Satu Jam Bersama Heri Latief: Puisi Sebagai Alat Perlawanan!

Puisi sebagai alat anti penindasan rakyat. Itulah sebait puisi Erosi Ilusi karya Heri Latief, yang dibacakan dengan sangat apik oleh penyair-cum aktivis perempuan, Dewi Nova Wahyuni, tadi malam.

Puisi-puisi karya Heri Latief memang sarat perlawanan. Dan dalam acara Satu Jam Bersama Heri Latief, Minggu (17/11/2013) malam, semua puisi yang dibacakan oleh Heri Latief mengandung pesan-pesan perlawanan terhadap penindasan.

Heri Latief, yang tampil sebagai bintang utama acara itu, tampil membacakan lusinan puisinya. Diantaranya: Merahnya Mawar Merah: Ibu Rusiyati (2013); Kebudayaan Jadi-Jadian (2008); Pameran Penindasan (2006); Restoran di Tong Sampah Kita (2007); Jakarta dan Mentalitas Cepe’an (2003); Keadilan Produksi Khayalan (2007; dan Budak Melayu (2007).

Kadar kritisisan puisi-puisi itu jangan diragukan lagi. Jika banyak penyair mengeritik penindasan dengan balutan eufemisme, Heri Latief justru memilih ‘tembak langsung’ di tempat. Pilihan kata-katanya pun tegas dan lugas. Ini memperlihatkan sikap politik Heri Latief, termasuk dalam berkarya, yang zonder kompromi terhadap penindasan.

Penyair Heri Latief saat sedang membacakan puisinya (Photo: Ulfa Ilyas)
Penyair Heri Latief saat sedang membacakan puisinya (Photo: Ulfa Ilyas)

Ini bisa kita lihat dalam sebait kata-katanya dalam puisi berjudul Keadilan Produksi Hayalan (2007): Sekarang semua serba mahal bos!/ Makan sekali puasa sehari di bulan Januari/ di bulan Februari ini siap tau musti mencuri/ kerna lapar meracuni pikiran nekat/ maka koruptor adalah biangnya penderitaan.

Tak hanya itu, Heri Latief juga piawai dalam menghamparkan realitas ketimpangan melalui bait-bait puisinya. Ini nampak jelas, misalnya, dalam puisinya Restoran di Tong Sampah Kita (2007): Kita sendiri tidak pernah merasakan lapar/ Di atas meja makan lauk-pauk berlimpahan/ Sampai anjing kita pun makan bistik impor!/ Sementara anak gembel itu mengais nasib/ punya restoran tong sampah rumah kita/ Mengunyah dengan nikmatnya makanan busuk!

Nuraini Hilir sedang membacakan puisinya.
Nuraini Hilir sedang membacakan puisinya.

Heri Latief adalah penyair sekaligus aktivis. Ia pernah aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Hamburg, di Jerman. Di sanalah ia, bersama beberapa kawannya, mengusung perlawanan terhadap rezim Soeharto. Itu masih di tahun 1980-an. Selain itu, Heri Latief juga mengelola milist sastra pembebasan. Tahun 2004, ia mendirikan Lembaga Sastra Pembebasan, yang rajin menerbitkan buku-buku sejarah dan sastra perlawanan.

Heri Latief, yang merayakan Ultah ke-50-nya dengan menerbitkan antologi puisi berjudul 50% Merdeka, menempatkan puisi sebagai senjata perlawanan. Karena itu, dalam setiap puisinya, selalu ada tiga yang tidak ketinggalan: kritik terhadap keadaan, penjelasan tentang siapa biang kerok masalah (musuh), dan seruan untuk bangkit melakukan perlawanan. Itu nampak pada semua puisi-nya yang dibacakan tadi malam.

Dw.jpg
Dewi Nova sedang membacakan puisi ‘Perempuan-Perempuan Gunung’ (Photo: Ulfa Ilyas)

Namun, dalam acara tadi malam itu, puisi-puisi Heri Latief tidak hanya dibaca oleh dirinya sendiri. Beberapa penyair lain turut mambacakannya, dengan gaya dan ekspresi masing-masing. Dewi Nova salah satunya. Ia membacakan dua puisi Heri Latief: Erosi Ilusi (2007) dan Rindu Api (2006).

Yang lainnya adalah Mbak Dirah, Dewi Indra Puspitasari, dan Andi Nursal. Mbak Dirah membaca puisi karya Heri Latief berjudul Bom Buta Tuli, yang mengutuki tentang aksi terorisme bom Bali, disertai pula dengan tarian khas Bali. Sedangkan Dewi Indra membaca puisi berjudul Budak Kemiskinan. Dan Andi Nursal, aktivis yang berhimpun di Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), membacakan puisi berjudul Chairil Dan Basuki (2008).

Tak hanya membaca karya sendiri, Heri Latief juga membaca puisi karya Dominggus Oktavianus, Secangkit Kopi Bersama Pram. “Saya membaca puisi ini sebagai penghormatan untuk Bung Pram (Pramoedya Ananta Toer),” katanya.

Tari Adinda (Photo: Ulfa Ilyas)
Tari Adinda (Photo: Ulfa Ilyas)

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) itu, beberapa penyair-cum aktivis juga tampil membacakan puisi karya-karyanya, seperti Dewi Nova, Nuraini Hilir, AJ Susmana, Dominggus Oktavianus, dan Tuty Widyaningrum.

Dewi Nova, yang baru saja meluncurkan antologi puisinya berjudul Burung-Burung Bersayap Air, tadi malam tampil membacakan puisi berjudul Perempuan-Perempuan Gunung. Puisi ini berkisah tentang perempuan petani kopi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yang berjuang melawan pemilik modal yang digardai oleh aparatus bersenjata.

Dominggus membacakan dua puisi dari antologi puisinya yang berjudul Kawan Dan Berlawan, yakni puisi berjudul Hari Ini (curhat kawan A kepada kawan R) dan Hari Depan (balasan kawan R untuk kawan A). Kedua puisi itu berkisah tentang asa dua aktivis gerakan rakyat tentang masa depan perjuangan.

Duet Dompak (Red Flag) dan Sahat Tarida (Photo: Ulfa Ilyas)
Duet Dompak (Red Flag) dan Sahat Tarida (Photo: Ulfa Ilyas)

Selain bertabur puisi-puisi berbau perlawanan, acara Satu Jam Bersama Heri Latief ini juga dibakar dengan lagu-lagu perlawanan yang dinyanyikan oleh Dompak (Redflag), Sahat Tarida, Tari Adinda, dan Tejo Priyono.

Dompak (Red Flag) membawakan dua lagu, Tidur Jangan dan Berjuanglah. Sahat Tarida juga menyanyikan dua lagunya: Senyum dan Indonesia, Bangkit Mandiri. Sedangkan Tari Adinda menyanyikan lagu Pejuang Sejati. Tak ketinggalan, Tejo Priyono menyanyikan dua lagu: Orasi Keliling (Orkel) dan Ternak Teri (Antar Anak, Antar Istri).

Tejo Priyono (photo: Ulfa Ilyas)
Tejo Priyono (photo: Ulfa Ilyas)

Di penghujung acara, Heri Latief menyampaikan seruan pendek. Ia hanya mengingatkan bahwa, kendati rezim diktator Soeharto sudah digulingkan, tetapi penghisapan terhadap massa-rakyat masih terus berlangsung. Apalagi di bawah rezim neoliberal saat ini. Ia mengajak kaum muda, termasuk PRD, untuk terus mengobarkan api perlawanan ke seantero nusantara.

Sedangkan Tejo Priyono selaku Ketua Jaker, ketika menutup acara ini, berpesan agar panggung-panggung kebudayaan lebih dihidupkan lagi dan diperluas hingga ke kantong-kantong pemukiman miskin.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut