Uskup Kaum Miskin Itu Tetap Melawan!

Hanya sedikit pemerintahan yang mau menjadi perisai bagi kaum miskin. Salah satunya adalah pemerintahan Fernando Lugo di Paraguay.

Namun, pada 22 Juli 2012 lalu, kekuasaan Lugo dilikuidasi oleh kekuatan sayap kanan. Parlemen—yang didominasi sayap kanan—tiba-tiba mengajukan tuntutan pemakzulan.

Perkaranya masih kabur: Lugo dianggap bertanggung-jawab atas tewasnya 17 orang petani dan polisi saat bentrokan berbau konflik agraria di Provinsi Canindeyu. Kasus inilah yang diolah oleh sayap kanan, dengan dukungan media massa, untuk melancarkan kudeta terhadap Lugo.

Akhirnya, melalui proses persidangan yang direkayasa, Lugo dipaksa lengser: 39 anggota senat setuju pemakzulan, 4 orang menentang, dan 2 orang abstain. Beberapa pengamat menyebut langkah ini sebagai “kudeta parlemen”.

Kudeta Kaum Kaya dan Imperialis

Sejak berkuasa tahun 2008 lalu, Lugo merupakan ancaman bagi kepentingan kelompok bisnis, militer, dan korporasi multinasional di Paraguay. Kebijakan Lugo banyak merugikan kepentingan kelompok-kelompok tersebut.

Kehadiran Lugo dianggap mengganggu dinasti politik sayap kanan, yakni partai Colorado, yang sudah berkuasa selama 61 tahun. Partai ini adalah perpanjangan tangan dari kepentingan kaum tuan tanah dan elit bisnis di Paraguay. Partai ini juga menjadi penyokong era kediktatoran Jenderal Alfredo Stroessner (1954 – 1989).

Lugo dilantik sebagai Presiden tahun 2008. Ia langsung berhadapan dengan situasi pelit warisan rezim lama: ketimpangan sosial-ekonomi yang berurat-berakar. Laporan PBB tahun itu menyebutkan, 38% rakyat Uruguay hidup dalam kemiskinan. 49% kemiskinan itu hadir di pedesaan. Kemudian, 19% rakyat hidup dalam kemiskinan ekstrim.

Lugo bergerak cepat. Ia segera meluncurkan program perlindungan sosial untuk mengurangi tingkat kemiskinan. 500-an balai kesehatan gratis berdiri di seantero negeri. Sekolah-sekolah juga dibangun dimana-mana.

Namun, gebrakan Lugo yang paling radikal adalah reforma agraria. Di paraguay, 2% dari penduduk menguasai 75% tanah subur. Sedangkan pertanian rakyat—yang mengcakup 40% penduduk—hanya menguasai 5% tanah. Sepertiga penduduk di pedesaan tak bertanah.

Lugo segera menggebrak. Ia mendorong reforma agraria dan kebijakan yang berpihak kepada kaum tani. Lugo juga bertabrakan dengan korporasi multinasional, Monsanto dan Cargill Corporation.

Di sinilah kontradiksi itu meletus. Sayap kanan, yang berhimpun di partai Colorado, segera melakukan penentangan. Uni Asosiasi Produksi (UGP), sebuah organisasi pengusaha, mengintensifkan kampanye anti-pemerintah lewat media. Mereka juga melancarkan demonstrasi.

Idilio Mendez Grimaldi, seorang jurnalis investigator, menyebut tiga kepentingan yang berada di balik penggulingan Lugo. Yakni: (1) perusahaan agrobisnis internasional dan sektor finansial, (2) tuan tanah yang bersekutu dengan oligarki kapital internasional, dan (3) partai politik sayap kanan. “Ketiga-tiganya disokong oleh Amerika Serikat,” kata Grimaldi.

Uskup Kaum Papa

Lugo memang mewakili orang miskin. Ia mendapat gelar “uskup kaum papa”. Selama puluhan tahun Lugo terlibat dalam perjuangan rakyat Paraguay. Pada tahun 1994, ketika dirinya diangkat menjadi di San Pedro—sebuah kawasan miskin di Paraguay, Lugo aktif membangun gerakan rakyat.

Ia melayani rakyat. Persentuhannya dengan massa-rakyat itu turut mengasah kesadaran politiknya. Ia gerah melihat penindasan dan ketidakadilan yang mendera massa-rakyat. Baginya, kemiskinan bukan karena faktor alam atau kebetulan, melainkan sebuah kondisi struktural: sistim ekonomi neoliberal.

Ia menentang perdagangan bebas yang tidak adil. Geraja dan gerakan sosial bersatu-padu menentang perdagangan tak adil itu. Lugo kemudian menjadi bagian dari gerakan anti-neoliberalisme. Hatinya terus terenyuh melihat kemiskinan. “Bila ada hal yang paling menyakitkan saya, maka itu adalah ketidakadilan dan terutama sekali ketidakadilan sosial,” kata Lugo.

Aktivitas politiknya menuai kontroversi. Gereja konservatif menuding gerakan politik Lugo sudah melanggar hukum kanon gereja Katolik. Vatikan memintanya untuk undur diri dari gerakan politik. Akhirnya, 25 Desember 2005, ia resmi mundur dari keuskupan.

Lugo makin mencelupkan diri dalam gerakan politik. Ia membangun gerakan politik bernama Alianza Patriotica para el Cambio (Aliansi Patriotik untuk Perubahan). Gerakan ini aktif menentang neoliberalisme dan korupsi. Banyak massa rakyat terseret dan berbaris bersama gerakan politik ini.

Aliansi Patriotica para El Cambio sangat lebar. Di dalamnya terdapat kaum komunis, gereja, komunitas basis, dan kelompok liberal. Setidaknya 14 partai oposisi bergabung dalam aliansi lebar ini. Aliansi inilah yang mengangarkan Lugo memenangkan pemilu Presiden pada tahun 2008 lalu. Ia mendapat dukungan suara 41%.

Kemenangan Lugo adalah kecelakaan sejarah bagi sayap kanan. Lugo merupakan presiden pertama yang bukan sayap kanan sejak 1946. Partai Colorado mengontrol negeri itu selama 61 tahun. Dan, Lugo adalah presiden keempat yang lahir dari pemilu dalam sejarah politik Paraguay.

Seorang uskup di tengah benturan politik yang keras. Itulah Fernando Lugo. Meski dirinya menerima keputusan Kongres, Lugo mengatakan, “saya menyerukan kepada orang-orang desa, pemuda dan semua warga negara, untuk terus melawan sampai kita kembali pada kekuasaan kita.”

Ya, uskup kaum papa itu terus melawan!

Timur Subangun, Anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut