Sinetronisasi Korupsi

Inilah jaman ketika korupsi mulai dianggap tontonan biasa. Tapi, kalau mau jujur, cerita kasus korupsi sudah mirip sinetron. Kasus korupsi, seperti juga sinetron, banyak mengandung kontroversi, intrik, rekayasa, dan ketidak-logisan. Kadang-kadang terjadi redudansi (pengulangan cerita).

Lihat saja kasus mafia pajak. Episodenya sampai sekarang belum selesai-selesai juga. Habis Gayus, datanglah Dhana! Dan seterusnya. Seolah tidak ada ujungnya, coy! Mirip dengan sinetron “Cinta Fitri”, yang sudah melebihi 1000 episode.

Sinetron, yang dalam bahasa Inggris disebut “Opera Sabun”, memang berasal dari drama berseri di radio-radio Amerika di tahun 1930-an. Tahun 1950, serial drama ini hijrah ke siaran televisi. Sejak itulah mulai disebut opera sabun.

Korupsi punya sejarah lebih tua lagi. Konon, ia sudah ada sejak perkembangan corak produksi sudah memungkinkan terjadinya surplus dan masyarakat mulai terbagi dalam klas-klas. Hammurabi (1792-1750 SM), raja Babilonia yang terkenal itu, sudah berurusan dengan gubernur korupsi.

Begitu juga dengan Indonesia. Tahun 1799, sebuah kongsi dagang terbesar saat itu, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), mengalami kebangkrutan gara-gara dilanda korupsi besar-besaran. Mungkin saja, korupsi sudah hadir di Indonesia jauh sebelum kehadiran VOC.

WF Wertheim, sosialog Belanda yang konsen menulis soal Indonesia itu, menganggap korupsi sudah mengental dalam birokrasi feodal kerajaan-kerajaan di Jawa. Itu terjadi jauh sebelum kedatangan kolonialisme. Kala itu, upeti atau pajak yang dikumpulkan oleh kerajaan tak luput dari penyunatan.

Nah, kita kembali ke soal korupsi dan sinetron. Seorang teman saya pernah bilang begini: “nonton berita korupsi di TV sekarang bak nonton sinetron, ya.” Saya berusaha menangkap dan merenungkan maksud teman saya ini.

Ada benarnya juga. Lihat saja kasus Gayus Tambunan, Nazaruddin, Nunung Nurbaeti, Angelina Sondakh. Kisah mereka benar-benar bak sinetron. Gayus, misalnya, sempat melarikan diri ke Singapura. Sayang, ia ketangkap ketika sedang beli makan siang di arena tempat makan (food court) di sekitar Orchard Road, Singapura.

Meski sudah ketangkap, bukan berarti petualangan Gayus sudah usai. Tiba-tiba, ketika ada tournamen tennis internasional di Denpasar, Bali, Gayus tiba-tiba ada di sana. Sebuah kamera iseng menangkap sosoknya. Ia mengenakan rambut palsu, dibalut jaket hitam, dan dengan kacamata hitam. Seru kan…!

Penangkapan Nazaruddin tak kalah serunya. Sewaktu kasusnya mulai tercium, ia masih di Indonesia dan sering nongol di TV. Begitu akan ditangkap, Nazaruddin kabur ke luar negeri. Tidak ada yang tahu ia kabur kemana. Awalnya, ada yang bilang, “Nazaruddin kabur ke Singapura.”

Kata Nazaruddin, selama tinggal di Singapura, ia sempat mendapat teror senjata api. “Saya pernah ditembak saat di Singapura,” ujarnya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu petang, 28 Maret 2012. Siapakah yang meneror Nazaruddin? Para penonton tentu penasaran. Tunggu saja di akhir episode, ya!

Dari Singapura Nazaruddin sempat ke Timur Tengah, sebelum akhirnya ke negara-negara Amerika Selatan: Dominika, Bahama, Venezuela, dan Kolombia. Kerennya lagi, seperti mafioso, Nazaruddin kadang muncul di layar TV. Ia menebar ancaman pada lawan-lawannya.

Sayang, ketika sedang di bandara Cartagena, Kolumbia, keberadaan Nazaruddin terendus Interpol. Ia pun ditangkap dan dipulangkan ke Indonesia.

Ada juga kisah yang tak kalah serunya. Ini benar-benar bak sinetron karena ada asmara dan cinta segi-tiga di dalamnya. Itulah kasus Antasari Azhar. Diceritakan, Antazari Azhar—yang saat itu pimpinan KPK—terlibat cinta segitiga dengan seorang caddy cantik, Rani Juliani. Rani sendiri merupakan istri kesekian dari Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen.

Singkat cerita, kisah cintah segi-tiga ini berakhir tragis: pembunuhan. Nasruddin ditembak di dalam mobilnya oleh dua orang yang menggunakan motor. Usut punya usut, pembunuhan ini melibatkan Antasari Azhar. Meski begitu, seperti juga sinetron, supaya menarik perhatian, ada bau-bau rekayasa di dalam kasus ini.

Ada banyak kisah-kisah seru lainnya. Jika anda beta duduk di depan TV, maka kisah-kisah tersebut bisa disimak. Ada lagu jenis sinetron korupsi terbaru: korupsi religi.  Modusnya: pelaku korupsi, ketika tertangkap, akan segera menggunakan cadar atau jilbab besar. Ini benar-benar menjijikkan.

Begitu korupsi menyerupai sinetron, maka ada hal yang mengkhawatirkan: pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini tak ubahnya aktor yang berpura-pura memerankan sosok tertentu: koruptor, pengacara, pejabat negara, polisi, hakim, komisi pemberantasan korupsi, dan lain-lain.

Selain kemiripan cerita, ada pengamat yang mengatakan, sinetron mempengaruhi orang untuk korupsi. Penjelasannya sederhana: sinetron bisa menabur mimpi orang untuk hidup hiper-konsumtif. Akhirnya, karena tidak punya kemampuan, ia terpaksa mencari jalan pintas. Salah satunya: korupsi.

Ini mirip dengan pendapat Bung Pram: konsumsi lebih besar dari produksi. “Orang Indonesia ini hidup sangat konsumtif, tetapi kurang berproduksi,” kata sastrawan besar Indonesia ini.

Ahmad Rofik, penggiat di perhimpunan Praxis Theoria

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut