busuk terkait bahaya “Komunisme Castro-Kuba”. Mereka menuding Venezuela di bawah Chavez telah jatuh di pangkuan rezim komunis Kuba. Bulan lalu, sejumlah mahasiswa di Merida, negara bagian Venezuela, membakar patung Fidel Castro dan bendera Kuba.

Isu destabilisasi menguat di Venezuela. Belakangan tercium rencana pembunuhan terhadap dua pemimpin kunci Venezuela, yakni Wapres Nicolas Maduro dan Ketua Majelis Nasional Diosdado Cabello. Oposisi juga berencana melanjutkan sabotase ekonomi untuk menciptakan ketidakstabilan di Venezuela.

“Tetapi, mereka harus tahu, mobilisasi rakyat ini adalah bukti bahwa rakyat tak mau menyerah,” kata wartawan pendukung Revolusi Bolivarian, Jose Vincent Rangel, di tengah-tengah mobilisasi rakyat pada tanggal 23 Januari lalu.

Dalam revolusi Venezuela, gerakan massa memang faktor kunci, tidak hanya untuk memenangkan revolusi dalam berbagai pemilihan, tetapi juga dalam mempertahankan revolusi itu sendiri. Sejumlah upaya destabilisasi oleh sayap kanan, baik melalui kudeta maupun sabotase ekonomi, berhasil dicegat oleh gerakan massa.

Yang menarik, Chavez menyadari, bahwa kekuasannya tidak bisa berdiri di atas fondasi negara borjuis. Karena itu, ia mendorong sebuah proses untuk mentransformasi negara borjuis itu menjadi kekuasaan baru, yaitu kekuasaan rakyat, yang sejalan dengan cita-cita “sosialisme abad 21”.

Sejalan dengan itu, Chavez mendorong gerakan rakyat membangun kekuatannya dari bawah—dewan pabrik, dewan komunal, dan milisi rakyat—yang menjadi embrio dari negara baru: negara komunal.

Dengan demikian, Venezuela sekarang ini sedang memasuki ketegangan antara bentuk negara lama yang berorientasi top-down dengan negara baru yang bottom-up. Hanya saja, patut dicatat, bahwa peran Chavez dan komitmen politiknya sangat penting dalam proses ini.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut