Seni dan Budaya di Bawah Pandemi

Dunia masih berjibaku menghadapi pandemi virus korona. Ada 202 negara dan teritori otonom yang terdampak oleh virus ini. Dampaknya tak hanya kesehatan, politik, dan ekonomi, tetapi juga budaya.

Budaya, sebagai sesuatu yang terkait oleh kebiasaan-kebiasan manusia, tentu terdampak oleh pandemi. Ketika kita harus di rumah saja, belajar dari rumah, beribadah dari rumah, perilaku kita tentu terpengaruh.

Pembumian Istilah-Istilah Pandemi

Banyak istilah-istilah dalam pandemi ini yang mengadopsi bahasa asing, seperti social-distancing (penjarakan sosial), hand-sanitizer (pembersih tangan), rapid test (tes cepat), suspect (terduga positif), hingga lockdown (penutupan wilayah).

Bayangkan istilah-istilah asing itu dihambur ke khalayak tanpa diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Maka muncul kejadian unik, bagaimana istilah-istilah itu diadaftasi oleh masyarakat di akar rumput.

Di sejumlah daerah, baik lorong/gang di kota maupun jalan-jalan masuk di kampung, terpampang tulisan pemberitahuan yang mengadaftasi istilah lockdown dengan kata-kata lucu. Ada yang menulis lockdown dengan lock-don’t. Ada juga yang menulis: Jalan Ini Sedang Didownload dan Maaf, Jalan di London.

Tentu saja, ini pembelajaran bagi pemerintah dan media massa ke depan. Agar tidak begitu saja menghamburkan istilah-istilah asing ke publik, tetapi ada baiknya sudah diadaftasi ke bahasa Indonesia.

Baca juga: Pandemi Mengubah Wajah Ekonomi Dunia (Bagian I)

Saat Bekerja dari Rumah

Sejak pandemi, ada himbauan agar kita bekerja di rumah atau work from home (WfH). Tentu saja, WfH mengubah budaya kerja kita, dari biasanya lebih formal menjadi fleksibel (jam kerja, tempat kerja, pakaian kerja, dll).

Kita tak perlu lagi, bangun subuh-subuh hanya untuk mengejar KRL terpagi dari Bogor/Tangerang/Bekasi menuju Jakarta. Tidak perlu terbirit-birit mengejar waktu agar tak telat ke kantor. Tak perlu bermacet-macet ria di jalanan.

Tinggal, tantangannya: bagaimana mendesain ruang dan suasana kerja di rumah kita. Dari tata letak meja dan kursi, pencahayaan, sirkulasi udara, dan lain-lain. Tidak ketinggalan: memastikan kuota internet.

Kalau mau rapat mendadak, gak perlu pusing. Ada aplikasi yang memungkinkan pertemuan via online, seperti Zoom, Google Meet, Skype, dan lain-lain.

Sejak pandemi, kalau kita melihat di medsos, ada yang agak berubah. Postingan makan di kafe berkurang. Sekarang yang banyak adalah screen-shoot diskusi online via zoom atau google meet. Hehehe..

Baca juga: Pandemi Mengubah Wajah Ekonomi Dunia (Bagian 2)

Belajar dari rumah

Ada hal unik ketika siswa diharuskan belajar dari rumah. Semua orang, tak peduli faham teknologi atau tidak, diharuskan membantu anaknya untuk belajar dari rumah.

Bayangkan, setiap orang tua mendadak dituntut menjadi guru bagi anak-anaknya. Dan sebagai guru, tak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga faham teknologi.

Solidaritas dan Gotong-Royong

Sejak pandemic, muncul gerakan solidaritas dan gotong-royong untuk membantu sesama-rakyat yang terdampak pandemi: orang miskin, pekerja informal, dan korban PHK.

Di Jakarta, ada Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) yang mendirikan  Posko Tangkal Korona (Postakor). Posko ini tak hanya melakukan aksi kesehatan, seperti pembagian masker dan penyemprotan disinfektan. Tetapi juga membagikan sembako dan membuat dapur umum bagi rakyat miskin.

Ada seniman bernama Iskandar Harrdjodimuljo, seorang seniman wayang uwuh, berbagi paket sembako bagi yang membutuhkan. Caranya: beberapa paket sembako digantung di papan yang ditempel di pohong mati. Aksinya ini dimanakan Wayang Bersedekah; Gratis SeorangSatuKresek. Paket sembako yang dibagikannya berasal dari kantongnya sendiri dan hasil penjualan karya wayangnya.

Di Yogyakarta, para aktivis membangun gerakan solidaritas bernama Solidaritas Pangan Jogja, yang membagikan nasi bungkus kepada pekerja informal yang terdampak oleh pandemi, seperti tukang becak, pedagang pasar, pemulung, ojol, buruh gendong, dan tukang sampah.

Gerakan ini menggelar dapur umum. Awalnya cuma 3, tetapi sekarang jadi 12. Semua dapur itu digerakkan oleh para sukarelawan, yang terbagi dalam dua tim: juru masak dan distributor.

Solidaritas Pangan Jogjajuga menginisiasi gerakan serupa di banyak kota, seperti Makassar, Tangerang Selatan, dan Madura.

Baca juga: Pandemi Mengubah Wajah Ekonomi Dunia (Selesai)

Aktivitas Seni Budaya

Pandemi tak menghentikan aktivitas seni-budaya. Meskipun harus tampil dengan cara baru: daring.

Dari Solo, seniman teater modern dan tradisi yang tergabung dalam Kethoprak Srawung Bersama mengadakan pentas daring dengan lakon “Pageblug”pada 19 April 2020.

“Pegeblug” berkisah tentang dinamika perjuangan para korban HAM di tengah situasi wabah yang melanda dunia. Disajikan dalam pertunjukan bahwa situasi pandemi corona sekarang ini tak beda dengan situasi kekerasan politik di tahun 1965.

Umumnya, konser musik lumrah dibanjiri ribuan massa: berjingkrak-berdesakan-bernyanyi dalam koor bersama. Tetapi pandemi tak memungkinkan itu. Tetapi, jangan kira konser berhenti. Konser tetap ada, tetapi daring.

Ada konser musik bertajuk “Konser Musik #Dirumahsaja”, yang dihelat pada 25-28 Maret lalu. Konser ini dimeriahkan oleh pesohor tanah air, seperti Armand Maulana, Judika, Ridho Hafiedz & Kaka, Rossa, Afgan, Ariel Noah, Raisa, Ari Lasso, Iwan Fals, Trio Lestari, dan banyak nama lain.

Konser ini ternyata tak “kosongan”. Selain untuk saling menguatkan antar musisi, juga mengajak banyak pihak berdonasi lewat kitabisa.com. Lebih dari Rp 10 milyar terkumpul dari acara ini, yang dialokasikan untuk membeli alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, penyemprotan disinfektan, hingga sembako.

Sementara si Godfather of Broken Heart,  Didi Kempot, berhasil mengumpulkan Rp 4 milyar hasil donasi Sobat Ambyar. Donasi diperuntukkan untuk warga masyarakat yang terdampak langsung oleh pandemi.

Tak mau ketinggalan dalam bersolidaritas, band Navicula dari Bali juga melakukan konser live streaming. Mereka mengggalang dana untuk penyediaan APD bagi semua paramedis yang membutuhkan.

*

Banyak hal yang tak terpikirkan di masa normal, kita akhirnya terpaksa lakukan di masa pandemi ini. Hal yang dulunya dianggap tidak biasa, menjadi hal biasa sekarang. Inilah yang disebut kehidupan normal yang baru (new normal).

Rajin cuci tangan dan pakai masker akan menjadi kebiasaan baru di masa depan. Kerja jarak jauh juga akan semakin marak di masa depan. Semakin banyak kelas/pendidikan jarak jauh. Dan masih banyak lagi.

Kemudian, sembari menunggu vaksin atau minimal solusi atas pandemi ini, mari memperkuat solidaritas dan gotong-royong.  

TEJO PRIYONO, Ketua Umum Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid