Sarekat Moe’alimin, Gerakan Islam Revolusioner

Surakarta, di tahun 1920-an, adalah sarangnya gerakan Islam revolusioner. Bukan saja karena di sana ada sosok Haji Misbach, tetapi juga lahirnya gerakan-gerakan keagamaan yang disuluhi oleh pemikiran marxisme.

Sebut saja Sarekat Moe’alimin. Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh komunisme. Gerakan Moe’alimin menyelenggarakan pengajian Islam untuk memajukan Al-Quran dan Hadist, yang ditafsirkan serta dijelaskan dalam konteks Indonesia dan dengan cara revolusioner menggunakan ‘ilmu komunisme (Djohan Effendi, 2010:73).

Sudah begitu, banyak anggota gerakan Moe’alimin yang bergabung dengan Sarekat Ra’jat (SR). Lantaran itu, banyak yang menuding gerakan Moe’alimin hanyalah alat Partai Komunis Indonesia  (PKI) untuk merekrut kaum muslim putihan.

Tetapi penulis sejarah Takashi Shiraishi, dalam karyanya Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Di Jawa 1912-1926, membantah tudingan itu. Menurut Shiraishi, gerakan Moe’alimin bangkit sesudah ditangkapnya Haji Misbach pada Oktober 1923 dan sebelum berdirinya SR dan PKI cabang Surakarta pada September 1924.

Moe’alimin bukan perkumpulan dalam arti formal. Ia tidak punya hoofdbestuur (pengurus pusat), dana simpanan, kantor, ataupun keanggotan. Setiap orang bebas datang ke pertemuannya dan, karena sifatnya yang religius, selalu mendapat ijin tanpa banyak rongrongan dari Polis selama 1924 dan 1925 (Takashi Shiraishi, 1997: 443).

Dalam Islam, mualim (moe’alim) berarti ahli agama atau guru agama. Karena itu, seperti dijelaskan Shiraishi, gerakan moe’alimin sejatinya adalah gerakan misionaris Islam. Mereka menggelar pertemuan-pertemuan dan pengajian. Mereka juga menafsirkan Al-Quran dan Hadist sesuai konteks Hindia-Belanda jaman itu dan secara revolusioner menggunakan ‘ilmu komunisme’.

Menurut Shiraishi, identitas ideologis gerakan Moe’alimin bersumber pada gerakan ‘Islam Revolusioner’. Mereka banyak dipengaruhi tulisan-tulisan Haji Misbach, khususnya ‘Islamisme dan Komunisme’. Ahmad Dasoeki, teoritikus utama gerakan ini sekaligus redaktur Medan Moeslimin, sangat dipengaruhi gagasan Haji Misbach (Takashi Shiraishi, 1997: 444).

Menurut Ahmad Dasoeki, orang Islam harus ‘angkat topi’ kepada Karl Marx sebagai ungkapan terima kasih lantaran telah membantu menyadarkan kaum muslim akan musuh yang selalu merintangi, yakni kapitalisme. Cara-pandang semacam ini, yang menempatkan kapitalisme sebagai musuh Islam, sangat melekat pada Haji Misbach.

Dalam Islamisme dan Komunisme, Haji Misbach menerangkan, “kaum modal memeras kaum buruhnya tiada memandang bangsa dan agama dan tidak ambil pusing wet-wet agama yang musti dijalani orang-orang beragama…kaum-kaum buruh dimana saja selain mereka sudah mengorbankan tenaganya, fikirannya, ….enz pun mengorbankan agamanya dirusak juga oleh kapitalisme.”

Awalnya, jumlah propagandis Moe’alimin hanya sedikit. Hanya berkisar 30-40 orang. Namun, karena tidak begitu diusik oleh polisi, pertemuan Moe’alimin kian populer dan menarik kaum putihan. Gerakan Moe’alimin menyebar dari Keprabon dan Kauman ke timur (Gendekan, Sewu, dan Pasar Kliwon) dan ke barat (Purwosari dan Lawean). Bahkan, banyak pengikut Muhammadiyah yang beralih ke Moe’alimin.

Inilah salah satu keunggulan SR dan PKI di Surakarta: mereka berhasil menarik dukungan dari kaum putihan. Salah satunya melalui gerakan Moe’alimin. Ini berbeda, misalnya, dengan SR dan PKI cabang Jogjakarta, yang kesulitan berkembang karena kuatnya sikap anti-komunisme di kalangan abdi dalem kesultanan, pakualaman, dan kaum muslim putihan.

Namun, pada akhir 1925, setelah kerusuhan dalam perayaan Sekaten, SR dan PKI mulai ditekan. Pertemuan-pertemuan politik mulai dilarang oleh penguasa kolonial. Saat itu, pertemuan-pertemuan Moe’alimin mulai ditumpangi propaganda SR/PKI. Namun, penguasa kolonial dan lokal buru-buru mencium hal tersebut.

Akhirnya, mulai ada larangan diskusi politik, apalagi soal PKI, dalam pertemuan Moe’alimin. Ada cerita menarik, seperti diungkap oleh Takashi Shiraishi, tentang pembubaran pertemuan Moe’alimin oleh polisi kolonial pada tanggal 17 Januari 1926. “Semua pengunjung tidak melawan dan dengan taat mereka mematuhi perintah polisi, pulang dengan tenang sambil menyanyikan internasionale.” (Takashi Shiraishi, 2007: 451)

Kendati mulai diintai dan ditekan, tetapi pertemuan Moe’alimin jalan terus. Sebaliknya, polisi pun makin rajin mendatangi pertemuan mereka, membuat laporan, dan menghentikan pembicaraan ketika si pembicara mulai menyinggung kata-kata seperti ‘Revolusioner’ dan ‘Komunisme’.

Tak sanggup menekan pertemuan-pertemuan Moe’alimin, polisi pun mulai bertindak keras dengan melarang pertemuan dan menangkap sejumlah tokoh gerakan Moe’alimin, seperti Salamoen dan K.H Mawardi. Tak hanya itu, polisi juga makin agressif mengintervensi pertemuan-pertemuan keagamaan yang lain.

Maraknya penangkapan terhadap tokoh Moe’alimin, juga intervensi sewenang-wenang polisi terhadap kegiatan keagaman, membuat kaum Moe’alimin dan kaum putihan sangat marah. Pada tanggal 19 Februari 1926, di luar kendali PKI Surakarta, kaum Moe’alimin menggelar demonstrasi besar-besaran. Puluhan ribu orang, umumnya kaum muslim putihan, yang terlibat dalam aksi ini. Namun, polisi kolonial menindas aksi protes itu dengan pasukan berkuda.

Tak hanya itu, sejumlah propagandis Moe’alimin ditangkap, termasuk Ahmad Dasoeki. Pertemuan-pertemuan agama pun dikontrol ketat oleh polisi. Alhasil, propogandis Moe’alimin yang tersisa pun menghentikan pertemuan tablig. Di pengadilan, para propagandis Moe’alim didakwa dan dicela sebagai aktivis komunis.

Fenomena kelahiran gerakan semacam Sarekat Moe’alimin ini cukup menarik. Bagi orang sekarang, yang melihat seolah-olah marxisme dan Islam tidak punya titik temu, hal semacam itu menjadi tidak wajar. Namun, persepsi itu lebih merupakan ‘prasangka’ ketimbang tuntutan objektif. Prasangka itu sendiri tidak terlepas dari sikap anti-komunisme yang ditanamkan oleh Orde baru selama puluhan tahun.

Namun, jaman itu ada beberapa faktor yang memungkinkan marxisme dan Islamisme bersekutu. Pertama, adanya keprihatinan yang sama terhadap penindasan kolonial, yang disokong oleh bangsawan pribumi, terhadap rakyat banyak. Kedua, Islam menentang kapitalisme karena menghalalkan praktek riba, penumpukan harta, memper-Tuhan-kan uang, dan perbudakan manusia/kaum buruh. Sementara marxisme menyediakan analisa yang tajam untuk membongkar kejahatan kapitalisme. Di sinilah Islamisme membutuhkan bantuan marxisme untuk mengurai kejahatan kapitalisme dan menunjukkannya dengan mudah kepada umat. Ketiga, cita-cita marxisme yang ingin membebaskan umat manusia dari penghisapan dan eksploitasi melalui cita-cita masyarakat sosialistik bersinggungan dengan visi Islam sebagai agama pembawa ‘keselamatan’. Lagipula, ajaran Islam sangat dekat dengan egalitarianisme.

Selain itu, yang paling penting menurut saya adalah sikap SR dan PKI Surakarta saat itu yang tidak sektarian dan tidak mengabaikan peran progressif yang bisa dimainkan kaum agamawan. Karena itu, SR dan PKI justru sukses mendorong propaganda komunisme di tengah-tengah masyarakat islam.

Yani Mulyanti

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut