Semangat Kemerdekaan

Di sebuah lapangan kecil yang dikelilingi rumah kumuh, berdiri sebuah panggung dengan riasan merah dan putih. Di atas panggung itu sedang berlangsung sebuah acara sederhana: peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-66.

Tidak jauh dari lokasi itu, terdapat pemukiman elit dengan rumah-rumah mewah dan bertingkat-tingkat. Hanya bendera merah-putih yang bertengger di pagar masing-masing rumah. Ada juga rumah yang tak memasang bendera sama sekali.

Kedua tempat itu hanya dipisahkan oleh jalan. Tetapi semarak kemerdekaan lebih terasa dan bergaung di kawasan miskin itu. Sebuah acara sederhana, yang dibiayai dengan sumbangan warga sendiri, menandai betapa berharganya kemerdekaan di mata orang-orang miskin itu.

Supri, 45 tahun, salah seorang penghuni kawasan kumuh itu, mengaku acara itu sekedar sebuah ekspresi rasa syukur atas karunia kemerdekaan. Bagi Supri, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bakso, karunia kemerdekaan telah membuat bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan.

Hal serupa dirasakan Nando, pemuda dari daerah tersebut, yang turut menggarap pelaksanaan acara sederhana itu. Baginya, jika tidak ada kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan, maka rasanya sangat sulit menghirup udara bebas seperti sekarang ini.

Rupanya, bagi Supri dan Nando, hengkangnya kolonialisme secara fisik dari bumi nusantara dianggap sebagai bukti konkret kemerdekaan. Tetapi keduanya juga menyadari, cita-cita perjuangan kemerdekaan belum sepenuhnya terwujud.

“Kita belum merasakan masyarakat adil dan makmur. Yang makmur baru segelintir orang kaya dan kaum elit,” kata Supri.

Masih jauhnya antara cita-cita perjuangan kemerdekaan dan kenyataan juga dirasakan oleh Trikoyo Ramidjo. Trikoyo, yang pada saat perjuangan kemerdekaan turut memanggul senjata, mengaku cita-cita kemerdekaan masih sangat jauh dari kenyataan.

Masyarakat adil dan makmur memang bukan cita-cita sederhana. Sebuah kemerdekaan politik saja belum cukup. Bahkan, seperti dikatakan Bung Karno, kemerdekaan sebetulnya barulah “jembatan emas” menuju masyarakat adil dan makmur itu.

Tetapi, meniti di atas jembatan emas pun bukan perkara gampang. Ada banyak bangsa yang jatuh saat meniti jembatan emas kemerdekaan. Sebut saja: Yugoslavia, sebuah bangsa besar seperti Indonesia, kini hancur berkeping-keping.

Kita pun mulai merasakan itu. Berbagai keterpurukan bangsa semakin merongrong semangat kebangsaan kita. Menurut George Hormat, aktivis PRD NTT yang juga mengelola portal berita NTT Zine, pemerintahan SBY telah membuat bangsa kita tidak melangkah. “Ia hancurkan jembatan itu dan kembali melompat ke seberang ngarai,” katanya.

Tetapi Trikoyo dan George sepakat bahwa cita-cita revolusi Agustus mesti dilanjutkan. Keduanya pun masih menaruh harapan akan kebangkitan semangat revolusi Agustus seperti sedia kala.

“Sebenarnya nasionalisme pada tataran emosi, rasa, itu ada. Itu tampak dari dukungan fanatis pada tim olah raga tanah air ketika berlaga di kancah internasional. Hanya saja, yang dibutuhkan lebih dari rasa, dari sekedar emosi. Kita butuh isian politik nasionalis, kita butuh ide-ide besar tentang kelanjutan masa depan revolusi Agustus 45, dan kita butuh kesatuan gerak. Ini yang belum signifikan,” kata George.

Yah, nasionalisme itu memang masih tersimpan. Ia kadang meluap-luap tatkala tim nasional Indonesia berhadapan dengan negara lain. Penguasa sendiri berkepentingan untuk mengkerdilkan nasionalisme itu. Sebab, jika dibiarkan meluap-luap dan kemudian bertemu dengan isian propaganda politik, maka sentiment nasionalisme itu bisa menjadi anti-kolonialis dan anti-imperialis. (Mahesa Danu)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut